
Sang CEO sedikit mendekat ke tubuh Rose dan tingkah kikuknya itu kembali terjadi. Hampir satu menit berlalu, Alex berpikir apakah harus langsung menerkam gadis itu ataukah wajib berkenalan terlebih dahulu. Namun, sikap yang ia perlihatkan malah sebaliknya, bahkan dirinya kini malah menyuruh Rose layaknya Jhonny, si anak buah kesayangan.
" Kamu mandi dulu, gih! Baju sama rok kamu ada di atas meja nakas itu tuh. Cuma... jangan lama lama, ya? Saya lagi sibuk! " ketus Alex bertitah, sengaja melakukan hal itu untuk menutupi rasa gugupnya.
Rose pun segera mengangguk, kemudian berjalan menuju kamar mandi. Lima belas menit berlalu, kini gadis itu sudah selesai membersihkan tubuhnya. Ia lantas keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai jubah mandi dan menghampiri Alex dengan kepala tertunduk, seolah mengerti apa yang hendak sang CEO itu lakukan pada dirinya.
Alex yang kini duduk di atas sofa panjang, sempat sedikit tersentak melihat Rose tidak memakai baju yang ia berikan, tetapi hatinya berteriak kegirangan.
" Rose, sini!! " panggi Alex sembari menepuk bagian sofa tepat disebelahnya.
Pelan tapi pasti, Rose pun mendekat ke arah Alex, laku reaksi alamiah kembali lagi pada diri laki laki berusia dua puluh lima tahun itu.
Deg deg deg deg .....
Debaran jantung Alex sekali lagi bekerja dua kali lipat lebih cepat, Seperti laju mobil balap yang sedang dikendarai oleh seorang Michael S, dan tentu saja Rose pun merasakan demikian.
Deg deg deg deg deg .....
Usai menetralkan diri, Rose bahkan harus bergumam di dalam hatinya. " Aduh, Tuhan... Ini aku yang harus ngomong duluan atau gimana ya? Harus ngomong apaan? "
" Kok bisa jadi kepanasan banget gini ya semua badan? Sampai keringatan segala lagi! Padahal tadi AC nya udah di setel paling dingin, Wah kacau nih kalau begini terus! " gumam Alex yang ternyata bukan hanya Rose saja yang merasakan hal yang sama. Membatin sejumlah kalimat panjang lebar dalam hati seraya mencoba untuk terus saja berkomunikasi dengan daging ajaib di pangkal pahanya.
Semua itu bukan tanpa alasan, sebab selama ini Alex selalu membiasakan diri, Menenangkan cara kerja juniornya yang entah mengapa selalu saja menuntut pelepasannya nyaris di setiap harinya.
" Ma...af, Me.... mangnya, Em, itu.... Me... Mangnya pe...ker...jaan ap..a yang ha...rus... saya laku..kan ya, Pak? " dengan segala keberanian meskipun terbata akibat rasa malunya bercampur dengan sedikit ketakutan, Rose berhasil menyuarakan apa yang menjadi tanda tanya besar di dalam dirinya sedari tadi.
Deg deg deg deg ....
Dengan begitu Alex tidak perlu repot repot lagi memikirkan kalimat apa yang harus ia lontarkan kepada Rose. Meski begitu, tetap saja jantungnya tidak bisa bekerja seperti biasanya.
Terdengar helaan nafas berat dari kedua rongga hidung Alex dan ia melakukan hal tersebut untuk menghilangkan rasa gugup yang menderanya barusan.
" Sini dong, Rose The Houteen! Duduk di sebelahku ini yuk. Aku mau lihat wajahmu dulu. " titah Alex, menepuk nepukkan tangan kirinya ke sofa.
Suara yang sengaja diperhalus pun akhirnya keluar juga. " Rose The Houteen, ker--- "
" Panggil nama depan saya aja, Pak. Rose. " dengan cepat gadis itu mengatakannya sehingga membuat jantung Alex berdebar debar kembali.
Sangat tidak sopan, tetapi pada kenyataannya hal itu berhasil membuat Alex tersenyum manis. Memperlihatkan wajah yang terlihat semakin tampan di mata Rose dan membuat kesehatan jantungnya semakin fatal.
" Ya, sudah kalau itu mau kamu. Rose, jadi pekerjaan kamu itu adalah .... Ekhem! "
Tenggorokan Alex seketika tercekat. Sedikit gugup untuk kesekian kalinya, akan tetapi ia akhirnya berbicara juga karena desakan dari sang junior di bawah sana.
Ujung kalimat Alex yang menggantung, menciptakan satu pertanyaan konyol bagi Rose yang keluar begitu saja tanpa di duga sama sekali oleh lawan bicaranya. " Adalah apa, Pak? Kok adalah? Memangnya adalah itu nama pekerjaan ya, Pak? "
" Hahaha.... Bukan, Rose. Adalah itu sejenis kue lapis legit yang di makan pakai mayones. Hahaha! " Alex ketawa sampai menggema di kamar itu beberapa menit, guyonan garing yang selama ini dia tidak pernah lontarkan untuk wanita lain manapun.
Alex tidak menyangka dia bakal bisa bersikap konyol seperti itu, lebih lebih ketika rengekan manja milik Rose terdengar mendayu di telinga sang CEO.
Berniat untuk kembali bercanda, ternyata yang Alex lakukan malah sebaliknya.
" Kamu masih perawan, kan? "
" Ii-ya, Pa-k. Sa-ya ma-sih pe-ra-w-an. " Rose dengan terbata menjawab pertanyaan Alex dengan terkejut dan gugup serta takut.
" Jangan takut. Sekarang kamu lihat aku, ya? " sadar akan hal itu, secepat kilat Alex menarik dagu Rose, dan berusaha keras untuk menenangkannya.
Kedua mata cantik itu kini menatap wajah tampan Alex, menciptakan satu reaksi alam terjadi dalam diri sang CEO muda itu.
" Busyet, dah ..... Cantik amat sih, dia! Bibirnya juga tebal lagi! Duh, Gue paling demen nih yang begini. Pasti enak bangat kalau si junior dipuaskan sama bibir dan mulutnya dia. Di mainin ujungnya pakai lidah, terus nanti rambutnya gue acak acak gitu biar kesan erotisnya dapat ya, kan? Iya gak sih, Jun...? Ugh... " batin Alex bertanya sang junior yang sudah mengeras di balik boxer.
" Ehem ... Bapak? " Untung saja Rose segera berdehem sembari menyentuh punggung kanan Alex. Jika tidak entah apa yang akan CEO itu pikirkan lagi di benaknya.
" Egh, Em... Jadi gini, Rose. Kamu lagi butuh duit kan? "
Menahan rasa malu, Alex oun bertanya dan mendapatkan jawaban berupa anggukan dari kepala Rose dengan cepat.
" Aku akan kasih kamu uang yang banyak, asalkan kamu apa mauku, bisa? "
" Iy-iya Pak. Bisa. "
" Jangan panggil bapak, panggil namaku saja, Alex. Coba sekarang kamu panggil namaku. ''
Ales masih belum menceritakan apa pekerjaan yang akan Rose lakukan yang sedari tadi sudah ia janjikan kepadanya. Dirinya bahkan berubah menjadi seperti seorang guru sekolah dasar, menyuruh gadis itu menyebutkan dan memanggil namanya.
" Egh, iya. Ale-x. " Rose yang sedang kikuk pun mengikuti perkataan Alex.
" Ssst... Jangan kayak gitu, sayang. Ngomongnya yang lembut dong! Alex... gitu. Coba sebut sekali lagi. " Laki Laki itu tampak tidak puas dengan jawaban yang diberikan Rose. Ia bahkan secepat kilat mengajari, bersama suaranya yang sedikit mendesah akibat aksi menggeliat si junior di bawah sana.
" Alex.... "
" Nah, gitu dong Kan, aku dengarnya jadi berasa gimana gitu, sayang. " sahut Alex ketika suara Rose sudah sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Alex merasa semua yang terjadi barusan itu adalah cara agar suasana bisa sedikit mencair, dengan sebuah topik pembicaraan konyol, tentang melembutkan intonasi bicara. Harapan sang CEO semoga saja Rose menjadi patuh padanya dan tidak merasa kikuk saat bersamanya seperti sekarang ini.
" Rose ... " Alex pun mulai membelai pipi gadis itu dengan punggung tangannya.
" Kamu cantik. Jadi aku akan ajarin kamu untuk memuaskan aku sekarang. Kamu mau, kan? " tanya Alex masih bermain dengan wajah cantik di hadapannya.
Tanpa menunggu jawaban dari Rose, Alex pun memegang tangannya dan menuntun ke tempat dimana sang junior yang sekarang sudah amat tegang.
" Coba kamu sekarang ..... "