
"Udah dong, Mam. Itu bukan salah mama. Memang Tuhan sudah menggariskan takdir si Rose bakal melahirkan hanya di usia kandungannya yang ke tujuh bulan aja, Mam. Sini papa peluk," ujar Tuan Guen menenangkan Nyonya Milea.
"Tadi pagi itu mama yang paksa Rose turun ke bawah buat makan masakan mama, Pap. Harusnya biar Mbak Pesta yang anterin ke kamar, karena dia gak enak badan gitu katanya," lirih Nyonya Milea menumpahkan air matanya.
"Ssst.... Udah takdir, Mam. Lagian juga sebentar lagi mama bakalan punya cucu perempuan yang cantik kan? Jadi-----"
"Kita belum tahu jenis kelaminnya kali, Pal! Jangan bikin mama senang. Kalo yang lahir laki laki bagaimana? Papa mau lihat mama down, terus mama jadi galakin Rose biar dia cepat cepat hamil lagi?'' kesal Nyonya Milea memukul dada suaminya.
"Mam, mereka emang tiap periksa kehamilan gak pernah mau dokter kandungan yang tadi bilang jenis kelamin anak mereka apa. Tapi, pas papa tanda tangani surat operasi barusan itu, Papa sempat tanyain jenis kelamin cucu pertama papa itu apa," jelas tuan Guen mengusap punggung belakang Nyonya Milea.
"Hah, papa serius?''
"Ya iyalah. Masa ya iya dong! Papa kan kepo," celetuk tuan Guen tersenyum memandang wajah Nyonya Milea yang lucu akibat mimik terkejutnya.
"Jadi apa? Laki laki apa perempuan, Pap?'' tanya Nyonya Milea yang penasaran juga.
"Rahasia.... Mama jangan ikutan kepo dong. Berat itu, biar papa aja. Oke?''
"Papa! Dasar bule gila!" geram Nyonya Milea akibat ulah tuan Guen yang menirukan jargon film dilan.
"Nah, gitu dong. Mama kalo ngomel ngomel, papa lebih suka daripada nangis bombay gak jelas. Dan.... Mama gak usah kepo dulu sampai Rose keluar dari kamar operasi ya? Pokoknya papa jamin mama pasti bahagia setelah cucu kita lahir. Soalnya dia bakalan bikin hidup mama berwarna, setelah papa enggak bisa mewujudkan impian terbesar kita dulu. Oke? I love you, Milea. Cup," gombal tuan Guen mencuri kecupan singkat di bibir sang istri.
"Guen....."
"Aduh-duh! Ampun, Mam!'' Nyonya Milea yang malu akibat ulah tuan Guen terlihat oleh seorang perawat, pun mencubit perut suaminya tanpa ampun.
*******
"Bego! Kenapa lo gak bilang kalo hape lo lowbat juga, Oncom! Terus kita pas landing nanti pake hape siapa buat tanya ke papa dimana rumah sakitnya?!'' panik Alex di atas kursi pesawat.
"Ck! Ribet bangat sih, Bos. Itu ada Pilot sama CO-Pilot kan di depan lagi nyetir pesawat?" sahut Jhonny menunjuk ke arah ruang kordit pesawat, "Pinjam dong sama mereka. Masa salah satu dari mereka gak punya nomor hape Bos Gede? Anak buah macam apa itu. Iya kan?'' lanjut Jhonny melontarkan idenya.
Alex pun berhenti berceloteh, tapi hal itu tidak bisa membuat hatinya tenang. Puluhan bahkan mungkin ratusan kata ia lontarkan pada sang Empunya dunia, hanya dengan satu harapan agar sang istri dan calon anak baik baik saja.
"Apa? Marah?! Lo paham gak sih, kalo gue lagi deg deg an parah? Bini gue lahiran, Oncom! Gue buang juga nih laptop lo lewat pintu darurat, atau sekalian sama lo juga gue buang!" kesal Alex menutup laptop milik Jhonny dan mengamuk tak henti hentinya.
"Maaf, Bos. Udah kebelet gak pernah gituan lagi sejak berusaha merubah diri biar bisa dapatin si Jen, Bos. Jadi ya bisanya nonton bokep aja sambil out in sendiri," sahut Jhonny dengan cengiran khasnya.
"Kampret lo!"
"Kebutuhan kali, Bos. Si Bos mah enak tinggal nusuk. Kan udah halal. Masa enggak ngerti, Bos. Balikin ya, Bos? Gue nonton di kursi paling belakang deh," tawar Jhonny dan Alex yang kesal pun melempar laptop itu kepangkuan anak buahnya.
Setelah mendapat laptop tersebut, Jhonny berdiri dan langsung pergi ke kursi belakang, "Makasih, Bos. Permisi dulu ya, Bos? Selamat berdoa, Bos."
"Banyak bacot! Pergi gak lo cepetan sana! Bikin emosi aja!'' Jhonny juga menyempatkan diri menggoda Alex yang tiba tiba sudah berubah seperti singa lapar hendak menerkam musuhnya.
********
"Halo, Pap?! Ini Alex, Pap. Alex baru landing di bandara Halim. Jadi rumah sakitnya dimana?" tanya Alex ketika panggilan telepon tersambung.
"Loh kamu, Lex?! Papa pikir kapten Adit yang telepon," kekeh tuan Guen dan Alex tersentak akibat suara tawa itu.
"Papa! Alex tanya Rose di rumah sakit mana di rawat? Kok malah ketawa sih?!'' kesal Alex di ujung telepon, ''Cepetan ngomong dimana?!
Ini pulsa orang jalan terus nih, Pap!" lanjut Alex kembali ngamuk sekenanya.
"Di rumah sakit pondok wangi, anak nakal! Makanya hape itu kalo malam diisi baterainya. Jangan sibuk vidio call aja sama si Rose. Lagian di pesawat kenapa gak minta kapten Adit buat charger hapemu?" sahut Guen di ujung telepon, "Ya, udah. Cepat kesini! Anakmu sudah lahir!'' sahut tuan Guen balik mengomeli anak semata wayangnya.
"Loh, udah lahiran?!'' pekik Alex dengan wajah berbinar binar.
"Sudah dong. Tungguin kamu datang dan tanda tangan surat operasinya kelamaan kali! Jadi, Papa wakili aja," jelas tuan Guen di ujung telepon, "Bayi sama ibunya sehat, gak kurang satu apapun, dan jenis kelaminnya....."
"Jenis kelaminnya apa, Pap?! Cowok atau cewek?"
"Rahasia!'' sahut Guen menutup sambungan telepon tersebut.