I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 20



"Aku mau minta satu hal sama kamu sebelum kamu melakukannya Lex. Cuma aku----"


"Katakan, sayang. Aku akan kasih semua yang kamu mau. Apapun itu!'' potong Alex mencoba menyakinkan Rose, bahwa dirinya tidak akan menyakiti si gadis cantik kesayangannya itu.


"Tapi ini bukan barang, Lex. Apa yang sudah kamu kasih ke aku dari kemarin sudah lebih dari cukup. Cuma aku maunya kamu gak akan bayar perempuan lain lagi buat si jun untuk melakukan apa yang sudah menjadi kebiasanmu. Kalau kamu lagi mau, ya kamu bisa suruh aku, karena aku-----''


"Aku janji, sayang! Kamu gak perlu khawatir. Aku janji si jun cuma buat kamu sekarang. Gimana, udah plong?" sanggah Alex tersenyum penuh arti dan itu terlihat sangat tulus.


Rose segera mengangguk dan menarik dua sudut bibirnya, mengikuti apa yang Alex katakan. Tanpa di duga gadis itu pun mencuri satu kecupan singkat di bibir sang CEO.


"Ugh.... si jun makin melayang nih, sayang. Kita sama sama berolahraga, ya? Kamu setuju kan, sayang?" celetuk Alex memainkan sebelah alisnya.


Rose mengangguk lagi tanpa menjawab, tetapi bagi Alex itu sudah cukup membuat perasaannya sangat lega, karena apa yang ia lakukan saat ini memang berdasarkan rasa suka sama suka.


Pelan tapi pasti, Alex pun kembali menghadiahkan kecupan kecupan kecupan kecil nan manja untuk Rose.


"Ugh, sayang.... this is so beatiful.... Sama kayak di vidio call kemarin." lirih Alex membuat Rose sedikit malu dan menghindar.


"Eits! Gak boleh curang ya, sayang? Tadi kan, aku udah minta ijin. Tuh, sayang, gak boleh curang dong... Oke?" kekeh Alex menahan kedua pergelangan tangan Rose.


Membuat Rose kian merona dan masih ingin berkilah. " Tapi, lex... Aku malu. Aku----''


"Ssstt.... Gak perlu malu, sayang. Nanti kamu bakal rasain kayak gimana, Eh tapi kok ini gak ada--?" potong Alex menyela kegundahan hati Rose, tapi kemudian dengan begitu polos, ia mengeluarkan pertanyaan yang terdengar begitu konyol.


Rose yang sudah deg deg an pun menjadi heboh tertawa dan ia benar benar merasa lucu dengan tingkah lucu sang CEO.


"Masa sih gak ada, Lex? Kamu cari dong kalau penasaran. Kamu suka bercanda deh." jawab Rose membuat Alex dengan sedikit membulatkan matanya.


Merasa sedikit canggung, Alex lantas mencoba mencari tersebut dengan secara pelan pelan. Namun, karena matanya tak juga menemukan apa yang dia cari, ia pun memberanikan diri. laki laki itu langsung menggunakan cara lain sehingga membuat Rose segera mengerang.


"Alex, Ough....."


"Egh! Beneran ada, Sayang. Aku pikir gak ada. Hahaha, aku sampai---"


"Lex.... Aku masih perawan. Maksud kamu apa? Makanya kamu buat kayak tadi? Sakit tahu!" kesal Rose menaikkan punggungnya dan menatap tajam wajah tampan Alex.


"Aku cuma mau pastiin aja kok, sayang. Jangan marah ya? Nanti aku ajarin biar buat nambah pengalaman kamu. Nih, ya kita mulai sekarang aja." kekeh Alex dan langsung mengedipkan matanya.


"Ough, Alex...."


Rose secepat kilat menjambak rambut hitam Alex yang sudah memulai dan runtuhlah topangan tangannya sudah.


"Enak gak, sayang?" tanya Alex dengan lembut.


Ingin menjaili Rose, Alex pun melakukan sesuatu di sana. " Sayang, oke gak nih? Kalau gak oke aku bakalan berhenti aja-----"


"Iya! Ee--enak, Lex. En--- ouh... " Terbukti itu membuat wanita cantik itu, bahkan kini Rose sudah tidak sanggup lagi melanjutkan semua rancaunya.


Hal tersebut tentu saja karena Alex dengan beringas mengelus lembut kembali punya Rose. Pria itu merasa sangat ganas di sana, lebih lebih hal itu juga sukses membuat jun semakin semakin, padahal tidak ada siapa pun yang memberi rangsangan.


"Alex.... Ough..... Enak, Lex.... Enak...."


"Slurp! Hemph! Slurp!"


"Ach.... Geli... Geli bangat, Lex... Geli bang--- Ouh, yeah!"


Alex terus aja bermain main kecil dan secara otomatis, bibir gadis itu tidak berhenti untuk kian keras meracau dan menjeritkan namanya berulang ulang kali. Jujur saja, hal itu benar benar menyiksa bagi dirinya, karena itu lah tiba tiba saja ia memutuskan untuk menghentikan permainannya.


Merasa sangat kehilangan, spontan saja Rose melotot dan melihat ke arah Alex.


"Lex, kok berhenti sih?" tanya Rose yang seketika itu juga membuat Alex tertawa, padahal Rose bisa melihat bahwa masih ada kenikmatan dari bukti gairah si gadis kesayangannya itu.


Merengek langsung ke hadapan Rose , Alex tanpa malu memperlihatkan sesuatu di depan wajah cantik Rose.


"Sayang, kita barengan aja iya olahraganya? Soalnya gak lucu kalau tiba tiba si jun out sendiri gitu, kan?" ujar Alex usai dirinya berhenti.


Hal itu karena jun semakin mekar seperti seperti bunga dan minta untuk segera diolahragai juga. Jadi, tanpa meminta sebuah persetujuan lagi, Alex segera langsung bergegas tanpa berlama lama.


"Lex... tapi ini cuma hanya saling olahraganya yang seperti ini aja kan, kayak biasa aja kan? gak seperti hubungan suami istri, kan?" tanya Rose yang sedikit panik dan tertunduk di tempat tidur.


Seketika itu pula, Alex menatap Rose dengan pandangan terkejut sekaligus geli. Ada rasa bahagia karena ia merasa dirinya tidak salah berjanji hanya gadis tersebutlah yang akan memuaskan dirinya di hari hari ke depan nanti, juga sedikit khawatir jika ternyata hubungan mereka tumbuh subur menjadi sangat serius, lalu terganjal oleh restu dari keluarga besar The Laode.


Menutupi semua pemikiran toxic itu dari dalam dirinya, yang Alex lakukan adalah segera tergelak, lalu di tiga detik berikutnya ia pun menjawab pertanyaan Rose dengan jawaban menenangkan.


"Ya iya dong, sayang. Kita saling berolahraga aja ini namanya. Biar sama sama enak. Gak harus saling berhubungan yang lebih lagi karena kan itu nanti buat pasangan kita. Gimana? Mau ya?"


Ada perasaan lega di hati Rose setelah mendengar perkataan Alex. Namun, ada pula rasa sedikit tidak rela yang tiba tiba saja melintas akibat dari cara bicara sang CEO. Yaps, benar sekali. Ia menyebutkan jika acara hubungan intim tersebut, nantinya diperuntukkan khusus untuk si pasangan hidup dan orang itu belum tentu dirinya.


"Aku harap kamulah pasangan dari tulang rusukku, Rose. Walaupun gak betul betul yakin, karena sikap mama yang jelas akan menolak kamu mentah mentah." batin Alex menatap wajah cantik Rose, membawa telapak tangannya untuk singgah di sepanjang rahang mulus gadis kesayangannya itu.


Bersama dengan kelopak mata yang tiba tiba saja terpejam, gelenyar panas itu muncul kembali, menghidupkan lagi api gairah di dalam diri Rose.


"Lex..... "