I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 31



Rose bersiap siap menuju kampus yang kemarin ia kunjungi bersama Jhonny, untuk mengikuti ujian masuk penerimaan mahasiswa/ mahasiswi baru. Hanya saja pagi itu ia tak lagi ditemani oleh Jhonny, melainkan Pak Toni, supir di keluarga The Laode yang sudah menunggu di lobby apartemen.


Tentu saja hal tersebut akibat Jhonny yang harus pergi ke Sidoarjo, mengawasi pergerakan Manager Engineering.


"Non Rose ya?'' tanya Pak Toni mencoba menyakinkan saat melihat seorang gadis baru saja berjalan mendekat ke arahnya.


"Iya. Anda Pak Toni yang----"


Iya, Non. Mari saya antarkan,'' sahut Pak Toni sedikit membungkuk.


Rose pun senyum sumringah, lalu berjalan mengikuti langkah pria empat puluh tahunan itu ke mobil yang biasa dipakai Jhonny.


Tiga puluh menit berlalu setelah berhasil keluar dari kemacetan panjang kota Jakarta di pagi hari, Akhitnya sampailah Rose di pelataran parkir kampus yang akan menjadi tempat ia meraih mimpi dan cita cita.


"Pak Toni, makasih ya? Tinggal aja, saya gak apa apa kok. Tadi kan bapak sudah  jelaskan arah jalan untuk pulang ke apartemen. Jadi nanti kalau udah selesai tes, saya pulangnya naik taksi aja.'' tutur Rose, tapi tak mau diindahkan oleh pak Toni.


"Aduh, Non. Gak usah pulang aja. Biar Bapak tungguin sampai selesai disini gak apa apa. Soalnya Pak ALex itu super galak, Non. Bisa habis gaji saya dipotong kalau tinggalkan Non sendirian disini.'' sahut Pak Toni, yang balas dengan helaan nafas pelan Rose.


"Oh, gitu. Ya udah deh. Tapi benaran kan Bapak gak keberatan tungguin saya, Pak? Soalnya saya gak enak, Pak.''


"Gak apa apa, Non. Ayo, Non. Masuk aja udah gih, nanti keburu ujiannya di mulai.'' usul Pak Toni.


Rose pun segera turun dari mobil, lalu berjalan masuk ke dalam kampus dan meninggalkan Pak Toni sendirian di pelataran parkiran. Ia bergegas mencari di mana ruangan tempat ujian masuk gelombang terakhir bagi calon Mahasiswa/ Mahasiswi baru itu di gelar, dengan cara bertanya pada seorang pekerja yang terlihat memakai atribut kampus.


"Oh, ruangannya di lantai dua. Naik tangga terus jalan aja lurus ke sayap kanan kampus. Nah, disitu deh ruangannya. Yang lagi ramai itu loh, Dek,'' jawab orang itu, langsung diberi ucapan terima kasih oleh Rose.


Kakinya pun berjalan menuju ke arah tangga kampus, tetapi satu pekikan keras membuatnya menoleh kebelakang.


"Rose! Rose, tunggu!''


"Boy!'' sahut Rose, berdiri di tangga pertama.


"Hai! Pagi!'' sapa Boy, calon mahasiswa baru yang kemarin ditabrak Rose.


"BAru datang? Yuk, naik,'' jawab Rose kikuk.


"Iya, nih. Kamu udah tau dimana ruangannya?''


"Belum sih. Cuma kata bapak dibawah tadi, ruangannya ada di lantai dua dan di sayap kanan. Jadi nanti kita cari sama sama deh. Kita bakalan satu jurusan kan?'' sahut Rose, membuat Boy terkekeh. Laki laki delapan tahun itu pun tiba tiba saja memegang pergelangan tangan si cantik, dan menariknya untuk lekas sampai ke lantai dua.


"Ih, Boy. Udah gak usah dipegang tanganku. Malu tuh dilihatin orang orang.''


"Udah biar cepat sama gak hilang lagi kamunya kayak kemarin. Kenapa? Takut pacarmu marah?'' kekeh Boy, tak mau melepaskan genggaman tangannya.


"Yang kemarin? Si Jhonny maksudmu?''


"Iya, itu deh. kemana dia? Tumben gak ngikutin kamu sampai ujian kelar?'' selidik Boy ingin tahu.


"Oh, dia ke Sidoarjo. Ada urusan pekerjaan.''


"Good. Kerja juga dia. Aku kira kerjanya cuma ikutin kamu aja ke mana mana, ya rugi dong. Masa mau pacari anak orang tapi gak cari modal.'' kata Boy.


"Apaan, sih. Gak gitu juga kali. Si Jhonny itu bukan pacarku. Tapi anak buahnya Alex. Karena Alex lagi ada kerjaan di Singapura, makanya dia kemarin yang disuruh untuk antar aku buat daftar kuliah.'' polos Rose, mulai bercerita.


Hal itu tentu saja sangat menyenangkan ditelinga Boy, karena ternyata ia dengan mudah mengorek informasi tentang gadis incarannya.


"Terus Alex siapa? Dia yang pacar kamu?'' selidik Boy lagi.


Namun, Rose bungkam dan bergeming di tempat, sehingga Boy pun ikut menghentikan langkahnya.


"Loh! Kok malah berhenti, sih? Ayo, Rose. Mau ikut ujian masuk gak nih?''


"Hem...'' dehem Rose berjalan lebih dulu.


Ingin sekali lagi Biy bertanya sembari menangkap pergelangan tangan Rose agar berjalan beriringan dengannya. Namun, mimik gadis itu terus saja masam, tanpa sumringah.


"Siapa Alex? Aku gak tau siapa dia buat hidupku sekarang ini, Boy. Kami lagi marahan juga. Nih, sampai sekarang dia belum hubungin aku. Padahal aku bisa kuliah itu karena biaya dari dia.'' batin Rose terus melangkahkan kaki.


Mereka akhirnya sampai di depan kerumunan orang yang menunggu pintu ruangan dibuka. Rose yakin itu adalah ruangan yang mereka cari, karena si cantik Riri, teman baru Rose ada di sana.


"Rose! Ugh.... Akhirnya lo datang juga! gue whatsapp dari pagi, eh centang satu aja terus. Lo gak punya pulsa atau data? Kan gue mau jemput sekalian tadi itu. Huh, gak asyik lo mah,'' omel Riri langsung merangkul tubuh Rose.


"Maaf, Ri. Aku lupa nyalain ponselku. Soalnya ribet. Kan mau fokus buat ujian ini,'' sahut Rose, mulai tak menggubris Boy.


"Alah, lo mah alasan aja. Kenapa semalam kita chat sampai lo ketiduran bisa? Pasti lo ikutin kata kata gue buat matiin ponsel, biar cowok lo kelimpungan di Singapura terus cepat pulang ya, kan? Hen.... Tau gue mah isi kepala polos lo ini,'' Riri berseru dengan suara cemprengnya.


Rose hanya bisa tersipu dengan telunjuk yang sudah berada di bibirnya, dan hal itu sukses membuat Riri semakin menggodanya. Namun, ocehan itu dianggap bom untuk Boy, karena nyatanya ia kini mengetahui jika Rose ternyata sudah memiliki kekasih.


Sayangnya Boy tak peduli dengan kenyataan yang ada, sebab peri hitam dalam dirinya terus bersorak,, menyuruhnya untuk terus merebut hati Rose.


Sementara itu di dalam ruangan rapat yang berada puluhan mil dari kota Jakarta, sebuah perdebatan alot kembali terjadi akibat argumentasi yang Luke Chang katakan.


CEO Adara Corporation itu membangun opini dengan tujuan mengiring para peserta meeting, dan tentu saja isinya melenceng dari topik utama mereka.


"Aku katakan ini demi kemajuan The Laode Corporation, Bro. Kalo kamu gak mau terima ya terserah! Niki sendiri sudah berkali kali menjelaskan bagaimana cara si brengsek itu memanipulasi proses produksi dengan bahan yang berasal dari bagian engineering, bukan? Maka sistem di bagian engineering yang harus diganti duluan baru bagian produksi yang digenjot bersamaan dengan bagian marketing! Bukan hanya sekedar memenjarakan si pengacau itu aja!'' suara Luke terus meninggi.


"Itu urusan gue, Luke! Lo gak perlu ikut campur sampai harus nyuruh beberapa tim yang lo bilang terbaik termasuk detektif cantik lo ini untuk hadir di pabrik gue! Apa lo pikir Papa juga bakalan t


erima keadaan ini? Kalian bagian dari keluarga Mama! Papa paling gak suka ketika komitmennya dengan Mama dirusak oleh orang lain, karena The Laode Corporation dibangun tanpa campur tangan dari pihak manapun, termasuk Grandma dan Grandpa gue di Madrid! Jadi lo pikir nanti Papa gak bakalan tersinggung, saat semua sistem kerja lo yang ngatur meskipun lo ada disini? Terus kerja gue apa, Haha?! Sialan lo!'' Alex memuntahkan amarahnya.


Suasana tegang terasa sekali di sana, dan lebih tegang lagi bagi Alex karena Niki datang di tengah rapat dengan pakaian super kekurangan bahan.


Ira yang super seksi, bahkan berulang kali menarik kursinya agar dekat dengan Alex, dengan tujuan agar sang CEO terus menyadari keberadaannya.


"Ugh! Kapan meeting sialan ini bakalan selesai, sih! Kenapa juga si Luke gila ini bawa cewek setengah bugil ini kemari? Itu buah kepala di dada sampai hampir tumpah keluar kan! Gila nih bule! Kalo kayak gini caranya, gimana gue gak ingat terus sama Rose coba? Lah, si Jun makin panas dingin tuh! Brengsek lo, Luke!'' batin Alex panas dingin.


Proses saling melempar argumen kembali terjadi di sana, higga kahirnya setelah hampir enam puluh menit waktu berputar. Maka selesai juga meeting alot dengan bermacam tema di dalamnya.


Alex segera keluar ketika Luke baru saja selesai mengucapkan salam, dan seperti terhipnotis oleh sang tuan, tujuh orang lainnya dari The Laode Corporation pun serentak berdiri lalu meninggalkan ruangan rapat dengan sedikit gaduh.


"Pak! Bapak mau kemana, Pak! Tunggu dulu,'' kejar Ira di belakang Alex.


"Ck! Gue laper! Muak gue lihat muka si Luke yang sok bosky gitu. Apa dia pikir The Laode Corporation sama kayak Adara yang dia beli setelah pailit? Karena sudah mulai merangkak dan kemarin kemarin harga sahamnya juga mulai bersaing di dua puluh besar versi Bursa Efek Singapura, jadi dia bisa seenaknya gitu menjabarkan apa yang ada di kepala otaknya tentang mutu dan standarisasi beberapa pabrik kita? Heh, benar benar minta gue cincang tuh orang! Brengsek!'' umpat ALex yang kini sudah berada di dalam lift bersama timnya.


"Sabar, Bos. gak usah ditanggapi apa yang kelaur dari objek inti meeting kita dengan mereka tadi. Mereka hanya--''


"Kalau begitu, kenapa tadi lo diam aja pas gue lagi debat sama si Luke gila itu, Hah? Sekarang aja baru lo mulai bacot! Jadi pengen makan orang gue!'' Alex mengamuk dan memotong ocehan Badron.


Semua mulut yang berada di dalam lift pun diam seketika, dan tiga menit kemudian mereka sampai di lobi Adara Corporation.


"Pak, mau makan di mana?'' tanya Ira sedikit berhati hati.


"Ikut aja kalian semua! Gak usah banyak nanya!'' sahut Alex melangkah keluar dari sana.


Delapan kepala itu pun naik ke dalam tiga mobil sedan metalik, aset The Laode Corporation yang berada di Negeri Singa, lalu melaju dengan tujuan mencari ganjalan perut.


Alex yang berada pada iring iringan mobil paling depan pun menutuk Badron untuk masuk ke sebuah restoran seafood paling ramai ditengah kota, tetapi Ira tidak suka dengan pilihan sang Tuan.


"Pak, kalau makan makanan laut itu nanti anunya amis kali. Makan di tempat lain aja ya?'' bisik Ira yang duduk tepat disebelah Alex.


"****! Apa maksud lo?'' ujar Alex ikut berbisik.


"Ya itu, Pak. Si burung beo nanti jadi bau amis kalau Bapak suka makan udang, kepiting atau ikan ikan gitu. Mendingan makan daging merah atau sayuran segar aja kayak biasanya, Pak. Rasanya beda dan lebih----''