
Prang!
"Mama bohong! Katakan, Ma! katakan dimana mama sembunyikan Rose!''
Prang!
Dua lukisan yang berisi gambar mereka bertiga, menjadi sasaran kemarahan sang CEO.
"Alex, cukup!'' teriak Guen pada akhirnya.
"Enggak! Alex gak mau berhenti sampai mama ngaku! Mama yang sudah bawa Rose pergi,Pap! Mama pelaku---''
"Bukan! Bukan aku, Guen! Bukan aku!'' histeris Nyonya Milea sedikit ketakutan.
"Mam, tolong jujur sama papa! Mama gak boleh terlalu memaksakan kehendak Mama kayak begini! ALex juga anak papa, Mam! Bukan hanya anak mama sendiri!''
"Tapi mama gak tau, Pap! Mama---''
Prang!
"Mama bohong!''
Prang!
"Mama bohong, Pap! Dulu juga mama bilang gitu waktu mama tampar Nani dan suruh dia pergi dari Alex! Mama gak mau ngaku sampai akhirnya CCTV kantor jadi saksi kan?'' teriak Alex setelah televisi layar datar empat puluh dua inch ia banting ke lantai, "Jadi jangan percaya sama omong kosong Mama, Pap! Jangan perc---''
"Alex, jangan!'' teriak Guen memeluk tubuh anaknya.
Ya, Alex memang tiba tiba berubah seperti banteng yang mengamuk dalam arena, bahkan ia hampir saja menerjang tubuh bergetar Nyonya Milea yang masih terduduk di atas sofa ruang tamu.
Alhasil, kedua pria berbeda usia itu pun kini berada dalam satu ruangan tertutup dan terkunci, karena memang Tuan Guen sengaja melakukannya demi keamanan sang putra.
"Katakan! Apa yang papa harus lakukan, Alex?'' ujar Guen setelah memaksa Alex duduk di pinggir tampat tidur.
"Alex mau papa paksa mama untuk jujur, Pap. Mama sedang berbohong saat ini! Harusnya papa bisa menilai sendiri, karena selama ini papa tau bangat kan kayak apa tingkah mama kalo sudah salah, tapi gak mau mengalah dan gak mau mengakui kesalahannya?'' Ayahnya pun ikut duduk disebelah Alex.
"Oke! Itu juga yang papa lihat dari tadi. Hanya saja, Mama tidak bisa dipaksa dengan cara kekerasan. Kamu paham kan? Kita ambil contoh, akhirnya dulu Nani menerima pinangan dari laki laki lain efek sikap mamamu. Jadi---''
"Papa tolong jangan terlalu lama, Pap! Bisa jadi Rose juga berpikir dua kali untuk nikah sama Alex!'' sanggah Alex yang terlihat sangat frustasi.
"Ini gak akan lama, Nak. Percaya sama papa. Cara ini sudah pernah juga papa gunakan, waktu mama kamu hampir menyerah dan minta cerai sama papa waktu papa gak sanggup kerja keras membangun The Laode Corporation yang baru mulai merangkak dan butuh banyak dana. Jadi kamu dengarin apa kata papa, lakukan dan kita tunggu hasilnya paling lambat satu minggu dari sekarang. Oke?'' ujar Guen langsung melontarkan sejumlah jurus yang menurutnya paling ampuh.
"Enggak mau! Alex bukan laki laki yang kayak gitu lagi, Pap!''
"Itu hanya trik, Alexander The Laode! Kamu mau mama kasih tau dimana dia sembuyikan pacar kamu itu gak? Kalo gak mau ya kamu paksa aja sana mamamu untuk bicara jujur! Asal ingat! Jangan coba coba kamu pukul mamamu, karena kamu akan berurusan sama papa!'' kesal Guen, bersiap untuk bangkit dari posisi duduknya.
"Papa mau kemana?!" cegah Alex mearik pergelangan tangan sang Ayah.
"Mau keluarlah. Orang kamu gak mau nurut sama ide papa kok! Untuk apalagi papa bicara sama kamu? Cari pacarmu sendiri aja sana!''
"Pa, jangan gitu dong! Papa harus bantuin Alex!''
"Ya udah nurut apa kata papa tadi! Itu kan cuma pura pura, Alex. Lagian juga papa pasti bantuin, asal kamu lakukan apa yang papa bilang!'' tegas Guen, "Setelah itu, tinggal aja papa sindir sindir mamamu. Beres kan? Pasti dia ikut apa kata papa. Gimana, setuju?!''
"Ya udah. Alex ikutin saran papa deh. Asal aja Rose cepat kembali sama Alex,'' jawab sang CEO, menyetujui rencana ayahnya.