
Brak!
Brak!
Brak!
Sementara itu dari arah luar, sang ibu terus saja menggedor, hingga membuat Alex kian gerah, tetapi ia tak lekas membukakan pintu. Secepat kilat laki laki itu memakai celananya lalu menyisir segala barang barang gadis yang ada di kamar itu dan membawanya ke kamar sebelah.
Di sana Alex sempat melemparkan semua barang barang Rose ke bawah kolong tempat tidur, lalu setelah semuanya beres, barulah ia berakting di depan ibunya.
Ceklek!
"Hoam... siapa sih yang-----"
"Siapa! Siapa apanya, hah?! Kamu ngapain kok sampai ada disini, Alex? Mama kan tadi sudah kasih tau kamu untuk pulang ke rumah dan bahkan mama udah kasih tahu juga ke sekretaris mu bahwa mama menunggu di basemen! Kenapa kamu malah ada disini sekarang? Kamu sama siapa di dalam, hah?! Sama siapa, Alex?!" amuk ibu Alex tanpa ampun, membuat jantung Alex bergemuruh kencang sekali.
Kening yang berkerut dalam pun hadir di wajah tampan Alex, mengingat ia tak pernah mendapatkan pesan itu dari sang sekretaris.
"Loh! Ira gak ada ngasih tau aku kok, Ma. Makanya tadi langsung datang kesini, Soalnya aku mau beristirahat dengan tenang gitu. Habisnya kalau di rumah itu nanti mama----"
"Nanti mama apa?! Ngeles aja bisanya! Awas kamu dari pintu itu, mama mau masuk ke dalam! Kalau udah bohong ya bohong aja! Itu sampai kode pintunya diganti segala buat apaan, Hah?! Kalau gak karena modus mau bohong, apa namanya coba?!" repet Milea mendorong Alex agar menyingkir dari hadapannya, dan dengan terpaksa laki laki dua puluh lima tahun itu menuruti apa yang ibunya inginkan.
Wanita paruh baya itu pun langsung masuk dan memeriksa kamar tidur utama sang putera, tetapi ia tidak menemukan hal atau siapapun di sana.
Deg deg deg deg deg deg......
Alex pun mulai merasa sedikit lega karena ibunya tidak mengetahui dimana ia menyembunyikan Rose. Tetapi tetap saja, detakan jantungnya tak bisa berhenti menggila di sana. Terus bekerja cepat, bahkan nyaris melompat saat ibu mendaratkan bokongnya di atas tempat tidur.
Dengan cepat ia memutar isi kepalanya untuk mencari ide lain, agar dapat mengusir ibunya dari sana, dan satu seringai pun muncul di sudut bibirnya.
Alex menarik nafas panjang secara perlahan tanpa terlihat oleh sang ibu, lalu jatuhlah bom tersebut. Nyaris serupa dengan senjata yang membumihanguskan dua kota di jepang akibat perbuatan dari negara adidaya tahun 1945.
"Mama mau cari apa sih sebenarnya?! Gak ada siapa siapa disini, Ma! Alex itu datang sendiri dan mama pasti tau dari ngikutin mobil Alex dari belakang, kan? Masa mama gak lihat Alex turun sendiri atau berdua, hah?! Udahlah, kalau mama mau Alex pulang ke rumah, ya ayo kita pulang sekarang! Kenapa sih, hal kecil aja dipermasalahkan?! Alex udah ngantuk bangat, Ma. Kerja seharian itu capek dan mau tidur di kantor juga pasti mama ngerecokin juga, kan?! Alex mau kita selalu tenang, bukannya mau berantem terus kayak gini!" kesal Alex, menumpahkan semua isi hatinya. Bahkan ia menaikkan satu oktaf suara baritonnya, membuat bola mata Milea terbuka lebar seketika.
Sang Ibu juga bergidik ngeri saat mendengar semua kemarahan putranya, hingga akhirnya ia pun dengan cepat melangkah keluar kamar.
"Oke, ayo kita pulang sekarang! Tapi kalau sampai mama tau kamu masih aja ngumpet ngumpet berhubungan **** sama perempuan ****** di belakang mama, bakal mama suruh papa buat coret kamu sebagai ahli waris tunggal The Laode Corporation bersama semua aset milik kami berdua! Kamu gak akan mama dan papa kasih uang, apalagi harta warisan! Dengar itu, Lex? Gak akan sampai kapan pun juga!" Milea begitu sengit, benar benar melangkah keluar dari kamar tidur utama Alex di apartemen mewah tersebut.
"Astaga! Kita selamat, sayang! Buset dah, emak gue gini amat ya?! Hampir aja ketahuan kalau ada Rose disini. Duh, parah!" batin Alex bernafas lega. Laki laki itu sangat berharap adanya perubahan sikap dari kedua orang tuanya, terutama sang ibu.
Alex mengajak sang ibu keluar dari apartemen, tapi sebelum itu ia harus meminta nomor ponsel Rose dulu, karena ritual tadi belum mengeluarkan nikmat. Setelah sang ibu keluar dari pintu kamar, ia segera menutup dan menguncinya.
Brak!
"Loh, Alex?! Mama kok ditinggal lagi. Ayo buka pintunya, Lex! Lex... Alex!" teriak Milea dari luar pintu sambil menggedornya berulang ulang kali seperti tadi.
"Bentar, Ma! Alex mau ke kamar mandi dulu nih, kebelet pipis!" teriak Alex membalas perkataan ibunya.
Segera saja Alex secepat kilat merunduk agar dapat menghampiri Rose yang sedang bersembunyi di bawah tempat tidur dan seulas senyum terpancar di sana.
"Sayang, aku minta nomor ponsel kamu. Kalau aku kangen, aku bisa hubungin kamu nanti. Ayo cepat bilang dimana kamu simpan ponselmu yang baru dibelikan si Jhonny itu? Tuh, si mama udah teriak teriak kebakaran jenggot," bisik Alex.
"Sabar, aku ambil dulu, Lex. Susah gerak soalnya di dalam sini nih." jawab Rose sembari merogoh saku celana tidurnya dan mengambil benda pipih itu dari sana.
"Pantesan aku cariin tadi gak ketemu. Ternyata di saku celana, toh? ya udah sini." seru Alex mengulurkan tangannya dan mengambil ponsel gadis itu.
Rose masih berada di bawah kolong tempat tidur dan Alex pun dengan cepat menekan tombol sejumlah angka yang merupakan nomor ponselnya ke aplikasi ponsel Rose. Ia lalu menekan simbol gagang telepon dan tidak menunggu lama, ponselnya pun bergetar menampilkan sebaris nomor kontak gadi kesayangannya itu.
"Nih, aku balikin lagi ponsel kamu. Makasih ya, sayang? Nanti sampai di rumah, aku telepon kamu. Jadi jangan tidur dulu ya? Aku masih kangen sama kamu. Ya udah, aku pulang dulu ya, sayang?" lanjut Alex berbisik, masih dalam keadaan berbaring di lantai untuk dapat menyejajarkan diri dengan kondisi Rose yang ada di bawah kolong tempat tidur.
"Hati hati, Lex." hati Rose yang sempat merasa kebit kebit beberapa saat lalu, tentu saja berubah menjadi hangat akibat reaksi Alex padanya barusan. Ia pun segera membalas ucapan manis itu dengan cara berbisik pula.
"Kok cuma hati hati aja sih, sayang? Kiss nya mana?" Namun, Alex malah mengungkapkan rasa keberatannya, karena yang ia inginkan adalah lebih dari itu.
"Ck! Nanti ketauan kali, Lex!" sungut Rose yang tak habis pikir dengan tingkah konyol Alex.
Hanya saja, bukan Alex namanya jika tidak berhasil mendapatkan apa yang dirinya kehendaki dari Rose. "Gak. Cepetan, makanya kamu dekat dekat sini dong. Aku mau kiss kamu dulu tau!"
Tak bisa mengelak lagi, Rose pun membuang nafas kasar, lalu mendekat ke arah Alex. Satu ciuman singkat ala kadarnya itu, pada akhirnya terjadi juga di sana.
"Ugh.... bibir atas lagi ciuman, kenapa malah junior gue yang kencang? Ck! Dasar nih si junior! " bati Alex begitu lemas. Ia pun segera beringsut kebelakang, lalu bangkit berdiri untuk sampai ke pintu kamar, dan membukanya. Tentu saja di sana Milea sang ibu sudah berdiri sembari memperlihatkan wajah masamnya.
"Kamu ini ngapain aja sih, Lex? pipis aja pakai di kunci segala pintunya! Terus tadi itu bisik bisik sama siapa, Hah?" omel sang ibu hendak membuka pintu kamar kembali.
"Sudah, Ma! Ayo pulang! Alex beneran udah ngantuk nih! Udah capek semua badan Alex. Itu tadi Alex nelpon Ira. Habis, anak dititipin pesan sama mama, malah gak dikasih tahu. Emosi dong Alex, Ma!" bohong Alex mengapit lengan ibunya untuk menuju pintu apartemen.
Mereka pun menutup pintu itu tanpa menguncinya, karena benda tersebut akan otomatis terkunci. Untuk bisa masuk kembali, cukup menekan tombol sandi yang sudah dibuat. Si ibu cerewet dan anak semata wayangnya itu lantas masuk ke dalam lift, lalu menuju lantai dasar gedung.