I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 35



Dua bulan berlalu sejak aksi katakan cinta itu terangkai di antara dua insan yang saling memiliki satu rasa. Kini Rose tengah sibuk menjalani hari harinya sebagai Mahasiswi di Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi, dan tentu saja Alex pun demikian. Sang CEO muda itu sedang giat giatnya menghandle The Laode Corporation, perusahaan mesin dan alat berat warisan sang Papa.


Akan tetapi dari semua rutinitas padat yang pasangan itu jalani, sejak dua bulan belakangan ini mereka tak pernah sedikitpun melupakan komunikasi demi kelancaran hubungan cintanya.


Alex bahkan terus saja dan terus mencari untuk mencari alasan untuk ia berikan kepada ibunya, ketika ditanya kemana dirinya akan pergi saat pulang terlambat ke rumah. Juga saat wanita bernama Milea itu mencarinya ke seluruh penjuru ibu kota.


Apartemen bahkan bukan lagi menjadi prioritas Alex ketika si Jun rindu dengan bibir dan mouth nya Rose. Sebab kamar hotel atau villa mewah yang terdapat di luar kota jakarta, kini menjadi paling jitu baginya.


"Ck! Sore lama bangat, sih? Gue udah kangen bangat sama si sayang. Kemarin pulang dari Sidoarjo kan gak sempat ketemu. Gue bisa gila kalau kayak gini terus. Kapan mama bisa ngerubah pandangannya tentang jodoh?!" kesal Alex terlihat sangat uring uringan.


"Apaan tuh! Bebet bobot bebet! Udah kayak kembang di taman Mama aja gue! Dua hari di tanam terus mati, malah nyalahin bibitnya. Apa kata mama? Duh, ini pasti gara gara si Papa gak benar nih belinya. Terus apa lagi Mama bilang? Tuh, kamu lihat, Lex. Kalau bibitnya gak bagus model gini, bisa cepat mati kan? sama kayak calon istri! Kalau bibitnya sembarangan, bakalan cepat cerai pasti kamu nanti! Alah, belgedes!" gerutu Alex sangat panjang, melontarkan ocehan yang sering ia dengar dari ibunya.


Akan tetapi perkataan tentang bibit bebet bobot itu tak bisa hilang dari otak Alex, sehingga terus saja otaknya mengingat tanpa henti. Terlebih lagi, untuk beberapa hari belakangan ini, ia semakin getol menunjukkan foto gadisnya kepada sang ibu, tetapi kembali lagi Nyonya Milea bertanya tentang bibit bobot bebet.


"Selamat pagi, Pak. Ini kopi yang bapak minta. Saya taruh di meja kerja ya?'' ujar si genit Ira dengan pakaian seksinya muncul dari balik pintu.


"Hm, taruh saja di meja!''


"Baik, Pak."


Ira melihat sekilas punggung Alex yang sibuk dengan filling kabinet dan berjalan menuju meja kerja atasannya itu. Secangkir kopi hitam dengan satu sendok gula ia letakkan di sana. Tetapi ia terkejut saat melihat satu foto figura baru yang terletak di sana.


Tangannya terulur untuk mengambil figura itu dan hatinya sangat terbakar ketika pandangan matanya melekat menatap foto Alex yang sedang mengecup sebelah pipi Rose.


"Oh, jadi ni cewek yang buat dia menghindar dari gue? Heh, coba kita lihat. Mau sampai kapan kalian terus bersama?!'' amuk Ira dalam hatinya.


Secepat kilat sekretaris genit itu memasukkan ponsel milik Al ke dalam saku blazer kerjanya dan bergerak ke dalam toilet pribadi milik tuannya.


"Aduh, Pak? Numpang buang air kecil bentar ya? Kebelet pipis nih!''


"Ck! Gak sopan bangat si lo! Nanti di siram sampai bersih!" kesal Alex, tetapi ia terus mencari berkas lama di filing kabinet pribadinya itu.


Aksi pun dimulai, dalam toilet. Ira pun sibuk mengutak atik ponsel milik Alex, mencari sesuatu yang bisa menghubungkannya dengan si gadis dalam figura.


"Sialan! Ternyata udah sampe ngebelai si burung beo juga nih cewek! Heh, di foto ajah lagaknya pasang muka sok polos gitu! Taunya apa ini dia bilang sama si Alex? Bakalan puasin sampe out tiga kali? Cih! Binal! Ini cewek pasti ****** yang mau mootin doang nih!'' umpat Ira mengambil ponsel miliknya dari saku blazer yang lain.


Tangan Ira pun secepat kilat mencari aplikasi kamera dalam ponselnya dan dalam hitungan detik, kini nomor ponsel Rose sudah berhasil ia miliki.


Ira bahkan ikut mengabadikan beberapa foto mesra bersama percakapan intim Alex dan Rose yang sibuk membahas tentang ketegangan si Jun di bawah sana, dengan maksud jelek tentunya.


"Gimana kalau foto dan chat ini gue kirimkan ke Nyokap gila lo itu, Lex? Pasti seru kan? Makanya jangan nyuekin gue dong. Salah sendiri,'' kekeh Ira dalam hati.


Tiga detik kemudian Ira pun keluar dari sana, dengan badan yang lebih dulu dicondongkan ke depan. Kepala si wanita genit itu mengintip keberadaan Alex dan ia menemukan tuannya masih berada di depan filling kabinet, dengan keadaan beberapa berkas yang berserakan di lantai.


"Huh, Selamat! Untung aja si ALex masih sibuk di sana, '' batin Ira segera berjalan menuju ke meja kerja sang CEO. "Tapi dia nyari apaan sih, di sana dari tadi? kok kayaknya riber bangat?'' batinnya lagi, seraya meletakkan ponsel Alex di atas meja.


Langkah kakinya mendekat ke arah Alex, dan entah dimana akal sehat di dalam otak Ira, ia pun dengan seenaknya memeluk tubuh tegap tuannya dari belakang.


"****!'' umpat Alex yang terkejut.


Beberapa berkas di tangan pun ikut terjatuh ke lantai, dan lengan kokohnya dengan segera menepis kedua tangan Ira.


"Gila lo, Ira! Cari mati, hah?!'' Alex berbalik dan murka seketika.


Alex lekas berjongkok dan bersiap memunguti berkas berkas yang jatuh yang berceceran di lantai ruangannya, tetapi tangannya terhenti seketika.


"Lex.... Gue kangen sama lo. Kenapa sih, beberapa bulan belakangan ini lo gak mau lagi gue puasin? Apa karena tempo hari lo bilang gigi gue kena itu? Gue janji deh kali ini gak bakal----"


"Diam! Keluar! Keluar lo sekarang juga dari ruangan gue!''


"Ya, tapi----''


"****! Keluar!''


"Gue pecat lo sekarang juga, ******! Udah sering gue bilang jangan main main sama gue kan?! Heh, lihat apa yang bakalan gue lakukan sebentar lagi!'' geram Alex melangkah menuju meja kerjanya. Ia mengambil gagang telepon paralel di sana dan segera menekan angka lima.


Tut..... tut....


Dengan hasil sambungan paralel itu pun terhubung ke ruangan Manager HRD The Laode Corporation.


"Halo! Siapa ini?''


"Namaku Alexander The Laode!''


"Aduh! Ma...maaf, Pak. Ada yang bisa saya bantu, Pak?'' gugup Manager HRD di ujung telepon.


Alex bernafas kasar sebelum meledakkan kemarahannya dan setelah itu, bom atom pun melesat menuju tujuan, ''Aku mau Bapak buat surat pemecatan untuk sekretarisku sekrang juga! Jangan lupa suruh bagian keuangan hitung dengan teliti masa kerja cewek sialan itu sebelum menetapkan uang pesangonnya!''


Klik


Sambungan pun terputus, lalu Alex kembali menghubungi seseorang dan itu adalah Jhonny, si anak buah kepercayaan.


"Halo, Bos?''


"Cewek gue dimana?''


"Ada di kampus kan Bos? Belum pulang dia ke apartemen memangnya? Lah, gue lagi ketemu Pak Brata yang kemarin bos suruh di Kemang sini. Kan mau nagih utangnya, Bos.''


"Ya, kan gue kira udah kelar lo ketemu dia. Jadi giman tuh tentag si Pak tua?'' tanya Alex penasaran.


"Dia masih berkelit, Bos. Katanya dia berurusan dengan Nyonya, Bos. Jadi masalah utang itu bukan kapasitas Bos sama gu---''


"Apa?! Gila aja! Gak bisa gitu!'' pekik Alex mengamuk lagi. "Lo ancam dia aja, Jhon! Itu orang kalo gak salah punya anak cewek yang kerja jadi pengacara itu kan? Nah, kalo dia masih nyolot juga, nanti gue bakalan pakai cara licik dengan cara dekatin anaknya. Sama kayak tempo hari gue buat lo jadi CEO abal abal itu. Lo paham kan?''


"Kalo bisa cicipin secara gratisan gue selalu siap kapan aja, Bos. Mau bangat kalo ceweknya bening juga, Bos.'' kekeh Jhonny di ujung telepon. ALex pun ikut tertawa dan mulai merencanakan sesuatu dengan anak buah kepercayaannya itu.


Sementara itu di tempat lain, Rose sedang berada di perpustakaan kampus. Gadis itu sibuk membaca buku buku Managemen Akuntansi, berniat mengerjakan beberapa tugas membuat jurnal yang harus dikumpulkan besok.


Saat itu Rose harusnya berdua dengan Riri, tetapi hadis keturunan Betawi Solo tersebut sedang membeli minuman dingin di kantin kampus dan meninggalkannya sendirian di sana.


"Hai, Rose! Sendirian aja lo. Riri mana?'' tegur Boy yang datang mendekati Rose.


"Oh, dia lagi beli soft drink, tenggorokannya kering katanya,'' jawab Rose tetap fokus dengan buku dan tugas kuliahnya.


"Akhir akhir ini lo kok berubah ya sama gue, Rose? Emangnya gue punya salah apa sama lo?" Boy mengambil tempat disebelah kanan Rose, lalu meraih jemari gadis itu.


Namun, hal tersebut tak berlangsung lama, sebab dengan cekatan Rose menepis tangan Boy. ''Tolong, Boy. Aku sudah punya pacar. Kamu dua kali kan kena pukul sama dia? Aku gak suka itu. Jadi---''


"Ya, kalo lo gak suka gue kena pukul, seharusnya lo tinggalin dia dong, Rose! Lo tau kan dia itu kasar kan? kenapa juga harus lo pertahankan hubungan kalian?''


"Karena aku mencintai dia, Boy! Jadi kita harus jaga jarak. Itu juga karena kamu sahabat aku!'' jelas Rose masih tidak bisa diterima oleh Boy.


"Egois itu namanya, Rose. Lo gak boleh punya sahabat cowok, tetapi dia boleh! Apa lo gak mikir kalo di dunia itu bukan cuma kalian berdua aja yang jadi manusia?" Rose terdiam. Ia tak tahu harus berkata apa, sebab ras bersalah kini menghampiri dirinya.


"Ck! Lo masih juga usaha dekatin dia, Boy. Udah lo jauh jauh aja sono! Anaknya gak mau malah lo paksa paksa. Mau di bogem lagi lo sama cowoknya yang kece itu?" Riri datang dan mengeluarkan kaleng minuman bersoda dari saku jaketnya.


" Di sini gak boleh minum kali, Ri!''


"Lo polos amat sih, Rose. Peraturannya emang gak boleh minum atau makan. Itu sih, gue juga tau dari dua bulan kuliah disini. Tapi coba lo lihat dan cariin aja tuh keliling perpustakaan ini,. Banyak kali yang curi curi kesempatan makan atau minum, Rose. Bahkan makan daging nikmat sama minum lendir hangat juga ada kali. Cari ajah tuh dibagian pojok belakang sana,'' kekeh Riri membuat wajah Rose merah padam.


Perkataan tersebut jelas membuat gadis polos itu teringat akan kegiatan saling memuaskan yang sering ia lakukan dengan sang kekasih dan tangannya lekas merogoh saku celana jeans untuk mengambil ponselnya.


"Rose...''