
"Ma, bisa enggak jangan cari gaun yang modelnya kayak kemben gitu? Yang ada lengannya aja, Ma. Bahunya Rose kan gak terlalu berisi, entar tulang disekitar lehernya kelihatan semua, kan malu maluin," guru Alex yang sedari tadi kesal melihat Nyonya Milea memilih model gaun sedikit terbuka dalam sebuah majalah.
"Apa kamu bilang? Tulang lehernya Rose? Tulang yang man? Ini?' repet Nyonya Milea bertanya dengan pancaran mata terkejut dan menunjuk leher Rose yang yang tertutupi cardigan.
"Iyalah, Ma. Itu tulang leher, kan?''
"Cih! Kamu bego apa gimana sih, Lex? Leher jenjang gini kok malah kamu bilang tulang leher Rose bakalan bikin malu! Dia itu bakalan kelihatan seksi banget kalo pake gaun model kemben gini dari pada yang ada lengannya. Benar kan, Mas Gun?'' sahut Nyonya Milea meminta pendapat salah satu perancang gaun pengantin terkenal di Jakarta.
Namun orang itu tak segera menjawab, melainkan sibuk tertawa dan mengambil majalah lain untuk diberikan kepada Nyonya Milea.
"Si gantengmu ini cemburuan bangat ya, Ce. Dulu perasaan pas mau nikah, Om Guen gak ada deh protes sana sini. Ngidam apa pas hamil dia, Ce?'' kekeh Gun Salim menatap ke arah calon pasangan pengantin yang seminggu lagi akan melangsungkan pernikahan mereka.
"Ngidam pengen makan orang kalo gak salah, Gun! Orang dulu pas mau nikah keluarga si Guen dari Madrid terus aja teror aku lewat sms. Apalagi kakak perempuannya yang paling besar. Udah kayak Mak Lampir aja! Tiap hari nelpon ke rumah Mami di Malang itu. Sampai pas aku kesel, kabelnya kugunting aja," sahut Nyonya Milea ikut terkekeh.
Pembicaraan yang melebar kemana mana pun semakin membuat mood sang CEO buruk karena kedua saudara sepupu, Milea dan Gun terus menceritakan hal beberapa hal konyol tentang dirinya di depan Rose.
"Mama ini kita mau ngukur badannya kapan, sih? Ngerumpi aja dari tadi. Alex capek nih duduk terus. Mau rebahan sedikit, soalnya punggung Alex agak nyeri!'' ketus Alex menghentikan obrolan seru sang ibu.
Rose yang sejak tadi ikut tersenyum semakin melebarkan bibirnya, akibat pemandangan wajah kesal Alex.
"Ketawain aku lagi! Diem!" lanjut Alex melirik ke arah Rose.
"Kamu ini gak sopan bangat sama Akiu Gun, sih Lex! Ini saudara mama tahu gak kamu? Ya jelaslah mama sambil santai santai. Orang sudah lama gak main kesini, kok mau buru buru,"
"Udah, Ce. Mending si koko disuruh pulang duluan aja sama calon menantumu ini. Yang penting aku sudah lihat postur tubuh mereka seperti apa. Hasilnya pasti tetap spektakuler kok. Masa Gun Salim, Cece ragukan sih? Gak amazing bangat deh kayaknya itu," celetuk Gun dengan gaya kemayunya.
"Benar nih nanti hasilnya gak bakalan salah, Gun? Aku ngundang lima ribu orang loh di Ballroom Hotel Mulia. Kamu jangan main main soal gaun pengantinnya. Kalo jelek nanti--"
"Aduh, Cece ini suka gitu deh dari dulu. Tanyain dong sama seluruh sosialita tanah air bagaimana hasil kerja sepupu kamu ini, Ce." sahut Gun dan kedua orang itu kembali terkekeh, membuat Alex semakin gerah di sana.
"Alex sama Rose duluan aja ya, Ma. Nanti sampai rumah Alex suruh Pak Toni jemput mama disini deh. Atau mama mau papa aja yang jemput?" tanya Alex sudah berdiri dengan bantuan Rose yang masih memapahnya.
"Mama langsung ke kantor papa aja. Nanti Akiu Gun yang anterin kok. Iya kan, Gun?"
"Siap, Ceceku sayang. Dengan senang hati Gun bakalan anterin kemana aja yang cece mau asalkan ada puyonghai sama sup asparagusnya. Gimana?" sahut Gun memainkan kedua alis matanya.
"Ck! Cincai.... Gampang kalo cuma itu aja. Kita ajak Ko Guenmu juga biar dia gak ngomel ngomel terus efek balik ngurusin kantor selama Alex sakit ini. Seru kan?'' ujar Nyonya Milea, yang paham jika sepupunya itu tergila gila dengan wajah bule sang suami.
"Ck! Alex gak akan marah Rose. Udah kalian berdua nurut aja apa kata mama. Intinya kalian cepat menikah, Alex cepat sembuh biar papa gak kesal terus karena urusan The Laode Corporation, dan kamu Rose?" sanggah Nyonya Milea menunjuk ke arah calon menantunya, "Cepat lahiran dan kasih mama cucu perempuan yang cantik! Kalo dalam perut kamu sekarang anak cowok? Nanti cepat hamil lagi, sampai dapat cucu perempuan buat mama. Ngerti? Kamu juga ngerti kan, Lex?" lanjut Nyonya Milea memberi ultimatum.
Alex dan Rose pun hanya bisa meng iyakan ocehan Nyonya Milea, tanpa mau ambil pusing dengan Gun Salim yang sangat terkejut mendengar celotehan sang kakak sepupu.
"Kita singgah ke apartemen aja dulu ya, Sayang? Aku udah gak tahan. Nih, coba kamu touch," ujar Alex saat sudah sampai di dalam kursi mobil belakang.
"Hem, mulai deh. Enggak kena marah sama mama nih kalo kita singgah kemana mana dulu, Lex?" tanya Rose sembari melihat ke arah Pak Toni yang sedang menyetir.
"Enggaklah, Sayang. Kalo perlu selama satu minggu sebelum hari pernikahan, kita gak usah pulang ke rumah. Pas kan aku belum beli hape baru karena yang lama kemarin rusak waktu kecelakaan, terus sekarang kebetulan juga kamu sekarang jalan gak bawa hape. Tinggal minta aja sama Pak Toni turin di mall. Suruh dia tunggu di parkiran, terus kita kabut pakai taksi. Seharian ini kita di apartemen, habis itu kita jalan jalan ke vila yang di puncak tempat kita sering pergi dulu. Gimana?'' bisik Alex agar tak terdengar oleh Pak Toni.
"Aku gak setuju ah, Lex. Nanti yang dimarahin mama tuh pasti aku kali. Bukan kamu. Terus kita juga gak bawa baju kan?'' sahut Rose ikut berbisik.
"Ya, kan nanti kita ke apartemen, sayang."
"Tapi pakaian aku yang ada di sana udah aku bawa ke rusunawa Depok kali, Lex. Dalam lemari yang ada di apartemen, cuma pakaian kamu aja. Terus kamu gimana? Kamu emangnya bawa dompet?" tanya Rose masih dengan mode berbisik.
''Tada....." pekik Alex mengambil sesuatu dari kantong kemeja di bagian depannya, "Aku tadi gak sengaja lihat kartu unlimited ini pas tas mama terbuka di sofanya Akiu Gun. Ya, udah. Aku ambil aja buat kerjain mama, karena kesal sama pilihan gaun serba terbuka tadi. Eh, sekarang ada gunanya, Kan buat belanja baju kamu dan jalan jalan sebelum kita nikah? Jadi gimana, sayang? Setuju enggak sama ide aku? Mau ya, Sayang? Please.... Aku suntuk bangat selama ini di rumah terus...." rengek Alex memaksa Rose.
"Ya udah. Terserah kamu aja deh. Lagian, kalo ketangkap sama mama, kamu kan yang harus di salahkan? Awas aja kalo sampe aku jadi sasaran amukannya mama, jatah si Jun dihentikan!'' tegas Rose membalas bisikan Alex.
Dengan gelak tawa yang keluar dari pita suara Alex, akhirnya ide tersebut berhasil disetujui oleh Rose.
"Pak Toni, nanti singgah ke Plaza Indonesia sebentar. Rose lagi ngidam sushi yang ada di sana nih. Bisa kan, Pak?''
"Bisa, Pak. Mau dibawa pulang atau gimana, Pak?''
"Makan di sana aja, Pak. Si baby mau cuci mata. Iya kan, Sayang?'' jawab Alex mendahului Rose yang hendak membuka mulutnya.
"Siap, Pak. Berarti nanti saya tunggu di parkiran aja ya, Pak?" sahut Pak Toni, tersenyum menatap kaca spion kecil di depannya.
Maka aksi pun dimulai, diikuti dengan degup jantung Rose yabg tak karuan bekerja karena perasaan takutnya pada sang calon ibu mertua.
"Udah, enggak usah terlalu cemas gitu, Sayang.... Aku janji bakalan buat kamu gak bisa jalan, pake acara naik ke mukaku tadi. Suka kan?'' bisik Alex menjulurkan lidahnya di daun telinga Rose dan si cantik pun tergoda.