
Ceklek....
"Sayang.... Aku kangen! Sini cepat!'' itu adalah teriakan histeris yang pertama kali mereka bertiga dengar, ketika pintu ruangan rawat inap tersebut dibuka oleh perawat Lili.
"Sayang, ini aku Alex! Kok diam aja disitu sih... Sini peluk!'' teriak Alex sekali lagi, ketika Rose tak kunjung berlari ke arahnya.
Hal itu ketika Rise gak kuasa menahan gejolak kesedihan ketika melihat berbagai alat rumah sakit yang berada di tubuh sang kekasih, sehingga ia hanya bisa menitikkan air matanya sekali lagi.
"Mbak Pes, tolong bawa Rose kesini. Habis itu Mbak sama Suster keluar aja ya? Nanti Mbak jangan lupa kasih uang dua ratus ribu sama susternya. Tapi jangan pergi jauh jauh, karena kalo ada papa datang? Mbak tolong cepat cepat masuk ke dalam sini, Oke?" perintah Alex sekali lagi.
Maka Rose pun berjalan mendekat ke arah Alex dan ketika kedua pandangan mata mereka bersiborok, isak tangis Rose semakin kuat terdengar.
"Kenapa kamu gak hati hati, Lex?! Aku takut lihat kamu kayak gini. Aku.... Hiks...aku... Minta maaf..." lirih Rose, yang langsung berhambur memeluk tubuh kekasihnya.
"Sssstttt..... Jangan nangis, Sayang. Aku gak peduli sakit kayak gini, yang penting kamu ada sama aku sekarang dan aku bisa dapat jawaban apa benar dalam perut kamu ada----"
"Benar, Lex. Dia ada di dalam sini. Dan cita cita kamu sebentar lagi jadi Ayah bakal kesampaian. Cup!'' lekas Rose sembari mengecup pipi Alex.
Hal itu tentu saja membuat otak Alex kembali normal, sehingga tanpa bisa menunggu ia merengek seperti balita di depan Rose.
"Kok disitu? Ciumnya di bibir dong, sayang... Aku kan gak bisa bangun. Lengan aku patah gini lagi. Ayo cepat cium di bibir dulu...."
"Sayang, dikit aja. Please.... Kamu gak kasihan sama si Jun yang udah kamu tinggal hampir mau seminggu ini? Coba deh kamu buka dulu selimutnya," rengek Alex benar benar tak mempedulikan kondisi fisiknya saat ini.
"Bukan aku gak mau, Lex. Tapi kalo ketahuan gimana?'' Rose yang polos pun tak mempunyai alasan lain yang lebih tepat untuk mencegah kekasihnya.
"Udah kamu tenang aja. Itu hape baru kamu ada nomornya Mbak Pesta kan?" tanya Alex masih dengan kerutan di keningnya.
Alhasil, Rose segera merogoh benda pipih murahan yang ia beli setelah pulang mengantar Riri di stasiun kereta api solo balapan dan menganggukkan kepalanya.
"Ada gak nomornya Mbak Pesta, Sayang?" Alex bertanya sekali lagi.
"Iya, ada kok. Kan tadi udah aku jawab iya tadi pake gini gini." sahut Rose sambil menaik turunkan kepalanya.
Alex yang ingin tertawa pun berusaha menahannya, dan meminta Rose menghubungi asisten rumah tangga itu.
Tut.... Tut..... Tut....
"Halo, Non? Mbak Pesta masih di luar kok. Gimana, udah mau pulang belum?''
"Ini Alex, Mbak. Bukan Rose!'' ketus Alex akibat menahan nyeri yang berasal dari bagian bawah.
"Eh, Den Alex. Kenapa, Den? Ada yang bisa Mbak Pesta pantau biar jangan sampai ketahuan sama tuan, nyonya, atau dokter yang periksa Aden?" sahut Mbak Pesta membuat Alex tak lagi bisa menahan tawanya.
"Kok ketawa sih, Den? Udah lanjutin aja sana. Mbak Pesta bantuin pantau kok. Nanti kalo ada yang mencurigakan, langsung Mbak miscall ke nomor Non Rose yang baru ini. Gimana, gitu kan maksudnya?''
Klik
Telepon terputus dan Rose hanya bisa melipat kedua lengannya di dada dan menggelengkan kepalanya.
"Apaan sih, Sayang? Masalah takut ketahuan udah aku beresin kan? Sekarang ayo reuni dulu dong sama si Jun. Dia kan sudah berjasa dalam hubungan kit----''
"Berjasa? Dasar tukang gombal! Awas aja penyakit mesum akut kamu ini, kamu wariskan ke anakku!''
"Anak kita, Sayang. Bukan anak kamu sendiri aja," kekeh Alex yang akhirnya menang akibat Rose sudah membuka selimut putih di tubuhnya.
Rose dengan cekatan beraksi untuk bisa bertemu dengan sahabat terbaik sang calon suami dan ketika si jun sudah keras dan menyembul keluar, ia mulai mengelus dan membelainya serta melakukan aksinya.
"Ouw, God! Aku benar benar kangen sama kamu, Sayang!" desah Alex menutup kedua matanya.
Namun, Rose tak mau memedulikan bagaimana gairah Alex yang mulai terbakar, selain terus mengurut dan membelai habis si Jun agar laki laki itu berhenti merengek dan memaksanya seperti seorang balita yang merindukan air susu ibunya.
"Sst...Rose....Terus, Sayang.... Pakai tounge kam--- ough, ****! Enak..." racau Alex tak bisa ia tahan lagi.
Ingi sekali Alex membelai surai hitam nan panjang milik ibu dari calon anaknya itu di sana, tetapi apalah daya lengannya sekarang sedang patah dan dibalut dengan gips.
Sementara itu dari pintu luar kamar, Mbak Pesta sedang meringis akibat perutnya yang terasa sangat mules dan ingin segera buang air besar.
"Aduh, sakit bangat!'' batin sang asisten rumah tangga itu, merintih dan memegangi perutnya, "Aku pengen ke toilet, tapi gimana ini sana Den Alex dan Non Rose--- tut.... Aduh..." ringis Mbak Pesta lagi sembari membuang angin jahat dalam perutnya.
"Buset! Bau bangat! Mpok kentut ya? Atau mencret?!'' pekik seorang pemuda yang duduk dengan kekasihnya di kursi panjang, tempat Mbak Pesta berada juga.
"Egh, maaf. Maafin ya, Dek? Kelepasan tadi." sahut Mbak Pesta dengan wajah memerah.
Namun, kedua pasangan muda mudi itu lekas berdiri dari sana dan pergi dengan menutup hidung mereka.
"Tuh, Mpok! Toiletnya di sono, noh! Kalo lagi ngompol atau berak di celana? Mendingan cebok sama sekalian nambah lagi beraknya disitu tuh, merusak mood orang aja siang siang gini! Huh, parah!'' gerutu sang pemuda yang tadi menegurnya.
Alhasil, wajah Mbak Pesta semakin merah akibat menahan rasa malu. Lantas dengan gerakan tertatih akibat perutnya yang masih sangat terasa melilit, sang asisten rumah tangga itu pun berjalan ke arah tulisan toilet.
"Maafin ya, Den? Kepepet bangat ini. Mbak Pesta udah gak tahan pengen buang air besar, tapi Mbak janji bakal cepat cepat balik lagi jagain pintu kamarnya aden, kok." batin Mbak Pesta, masuk ke dalam toilet.
Sayangnya Dewi Fortuna ternyata emang sedang tidak berpihak pada si pasangan mesum yang kini sedang khusyuk dalam kamar rawat inap, karena bersamaan dengan pintu toilet yang ditutup oleh Mbak Pesta, Tuan dan Nyonya The Laode baru saja keluar dari pintu lift.
"Ini gak bohong kan, Pap? Alex beneran udah sadar kan, Pap?" tanya Nyonya Milea sekali lagi dari atas kursi roda yang didorong suaminya.
"Ck! -----"