I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 16



"Lah, Mam? tunggu dong, sayang! Masa papa tidur di kamar tamu sih!" Nanti kalau pap---"


Brak!


Belum lagi ketika suara keras terdengar dari pintu kamar, maka yang dilakuan tuan Guen adalah merengek di depan pintu kamar.


"Eh, astaga! Ma, buka pintunya dong! Ma..."


Tok tok tok tok tok.....


Berkali kali sudah pemilik The Laode Corporation mengetuk pintu kamar tanpa jeda, tapi wanita kesayangannya itu tetap diam tanpa kata. Sementara di dalam kamar lainnya di lantai dua, Alex sudah membanting dirinya di atas kasur empuknya. Ia langsung mengeluarkan ponselnya dan segera mencari nomor Rose. Ia ternyata bukan ingin mendengar suara Rose, tetapi ingin melakukan vidio call dengan gadis itu.


Tut tut tut.....


Tiga kali nada dering itu berbunyi, lalu kali yang keempat, muncullah wajah cantik Rose di layar ponselnya.


"Halo, sayangnya aku? Belum tidur kan kamu?" tanya Alex menatap wajah Rose lekat lekat di ponselnya.


"Belum, Lex. Nungguin telepon dari kamu, katanya tadi disuruh jangan tidur dulu karena kamu mau telepon, kan?"


"Hm, iya, sayang. Gitu deh. Soalnya yang tadi kan belum kelar, sayang. Nih, si jun masih tetap marah kayaknya. Sakit bangat kepala aku." jawab Alex dengan wajah memelas.


"Terus gimana dong, Lex? Kan aku lagi jauh dari kamu sekarang." tanya Rose memperlihatkan wajah bingungnya dan hak tersebut tentu saja sangat menggemaskan bagi Alex, bahkan si jun yang juga semakin ikutan marah.


"Kamu melakukan seperti olahraga yang biasa kamu lakukan itu saat bersama si jun, sayang. Mau ya, Rose? Aku udah gak tahan nih. Kepalaku nyut nyutan terus nih kalau si jun masih marah. Seriusan deh, sayang. Kamu gak mau kan aku sakit kayak gitu, sayang?" rengek Alex persis seperti seorang balita yang tidak diberikan susu oleh ibunya.


"Terus kamu ngapain aja nanti, Lex? Emang hanya aku melakukan seperti itu bisa?" tanya Alex dengan nada polosnya.


Seketika Alex pun terkekeh keras dengan pertanyaan gadis itu. "Hahaha..... Hahaha... "


Membuat Rose merasa kesal mendengar tawa panjang Alex. "Ih, Alex. kok malah ketawa sih?! Aku matiin nih tele----"


"Eh! Jangan dong! Sayang! Astaga, cantikku... Aku tuh cuma bahagia aja bisa ngobrol dan ngelihat kamu lagi. Bukan maksudnya mau ketawain gitu kok. Gak kok, sayang. Jangan marah, ya?"


Sebuah ancaman yang Alex terima dari Rose itu, membuatnya segera menyela ucapan gadis cantik itu. Ia tidak ingin tertidur dalam keadaan si jun yang masih marah tanpa membahagiakannya, jadi segala sesuatunya harus baik baik saja.


"Sayang? Kamu masih marah ya samaku?" tanya Alex untuk yang kedua kalinya.


Terus saja diperhatikan Alex dengan mata elangnya, Rose pun akhirnya luluh juga di sana. "Ya udah, gimana tadi kelanjutannya? Cepat ngomong, aku ngantuk bangat. Mau tidur."


"Hehehe... sabar ya, sayang. Jadi gini. Kamu melakukan olahraga seperti yang aku bilang tadi, sisanya nanti aku yang urus dan kamu hanya melakukan itu dari sana. Mama udah nyeret aku pulang ke rumah. Kalau gak, ya lebih mantap kamu sendiri yang langsung turun tangan kayak biasanya dong. Mau kan, sayang? Besok pagi baru kamu yang ambil alih, Habis si jun udah betah dan suka kamu, sayang." jelas Alex dengan serangkaian rayuan gombalnya.


"Sayang, kamu kok ngelamun?Ayo dong, sayang? Kita mulai sekarang ya?"


Alex pun segera melakukannya diseberang sana, begitu juga Rose yang berolahraga sesuai yang Alex katakan.


Di seberang ponselnya, Rose melihat Alex juga sedang sibuk berolahraga ala dia. Tatapan mata laki laki dua puluh lima tahun itu seperti tak berkedip melihat betapa Rose yang sedang berolahraga dengan serius dan lihainya.


"Ach... Sayang." erang Alex, menatap Rose yang sedang melakukan olahraga itu.


"Sayang, Ugh...." racau Alex masih tak berkedip sama sekali, terus melihat tak kenal lelah.


Deg deg deg deg deg......


Debaran jantung yang melaju kencang, turut menjadi saksi di sana. Betapa kali ini adalah kali pertama bagi Alex benar benar menginginkan gadis itu, bukan hanya permainan olahraga saja seperti biasa.


"Sayang, kok diam aja sih? Ayo dong kamu lakukan olahraga lagi? Biar cepat selesai nih." pinta Alex masih dalam mode merayu.


Mendapat suruhan kedua kalinya, Rose hanya bisa pasrah dan menurut saja. Ia pun menyusun strategi untuk olahraga olahraga yang akan dilakukannya kembali.


"Udah nih, Lex. Terus aku ngapain?!" tanya Rose yang sudah mulai di landa rasa grogi.


Mencoba menepis semua rasa yang mengganjal dan pengalaman pertamanya ini, Rose pun tak berusaha mencari remote AC untuk menurunkan suhu ruangan. Ia pun langsung melakukan olahraga itu lagi dan suara Alex kembali terdengar di sana.


Lagi lagi Alex memberi perintah lagi dan tentu saja lagi lagi Rose hanya menuruti perkataan Alex dan kini layar ponsel Alex tengah menampilkan bagaimana olahraga lihai itu di mata sang CEO.


"Ugh.... kamu lihai sekali, sayang. Ouh.... Si jun kayaknya bakal betah deh nanti sama kamu, Rose. Ach...Yeah!!" racau Alex terus lebih cepat dari sebelumnya.


Rose hanya diam saja dan tetap melakukan pekerjaan itu tanpa menjawab apa yang dikatakan oleh Alex.


"Hei? Kok diam aja, sayang? Aku kangen tau sama kamu. Aku mau selalu berada di dekat kamu untuk bisa selalu bersama dan berolahraga bersama." sahut Alex terkekeh sambil mengedipkan sebelah matanya.


Rose tak menjawab perkataan Alex yang menurutnya semakin frontal itu. Namun, kedua pipinya bersemu merah dan gelegar aneh pun bermunculan di hatinya.


"Rose, Aku udahcapek nih. Si jun gak mau juga. Dia kayaknya cuma mau sama kamu deh kayaknya. Besok aja pagi pagi sebelum aku ke kantor, aku mampir ke apartemen dulu, ya? Biar kamu bisa berolahraga bersama agar aku kerjanya nanti bisa fokus. Gak apa apa kan, sayang?" ucap Alex terlihat sangat letih.


Merasa kasihan, Rose pun segera menjawabnya. "Iya, Lex. besok aja deh."


"Ya, udah. Sekarang kamu tidur ya, sayang? Cuma besok itu berolahraga nya jadi dua kali."


"Hah? kok bisa dua kali sih, Lex?''