
Tiga minggu berlalu begitu saja setelah keluarga kecil The Laode mulai menerima Rose Van Houteen sebagai calon anggota baru di rumah mewah milik mereka. Setiap hari ia disibukkan dengan seabrek kegiatan, yang terkadang kala membuatnya sering tak sadar tentang perputaran hari dan tanggal.
Nyonya Milea acap kali membawanya ke berbagai arisan dengan teman teman sosialitanya. Tentu saja setelah ia mengajarinya bagaimana cara bersikap di depan khalayak ramai, cara duduk yang baik, cara makan yang sopan dan cara membalas sindiran ibu ibu tentang statusnya yang tak serupa dengan mereka.
Tak lupa pula Nyonya Milea menyusun jadwal senam hamil, les make up dan les memasak untuk Rose. Semua itu dengan tujuan, agar ia dapat menjadi pendamping hidup yang baik serta menarik, kendati usianya tidak muda lagi nanti.
Namun, di balik serentetan acara yang Nyonya Milea ciptakan, wanita paruh baya itu tak lupa menyuruh si calon menantu untuk selalu menemani putranya melakukan cek up ke rumah sakit serta menemani terapi akupuntur.
"Mama.... Rose mana, Ma?!" teriak Alex dari lantai dua rumahnya.
"Ada di teras belakang. Masih berenang sama guru senamnya," sahut Nyonya Milea sibuk berbicara dengan salah satu perwakilan wedding organizer dan memilih undangan pernikahan putranya.
"Ini udah jadwal Alex buka gips di rumah sakit, Ma. Suruh pulang aja dulu guru senamnya. Kapan nikahnya kalo Alex masih pakai gips kayak begini, Ma? Enggak bisa semalaman sama orang orang ntar. Cepetan, Ma!" teriak Alex semakin membuat pipi calon si Oma itu memerah.
"Heh! Dasar si Rose sontoloyo! Aku kan udah bilang tadi gak pake lama sama guru senamnya tadi. Kenapa sampai lama begini?! Awas dia kalo Alex teriak sekali lagi dan dia belum selesai juga! Bakalan aku----"
"Mama.... Mana Rose nya.... Panggil dong, Ma! Alex turun pake kursi roda nih biar terguling aja di tangg----"
"Heh! Ngaco kamu itu! Udah ini coba mama cek dulu dia kebelakang," sahut Nyonya Milea memasang wajah kesalnya, ''Sabar sebentar ya Jeng Selly. Biasa, anak cuma satu ya begini nih jadinya," pamit Nyonya Milea, memaksakan senyumnya.
Alhasil, Nyonya Milea pun berjalan dengan tergesa menuju ke taman belakang, tetapi karena kirang berhati hati maka ia pun terpeleset hingga terduduk di lantai.
"Aduh, Pes! Sialan! Siapa yang nyuruh ngepel lantai modelnya kayak begini, Pesta?!" teriak Nyonya Milea menggosok bokong yang terasa sangat sakit.
"Astaga, Nyonya! Kenapa kok duduk di lan---''
"Goblok! Aku lagi jatuh ini, Pes! Cepat bantuin aku berdiri! Kamu itu kenapa kok tumben ngepel lantai tapi airnya malah tergenang model gini? Mikir apa emangnya? Mikir mau jadi bini muda mas mas tukang sayur itu? Jangan mau, Pesta! Jangan mau!'' dan Pesta pun memajukan bibir, karena ejekan sang majikan.
"Loh, Ma? Mama kenap---''
"Ini dia! Dicariin tuh dari tadi sampai pantatku sakit baru muncul. Kamu lupa ini sudah jam berapa? Kamu gak ingat hari ini Alex mau ke rumah sakit buat buka gips? Masih minat kawin sama anakku gak sih kamu ini?" repet Nyonya Milea dan Rose sampe kikuk di sana.
"Pegang apa itu, Non? Kok kain pel lantai di bawa bawa?'' tanya Mbak Pesta mencoba mengalihkan amarah Nyonya Milea.
"Oh ini, Mbak. Tadi itu kan aku dari kolam renang masih basah basah gitu masuk ke kamar mandi belakang lewat sini. Makanya aku----"
"Oh, jadi kamu yang bikin mama jatuh? Kamu sengaja mau bikin mama mati?! Kamu tau gak kepeleset itu rasanya kayak gimana?''
"Tau, Ma. Dulu istri kakak sepupu saya di Surabaya juga pernah kepeleset di kamar mandi terus kena otak dan meninggal dunia, Ma."
Semakmat.
"Mama! Rose mana, Ma! Alex mau minum gak bisa pegang gelas nih!" namun, teriakan Alex membuat amarah Nyonya Milea sedikit ia redam.
"Kok masih disini aja? Sana cepetan utus calon suamimu! Awas kalo dia ngamuk ngamuk sama mama lagi! Nikahnya batal!" sahut Nyonya Milea mengeluarkan senjata andalan dan berbalik pergi meski dengan langkah sedikit diseret.
"Jangan dengerin omelan si nenek lampir, Non Rose. Ingat anakmu sama Alex aja. Sana naik. nanti makin keras tuh teriakannya," kekeh Mbak Pesta dan Rose pun tersenyum mendengar ocehan tersebut.
"Ini kain pelnya, Mbak. Maaf ya udah bikin nambah kerjaan," sahut Rose, menyodorkan kain pel di tangannya.
Secepat kilat, Rose melebarkan langkah menuju ke lantai dua, dan sesampainya di atas, ternyata Alex sudah masuk ke dalam kamar bersama kursi rodanya.
Ceklek
"Kenapa lama di kolam renang tadi, hm? Terus siapa yang suruh kamu pakai bikini?!" teriak Alex begitu Rose sampai di dalam kamar.
"Lex kamu kenapa sih? Kan aku diajari berenang. Katanya biar bagus untuk----"
"Apa berenang harus pakai acara pegang pegang sama rangkulan kayak tadi?! Ingat ya, Rose! Kamu itu calon istriku dan dalam perutmu sudah ada calon anak kita juga yang akan lahir. Jadi jangan coba coba tebar pesona sama laki laki lain, selain aku! Ngerti?!" kesal Alex tak mau memedulikan ucapan apa yang akan Rose katakan.
Rose pun mendekat ke arah kursi roda yang Alex duduki, bersimpuh tepat di hadapan pria itu dan mulai menengadah hingga kedua manik mata mereka saling bersiborok.
"Lagi pengen ya? Dari kemarin aku sudah nawarin kan? Pas bangat waktu mama sama papa gak ada di rumah. Kenapa gak mau direspon omongan aku?" tanya Rose yang mulai mengetahui tindak tanduk calon suaminya, "Kepalanya beneran pusing ya? Aku keluarin aja dulu sebelum kita buka gips ini di rumah sakit, mau gak?'' lanjut Rose masih dengan mode merayu.
"Kamu gak ngerti, sayang. Aku maunya main tusuk tusukkan! Aku gak akan bisa pernah puas, walaupun aku sangat suka waktu si Jun ada dalam mouth kamu," lirih Alex kembali mengungkapkan gejolak dalam dirinya dan Rose bungkam seketika.
Memang selama enam minggu lebih, sejak mereka pindah ke rusunawa bersama rentetan kejadian perginya Rose berujung kecelakaan yang menimpanya, Alex belum sama sekali berhubungan badan dengan calon istrinya lagi.
Sepanjang itu pula Alex sangat bisa menahan gejolaknya, dan kebetulan juga Rose selalu berusaha menuntaskan ketegangan si Jun supaya bisa mendapatkan pelepasannya.
Sayangnya hari ini, sedikit api cemburu telah membakar hati Alexander The Laode. Terlebih ketika sang guru senam hamil tadi bisa menyentuh dengan mudah pinggang Rose, ketika ia tak sengaja mengintip aktivitas mereka dari balik tirai jendela.
"Jadi harus gimana, Lex? Kondisi fisik kamu belum bisa diajak buat main tusuk tusukkan kan? Orang sebentar lagi gips dan jahitan kamu di belakang punggung juga bakalan di buka kok. Jadi udah gak ada halangan apapun lagi kan? Tungguin masa gak bisa?'' jawab Rose masih dalam mode membujuk Alex.
"Kita tuh, bisa kok main tusuk tusukkan, sayang.... Asal kamu yang gerak di atas aku!'' sahut Alex memalingkan wajahnya.
"Tapi nanti kalo mama tau bisa gawat, Lex. Kamu sih enak, gak bakalan dimarahin. Nah, aku? Pasti kenal omel dong. Dari kemarin kemarin aja udah di wanti wanti mama, kalo gituannya cuma boleh pake mouth aja," sahut Rose akhirnya bangkit berdiri dan duduk di pinggir tempat tidur.
Kaki Alex yang tidak terkena cedera berat pun mulai mencoba turun ke lantai dan itu membuat kursi roda sedikit berbunyi.
"Eh, Lex?----"