I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 59



Kereta jurusan Solo mulai berangkat dari stasiun gambir Jakarta. Dari jendela kereta yang tertutupi oleh kaca bening, terlihat di dalamnya Rose Van Houteen sedang duduk manis menatap keramaian orang orang yang berada di luar kereta, tetapi dengan wajah suram akibat perasaan galau dalam hatinya.


"Nak, kamu baik baik ya di dalam sini? Jangan nakal. Mama hanya punya kamu,'' batin Rose, mengusap lembut perutnya yang masih datar.


Ya, Rose menepati janjinya. Ia meninggalkan kota Jakarta, tempat dimana semua kenangan pahit serta manis terjadi di dalam hidupnya selama hampir lima bulan belakangan ini.


Rose sangat mencintai Alex dan karena rasa cintanya yang besar itu pula, maka ia rela ketika Nyonya Milea menyuruhnya untuk meninggalkan putranya.


"Maafin aku, Lex.... Aku gak ingin kamu hidup melarat kayak aku. Dari kecil kamu udah hidup enak. Lain sama aku yang memang hidup susah. Mungkin kamu masih dibutakan sama perasaan cintamu aja, Lex. Nanti kalo kamu sudah punya anak dengan wanita lain dan anak kalian semakin besar, maka kamu akan tahu kalo kebutuhan hidup anak itu bermacam macam. Belum lagi kalo anak kamu dua atau tiga, Lex. Yang satu belikan ini, pasti yang dua juga mau. Kalo kita hidup susah bedua, pasti gak akan bisa adil. Memangnya kamu bisa kerja kasar jadi buruh gitu, Lex? Aku benar benar gak tega lihat kamu yang hidup enak tiba tiba berubah kayak gitu, Lex. Jadi biarlah takdir kita seperti ini,'' batin Rose mencoba menguatkan dirinya.


"Udah, jangan ngelamu aja! Kamu harus kuat demi anak kamu, Rose. Nih, keretanya udah bergerak. Yakin kan sama pilihan kamu ini?'' tanya Riri menepuk paha kanan Rose.


"Egh, iy...iya. Aku siap, Riri.'' jawab Rose, tetapi disertai air matanya yang sekali lagi mengalir.


"Kalo gitu jangan nangis. Buktikan sama mamanya Alex, kalo kamu bisa membesarkan anak kalian ini dengan baik dan jadikan dia orang sukses tanpa campur tangan keluarga mereka sama sekali. Oke?'' sahut Riri dan keduanya berpelukan erat.


Sementara di tempat lain, Alex telah kembali ke tempat Rose di rusunawa, karena ia masih berharap kekasihnya itu hanya pergi sebentar entah kemana dan akan kembali lagi ke hubian mereka.


Akan tetapi alangkah terkejutnya Alex, saat kedua bola mata hitamnya bersibobok dengan mata ibunya di depan pintu gerbang rusunawa.


"Mau apa sih, mama ke sini? Sejak kapan juga mama tau aku pindah? Apa si Jhonny yang ngasih tau ke mama? Tapi kan dia lagi ada di Sidoarjo temanin si Badron cari kesepakatan sama para pekerja yang lagi mogok kerja. Nomor hape dia udah gue ganti. CK! Dasar jahat!" batin Alex dengan berat hati melangkah terus memasuki pintu gerbang rusunawa.


"Lex.....?''


"Ngapain mama kesini?'' ketus ALex benar benar tak bersahabat.


"Mama mau jemput kamu pulang, Nak! Mama minta maaf sudah nampar kam----"


"Udah basi! Alex gak pernah ngerasa ditampar sama mama tuh. Jadi mendingan sekarang mama pulang dan jangan minta Alex pergi dari sini. Alex gak mau pulang! Alex mau cari Rose yang di culik sama orang!''


Deg!


Raut wajah Nyonya Mileapun berubah drastis, ketika mendengar ochan Alex dan putranya itu melihat perubahan di wajah ibunya.


"Apa mama bertingkah macam macam lagi sama Rose?'' tuduh Alex, langsung mencengkeram kedua lengan Nyonya Milea. Wanita itu terdiam dan pikiran jahat pun semakin berkecamuk di dalam dirinya, "Mama, jawab Ma!''


"Enggak, Lex! Enggak! Mama aja baru daru datang ke tempat kamu ini, Mana mama tahu si cewek udik itu hilang atau di culik,'' jawab Nyonya Milea berusaha menyembunyikan rasa gugup.


Sayangnya Alex tidak percaya dengan ocehan ibunya, tetapi bayangan wajah Rose membuatnya tidak mau ambil pusing. Menurutnya mencari kekasihnya lebih penting, daripada sibuk bercerita tidak jelas.


"Ya udah, Mama pulang sana. Jangan harap Alex mau pulang ke rumah! Alex mau tinggal sama Rose disini kalau perlu sampai selamanya! Sana pulang!''


"Lex.... Jangan egois gitu, Nak! Aku ini mamamu. Aku ini ibu yang melahirkan kamu.'' sahut Nyonya Milea tidak terima. Ia mengejar putranya yang berjalan menuju ke tangga rusunawa, tetapi segera saja laki laki dua puluh lima tahun itu menepis tangannya hingga membuat kakinya oleng dan tersungkur di tanah.


"Ck! Cari masalah aja! Mama kenapa sih, ngotot banget! Kepala Alex udah pusing ini, Ma! Alex sekarang mau cari Rose! Alex mau ambil hape buat hubungin JHonny dan tanyain teman teman premannya itu masih ada lagi apa udah di bawa semua ke Sidoarjo! Mama malah nyusahin kayak gini! Pulang sana, Ma! Alex pusing tau gak sih!'' teriak Alex membuat beberapa orang menghampiri mereka.


Nyonya Milea yang kaget pun berusaha berdiri, dan Ipah serta Mak Rape segera menolongnya.


"Maafin mama, Lex..... Tapi kamu nanti pulang kan, Lex?'' tangis Nyonya Milea menatap wajah Alex dan berharap keinginannya terkabul.


"Udah deh, Ma. Jangan pernah nyuruh Alex pulang sebelum mama mau menerima Rose jadi istrinya Alex! Mak Rape makasih banyak ya. Peh, tolong belikan obat merah sama plester gitu di indomaret depan. Bantuin obatin kaki mamaku dulu bentar, bisa kan? Gue lagi buru buru mau telepon abang lo ini. Soalnya Rose benaran gak pulang pulang, Peh. Tolongin bentar ya, Mak Rape?''


"Duh, kasihan bangat. Kemana tuh anak gadis perginya. Dia kan belum tau bangat jakarta ini kayak gimana,'' sahut Mak Rape menatap Ipeh.


"Iya, Bos. Ini Ipeh beliin obat,'' sahut Ipeh secepatnya melangkah setelah berkata demikian.


Alex pun kini berlari ke arah tangga rusunawa, dan meninggalkan ibunya dan ibu Jhonny itu di sana.


"Mari bu, Kita duduk di warung kopinya si Jeje. Tuh, di sana. Nanti biar diobati kakinya sama---"


"Lepasin, gak usah pegang pegang! Saya masih bisa jalan sendiri. Jangan sok baik ya sama saya!Dasar orang kampung lebay!'' sinis Nyonya Milea menepis tangan Mak Rape dan segera berlalu menuju mobilnya.


"Astafirullah.... Jadi begini kelakuan mamanya si Bos Alex? Pantasan aja anaknya pindah kesini. Lah, tinggal sama nenek lampir, gimana gak kabur! Gue dikatain lebay lagi. Lo aja kali yang rempong! Anak mau nikah aja ya udah biarin aja. Cepat dapat cucu kan asyik. Dasar oranng kaya rakus!'' gerutu Mak Rape siap membalikkan badannya. "Egh, tunggu dulu. Tapi itu mobil yang habis subuh nangkring disini kan ya? Apa ada hubungannya sama hilangnya si Rose? Beneran deh itu mobilnya. Kan pulang dari mushola tadi gue lewat samping tuh mobil sambil ngaca ngaca dikit. Coba aja si Ipeh juga ikutan sholat di mushola. Pasti ngeliat juga dia---''


"Ngeliat apaan, Mak? Mana mamanya bos ALex tadi?''


"Ck! Elo, Peh! Ngagetin aja!'' pekik Mak Rape.


"Mana orang yang tadi itu, Mak? Ditanya malah kaget aja. Nih, obatnya udah Ipeh beliin. Ada kembaliannya juga.''


"Sini buat Emak aja kembaliannya. Si emak rempong itu udah pulang. Pake ngatain emak lebay lagi. Mau emak tuntun ke warung si Jeje situ kan? Eh, dia malah marah marah sama Emak, terus masuk ke mobilnya. Pulang deh dia. Kesal gue!'' gerutu Mak Rape menyimpan uang kembalian tadi ke dalam saku dasternya.


"Ya udah kali, Mak. Emang gitu kelakuan orang tajir melintir. Emak gak tau aja si Rose sering curhat tentang mamanya Bos Alex yang suka ancam dia biar menjauh dari anaknya, Mak. Makanya mereka sampai pindah dari apartemen di Modern Land situ ke sin---''


"Nah, benar berarti dugaan gue! Emak rempong tadi pasti ada hubungannya sama hilangnya si Rose, Peh!''


"Astaga, Mak! jangan asal nuduh gitu kali. Enggak baik, Mak!'' sahut Ipeh sedikit terkejut.


"Emak gak bohong, Peh. lo tau apa? Tadi pas pulang dari mushola, emak lihat mobil mak rempong itu tadi parkir di bawah sini. Nah, gak lama kan si Rose hilang? Jangan jangan dia dibius terus dibawa masuk ke mobil terus dibuang ke---''


"Astafirullah, Mak! Tega benar emak doain si Rose kayak begitu. Ngeri Ipeh dengarnya, Mak!'' ujar Ipeh memarahi sang ibu.


"Tapi ini kenyataan, Ipeh! Demi Allah emak gak bohong! Lo mau kemana sekarang? Ke tempat Alex anterin obat ini kan? Ayo kita kesana bareng bareng. Emak mau bilang soal ini ke Alex juga. Demi si Rose ini, Peh. Kasihan kan anak orang!''


"Ya ampun, Mak? Beneran gak sih? Ya udah, ayo deh kita naik.'' Dan keduanya bergegas menemui Alex di lantai empat.