I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 64



"Ko, yakin ini alamatnya? Ini sih toko bangunan punya si Komeng! Teman mainku dulu di SMA dia itu,'' celetuk Cio ketika selesai membaca tulisan Alex dalam secarik keras.


"Hah, yang benar lo?!''


"Suer, Ko! Masa aku bohong, sih! Yo wes ayo kita kesana sekarang aja biar cewekmu cepar ketemu, Ko!'' semangat Cio, yang lekas berdiri dari tempat duduknya, "Oma! Cio sama Koko pergi sekarang ya, Oma? Alamat sama kertas faksimile udah ada nih,'' bahkan ia juga berteriak memanggil Omanya.


"Heh, enggak makan dulu toh kalian?''


"Wes, ndak usah aja. Si Koko udah kebelet pipis, Oma!'' kekeh Cio yang langsung dihadiahkan satu lemparan bantal sofa oleh Alex.


"Yo wes, hati hati,'' ujar sang Oma ikut terkekeh.


Alhasil, berangkatlah dua anak manusia itu ke toko bangunan yang ada di jalan karang Menjangan Gubeng, tentu saja dengan menggunakan mobil Cio.


"Bisa gak lo telepon dulu teman lo itu, Cio?'' ujar Alex di tengah mobil mereka yang sedang berada di lampu merah.


"Aku ndak punya nomor teleponnya si Komeng lagi, Ko. Yang aku dengar waktu itu sih, memang bininya meninggal dunia. Dia kan umurnya dua puluh mepat tahun tuh sama kayak aku. Jangan jangan---''


"Jangan jangan apa?''


"Ya itu, Ko. Jangan jangan cewekmu ini kayaknya mau disuruh kawin sama si Komeng deh firasatku. Kan Bapaknya si Komeng itu Pamannya si cewek ini. Jadi mungkin dia salah kaprah makanya kabur ke Jakarta dan ketemu sama Koko. Padahal mau dijadikan istrinya si Komeng bukan jadi mama mud--- Aduh! sakit, Ko! Kok aku dijewer sih?''


"Gue ngak ngurus soal itu, dan lo jangan cerita kayak gitu lagi atau gue cekik batang leher lo sekarang, Cio!'' kesal Alex selesai menjewer telinga Cio.


"Maaf, Ko. Cemburu ya?'' kekeh Cio lekas menginjak pedal gas, "Semoga aja sampai sana cewekmu belum nikah sama si Komeng ya, Ko?''


"Cio! Gue matiin lo sekarang!''


"Sadis! Maaf, Ko. Maaf!'' teriak Cio diikuti gelak tawanya.


Sepanjang dua puluh menit yang tersisa sejak mereka pergi dari perumahan Pakuwon Indah ke Karang Menjangan, pun diisi dengan gelak tawa Cio yang seakan tak kenal kata lelah. Semua itu jelas kerena sikap meledak ledak yang Alex tunjukkan.


"Udah dekat, Ko. Tuh, tokonya udah keliatan. SLow down aja dulu. Nafasnya diatur baik baik,'' tegur Cio melirik sekilas ke arah Alex, "Terus juga sampai sana si Komeng jangan sampai Koko pukul ya? Kali aja dia gak mau balikin cewekmu, Ko.''


"Lo bisa diam gak sih! Brengsek lo!'' umpat Alex membalas ejekan adik sepupunya.


Lima menit kemudian, mereka berdua turun dari mobil dan dengan tergesa Alex masuk ke dalam toko bangunan yang memang tertera dalam kolom alamat di Ijazah Sekolah Menengah Atas milik Rose Van Houteen.


"Apa katamu? Rose Van Houteen?!'' nada tak suka terdengar dari mulut pria paruh baya yang Alex tebak adalah Paman kekasihnya.


"Iya, Paman. Saya calon suaminya. Jadi saya----''


"Sialan! Jadi kamu ini yang sudah bikin Rose kabur dari rumah, hah?! Dimana anak yang ndak tahu terima kasih itu sekarang?! Sudah bikin mantuku kepeleset dari kamar mandi sampai mati! Disuruh gantiin jadi Mamanya cucu cucuku malah kabur!'' teriak Pak tua itu lagi, "Bawa dia kesini sekarang! Bawa dia kesini cepat! Komeng harus kerja ngurusin proyek proyeknya! Jadi anak sialan itu yang harus besarkan dua cucuku!''


Sekakmat!


Kedua kaki Alex seakan lumer seperti lelehan coklat, saat mendengar amarah yang terpancar dari Paman kekasihnya. Ia tak memedulikan tentang sebab akibat Rose melarikan diri dari toko bnagunan itu, karena yang ia pikirkan adalah dimana keberadaan pujaan hatinya saat ini.


"Maaf, Paman. Ini saya Cio Wung. Temannya Komeng waktu masih SMA di Ngangel dulu. Maafin kakak sepupu saya ini. Dia agak stress mungkin. Permisi dulu ya, Paman! Tapi si Rose itu memang ndak ada disini kan, Paman?'' lekas Cio memegangi tubuh Alex dan berusaha bertanya sekali lagi.


"Kalian ini siapa sebenarnya? Mau apa cari anak sialan ndak tahu diri itu, hah? Dia ndak ada disini! Kalo pun ada, sudah aku kawinkan sama anakku karena bersihkan kamar mandi ndak becus sampai mantu kesayanganku mati kepeleset kena geger otak!''


#######


Ke Jakarta aku kan kembali. Lirik lagi Koes Plus itu tamoaknya kini benar benar terjadi dalam hidup seorang Alexander The Laode. Ia kembali dengan tangan hampa, karena apa yang ia cari tak ada di sana.


Sebenarnya Alex masih ingin mencari Rose ke seluruh penjuru kota Pahlawan, hanya saja desakan dari Tuan Guen untuk segera pulang, akhirnya mau tak mau ia penuhi.


Kebetulan tuan Guen menerima sedikit clue karena mendapat kiriman pesan singkat dari bank swasta, tempat ia menyimpan pundi pundi rupiahnya selama ini. Di sana tertulis jika dua hari yang lalu telah terjadi penarikan uang sejumlah dua ratus juta rupiah, melalui cek yang sudah Tuan Guen tanda tangani. Maka, pria paruh baya itu pun lekas menelpon Alex untuk menanyakan perihal pengeluaran yang tak sedikit itu, dan keduanya pun menduga Nyonya Milea adalah dalangnya.


Alex bahkan sempat terkejut, karena tuan Guen berfirasat bahwa uang itu bisa jadi digunakan Nyonya Milea untuk membayar jasa pembunuh bayaran dan yang terbunuh tentu saja si cantik, Rose Van Houteen.


Itulah hal yang menjadi alasan lain kepulangan Alex ke ibu kota Negara, adn setumpuk amarah sudah ia siapkan untuk memaksa sang ibu agar mau berkata jujur.


"Oke! Kita lupain pertanyaan Alex dari kalo emang Mama masih kekeh gak mau mengakui kesalahan Mama! yang jelas sekarang bukti lain sudah ada kali ini. Kalo mama gak mau ngaku juga? Alex akan bayar petugas intel dari Mabes Polri untuk mengusut ini!'' serang Alez memperlihatkan handphone sang ayah.


"It....itu....''


"Mama pake buat apa uang dua ratus juta yang keluar dari rekening papa itu, Ma? tanggal yang tertera dalam pesan singkat itu adalah tanggal dimana pacar Alex hilang! Mama juga pagi pagi udah keluar rumah sendiri tanpa supir dan anehnya Mama selalu teriak teriak histeris waktu Papa atau Alex tanya soal Rose. Bukannya selama ini, itu sifat yang Mama tunjukkan saat tidak mau kami salahkan kalo kita sedang berdebat?''


Hening!