I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 41



"Loh, tadi itu kayaknya Rose deh. Ini kan gantungan kunci boneka yang tempo hari dia beli di Gramedia sama aku? Tapi kok?" sayangnya orang tersebut baru menyadari jika sesuatu yang salah tengah terjadi, ketika tubuhnya sudah berada di dalam lift dan itu disebabkan boneka kecil yang terinjak kakinya.


Alhasil dengan cekatan tangannya mengambil ponsel dalam saku celana jeans dan berniat untuk menanyakan hal tersebut pada Alex.


"Aish, gak ada jaringan lagi!" gumam orang yang tak lain bernama Johnny itu, si orang kepercayaan Alexander The Laode.


"Oncom! Ya kan ini gue mau ke bawah! Bego! ya jelas aja jaringan hape pada hilang muncul gak jelas! Buset dah...." gerutunya masih berlanjut.


Jhonny berniat akan bertanya ketika sudah sampai di lantai bawah, tetapi hal itu tentu saja semakin membuat Rose dalam keadaan yang sangat membahayakan.


"Lex, di sofa aja....''


"Iya, tapi---''


"Ayo, Lex.... Aku udah gak tahan bangat... Panas, Lex.... Aku mau kamu sentuh..."


Efek obat perangsang itu, bahkan semakin membuat logika dan pandangan mata Rose hilang entah ke negeri berantah mana, hingga tingkahnya yang polos pun tak ada lagi di sana.


"Sssttt.... sabar dong, sayang .... Aku bakalan ada buat kamu sampai besok atau lusa kok." ujar Boy sembari terus membawa Rose ke dalam kamarnya. "Yang penting aku sudah tahu kode akses pintu apartemen kamu ini. Jadi tinggal aku ganti, terus kita bisa have fun dan berhenti main sebelum pacar bego kamu itu pulang tiga hari dari sekarang. Iya kan, sayang? Oh, indahnya...." kekeh Boy dalam hatinya.


Alhasil, kini Boy pun mulai menurunkan Rose di tempat tidur, dan bersiap akan melangkah kembali ke pintu utama unit apartemen untuk melancarkan aksi bejatnya.


"Lex.... Mau kemana.... Aku udah gak tahan, Lex. Ayo... Aku mau dicium ininya...." Namun, Rose ternyata sudah lebih dulu bertindak dengan membuka kemeja hingga tersisa bra berenda nya itu.


"Lex...."


"Rose, aku tutup pintu dulu ya? Tunggu---"


"Aku gak mau.... Cepetan buat aku pengen buang air kecil kayak kemarin lagi..." Rose manarik pergelangan tangan Boy, hingga tubuh tegap itu terjatuh menimpanya.


"Argh!" pekik Rose terkejut.


Boy yang jatuh di tubuh Rose itu pun bergerak untuk bangun dan dalam posisi duduk, ia hendak langsung memangsanya.


"Cepat bukain, Lex...." rengek Rose dan Boy akhirnya berhasil menarik dan melepaskannya hingga yang tersisa hanya segitiganya.


Sayangnya, harapan yang sudah tinggi pun harus jatuh kembali ke tanah karena Dewi Fortuna ternyata masih berpihak untuk cinta suci sang CEO.


"Brengsek! Lo mau perkosa si Rose, hah?! Gue matiin lo, setan! Gue matiin lo sekarang juga!"


Brugh!


Brugh!


#############


#############


"Halo, Bos?''


"Iya, lo dimana?''


"Lah, Bos yang dimana?'' Jhonny menelpon ALex untuk bertanya keberadaan majikannya.


"Ya gue di Bandara Soeta sinilah, Oncom! Di bagian kafenya nih. Jadi-----"


"Jangan bohongin gue dong, Bos. Seriusan ini Bos di mana?'' Namun, amukan Alex pecah diujung panggilan telepon.


"Sialan! Gue di Bandara, Oncom! Lo dimana? Kalo udah di depan dan buru buru pengen lanjutin acara tusuk tusukan lo itu, ya lo bilang! Jadi gue tinggal jalan ke depan! Benar benar nih anak.''


"Iya, tapi bukan itu. Maksud gue Bos ini lagi sama Rose kan sekarang? Tadi kan kita papasan di jalan waktu di lift.'' Jhonny yang bingung pun akhirnya buka suara.


Hal itu sukses membuat Alex ikut kebingungan dengan maksud dari si anak buah, dan pertayaan pun terlontar begitu saja.


"Emang pas turun dari apartemen tadi, lo lihat cewek gue? Ya wajar dong kalo kalian ketemu di jalan. Kan lo pakai unit gue buat mesum! Oncom lo em---"


"Bukan itu, Bos. Tadi itu masalahnya Rose di gendong sama cowok sambil ciuman di jalan. Karena muka si cowok gak kelihatan, makanya aku tanya sama----''


"APA?!' murka pun terjadi, "Sialan lo, Oncom! Apa maksud lo, hah?!''


DEG


Jantung ALex seakan lepas dari tempatnya, begitu pal dengan rasa keterkejutannya Jhonny yang baru menyadari keanehan tersebut.


"Astaga! Yang Rose cium tadi itu pake anting magnet gitu cowoknya! Lah, kan si Bos---"


"Bego! Lo tunggu apa lagi, hah?! cepat lo hajar bajingan itu, atau gue yang bakalan habisin lo nanti!'' teriak ALex dan sambungan telepon pun terputus.


Sementara itu pergulatan panas hampir berlangsung di lantai tujuh belas, dan kini Boy mulai menurunkan Rose diatas tempat tidur.


"Lex.... Mau kemana..... Aku udah gak tahan, Lex.... Ayo, Lex.... Aku mau di cium ininya....'' itu suara Rose, dan ia merengek ingin segera dipuaskan.


Tangan Rose terus merengek dan bergerak mengelus si Dedek dari luar celana yang ia gunakan dan hal tersebut benar benar membuat Boy bergeming di tempat.


"Gila nih cewek! Bikin horny bangat! Tapi kode apartemen belum di ganti tuh, bahya kan kalau sampe ada yang masuk," kewaspadaannya muncul hingga laki laki delapan belas tahun itu kembali tegak berdiri, "Egh! apa apaan ini?! Wow..... Body lo emang seksi bangat, Rose! Lo tunggu apa yang bakalan gue buat sedikit lagi,''batin Boy sekali lagi, sebab matanya kini melihat Rose sudah membuka kemejanya.


"Lex....." rengek Rose, saat Boy yang baru saja membalikkan badannya dan cepat menarik pergelangan tangan Boy hingga tubuhnya jatuh menubruk tubuh Rose.


"Arg!" pekik Rose sekali lagi, dan itu disebabkan karena tubuh tegap Boy yang jatuh menimpanya.


"Sialan! Gak tahan bangat nih si cewek bego! Bikin tambah kenceng aja. Ya udahlah! Nanti aja habis satu ronde baru gue ganti kode pintunya.'' Boy membatin dan mengesampingkan niatnya untuk sementara.


Boy bergerak dari tubuh si cantik Rose yang tertimpa lalu beranjak untuk duduk, di depan Rose. Tangannya baru saja hendak mulai perlahan beraksi, tapi Rose lebih dulu menarik kedua tangan itu.


"Ayo cepat, Lex....." rengek Rose dan kekehan jahat Boy pun kembali terdengar.


"Sabar, Beb. Sabar.....''


"Gak mau sabar! Maunya di belai langsung ini,'' rengek Rose dan membuatnya sukses terbuka.


"Waow! Doi mancing bangat nih cewek! Jangan bilang kalau? Owh.....'' pikiran kotor itu semakin membuat Boy terus melancarkan aksinya. Ia langsung mulai beraksi, lalu hanya hitungan detik si cantik pun sudah setengah tidak mengenakan apapun.


"Sialan! Oh, Gila! Lo mau gue belai kan, Beb? Lo mau gue puasin kan? Sekaranglah waktunya, Rose..... Ayo kita mul-----"


"BRENGSEK!!!! Lo mau perkosa si Rose, hah?! Gue matiin lo, setan! gue matiin lo sekarang juga!''


BRUGH!


BRUGH! BRUGH!!


Alhasil, pupuslah sudah harapan indah penjahat kelamin, karena Jhonny lebih dulu melayangkan bogem mentahnya di wajah tampan Boy.


"Argh, Sialan! Mau apa lo, hah?!'' Boy bangkit berdiri, dan ia pun melakukan perlawanan. Satu tinjuan berusaha ia lakukan, tetapi dengan sigap Jhonny lebih menambah pukulannya.


BRUGH!


Boy lagi lagi jatuh tersungkur ke lantai. Hal itu tentu saja dimanfaatkan Jhonny, dengan duduk di atas tubuh si penjahat kelamin dan terus memukulnya hingga babak belur.


"Lex...... Ayo, Lex.... sentuh aku....''


"Astaga! Rose, lo gil--- Hemph! Hei, gila!''


BRAK!


Jhonny terpaksa mendorong tubuh Rose hingga tak sengaja si cantik membentur meja.


"Lo apain dia, hah?! Sialan! Lo apain si Rose sampai jadi aneh gitu, setan! Lo cecoki obat perangsang kan?''


Brugh!


Brugh!


Kembali Jhonny menghajar Boy hingga babak belur, tetapi Rose lagi lagi menghambat pergerakan sang preman, dengan memeluk tubuhnya dari belakang sekali lagi.


"Alex, ayo kita-----"


"Sadar, Rose! Sadar ini gue Jhonny?''


Rose tanpaknya tak peduli, dan Jhonny terpaksa menepis tangan si cantik, lalu menggendongnya ke tempat tidur. Dengan sigap ia pun menyeret tubuh Boy yang babak belur itu untuk keluar dari kamar Rose dan mengunci pintunya dari luar.


Jhonny lantas membuka gesper yang ia kenakan, lalu benda dari kulit ular itu ia pakai untuk mengikat kedua tangan Boy.


"Ampun! Ampun, Gue gak bakal----"


Brugh!


"Gak akan gue ampuni! Lo belum tahu kan gue siapa, Bajingan?! Gue ini preman yang di bayar pacar si Rose biar insaf dan jadi orang baik lagi! Jadi kalau lo mau jadi orang jahat, gue bakalan jadi malaikat pencabut nyawa lo!''


Brugh!


Jhonny terus memukul Boy hingga wajahnya semakin berdarah. Tidak puas melakukan hal tersebut, ia bahkan menelanjangangi mangsanya dan kembali menghajar sang pemuda tidak tahu malu itu.