
"Hebat kan akting Topan, Ma? Enggak salah kalo dulu Topan sering ikutan casting FTV buat jadi cameo. Jadi mama mau berapa nih?" celetuk Topan mulai menghitung lembaran rupiah itu. "Wah.... Tiga juta, Ma! Eh, buset! Bisa buat beli sepatu basket baru nih! Mama gak usah dapat aja ya, Ma? Kan bentar lagi mama gajian. Belum lagi dapat jatah bulanan dari si papa. Ya, Ma?" ujar Topan dan Kinara hanya bisa menghela nafas beratnya.
"Duit itu gak halal tapinya, Bang. Bagaimana kalo sampai ibu tadi itu ternyata berbohong dan anaknya gak celaka? Apa kamu yakin temannya si Riri itu gak dalam bahaya? Apalagi tadi mama udah keceplosan aja bilang temannya itu hamil," sedih Kinara, terus kepikiran dengan nasib Rose yang ternyata dapat perlakuan jahat dari ibu kandung Alex.
"Alah! Ngapain kita pedulikan tuh cewek, Ma. Intinya kita udah jujur dan jangan soudzon. Masa si tante gila itu tadi bohong, tapi nangisnya sampai sesenggukan gitu? Terus pas Topan udah disodorin duitnya nih, dia masih lagi ngerogoh isi dalam tasnya. Itu pasti buat jatahnya mama tuh. Sayang aja mama pake nolak segala. Etdah, gagal deh tangkap ikan ged-- Aduh duh! Sakit.... Ma!''
"Kamu tuh dari kecil isi otaknya duit duit duit melulu! Awas aja kamu gak cepat cepat urus skripsimu sama cari kerjaan! Mama usir kamu dari rumah ini!" kesal Kinara bangun dari duduknya.
"Siap, Bos! Topan bakal rajin konsultasi sama dosen pembimbing deh besok besok," rayu Topan mengikuti langkah sang mama. "Tapi mama jangan kasih tau si Riri soal duit ini dan tolong kartu nama si tante gila tadi kasih ke Topan aja ya, Ma? Mana, sini, Ma." pinta lelaki itu mengulurkan telapak tangannya.
"Mau apa kamu sama kartu nama si ibu tadi? Kamu mau jadi brondong sewaannya dia?!"
"Astaga naga, Ma! Tega benar bilang anaknya kayak gitu, Ma. Ya, Topan mau bantuin gitu dong kalo semisalnya mereka belum tau jelas alias belum nemu rumahnya si bude Ratna. Kan kasihan Topan udah di kasih duit segini banyaknya tapi mereka masih nyasar aja nyari temannya si Riri itu. Benar kan, Ma?'' bohong Topan mencoba merayu sang ibu.
"Ya, udah. Nih, Mama kasih ke kamu aja. Pokoknya kamu harus amanah sama uang orang itu, oke?''
"Beres, Ma. Makasih. Cup!'' satu kecupan mendarat di pipi Kinara dari bibir putranya.
"Tapi, ingat! Awas kamu berani minta minta uang lagi sama ibu itu! Bakalan langsung mama laporin perbuatan nakal kamu nanti ke Papa! Paham?!"
Glek.....
Topan sedikit kepayahan menelan salivanya, sehingga ia hanya bisa membuka telapak tangan kanan, lalu menghadiahkan sikap hormat pada sang ibu layaknya anak sekolahan yang sedang menghormati sang bendera merah putih saat hendak di kibarkan.
*********
"Halo, Pap? Mama dalam perjalan ke Solo sekarang ini. Udah booking tiket online pas on the way ke Bandara, jadi Papa tolong kasih kabar ke mama terus kalo Alex udah sadar dari operasinya ya, Pap?''
"Loh, Mama ini gimana sih? Papa kan harus ngurus kantor juga. Belum beres masalah pabrik di Sidoarjo itu kemarin efek anakmu ke Surabaya. Gimana sih?!" amuk Guen menjawab telepon istrinya.
"Enggak bisa, Pap. Tadi mama udah dapat info detail tentang Rose. Dia di Solo dan cucu mama memang ada dalam perutnya. Jadi Alex gak bohong, Pap. Maka itu mama harus segera bawa Rose ketemu sama Alex. Biar dia cepat sembuh. Bye, Pap!" sambungan pun diputuskan secara sepihak oleh Nyonya Milea. Tuan Guen yang masih ingin bicara, terpaksa bungkam seketika, lalu melangkah menuju ruangan dokter.
"Bagaimana, Dok? Apa yang ingin anda bicarakan tentang operasi anak saya barusan?'' tanpa basa basi lagi, Tuan Guen menanyakan keadaan sang putra.
"Oh, Iya. Maaf, Dok." Guen pun ikut tersenyum hambar, kemudian duduk dengan posisi tegak dan wajah yang kembali serius di sana.
"Pasien Alex ini hanya patah tulang biasa kok, Pak Guen. Hanya saja luka robek di bagian punggung belakangnya tadi sangat dalam dan lebar. Maka itu saya menganjurkan tindakan operasi secepatnya, agar saya juga dapat melihat apakah tulang pada bagian rusuk dan punggung belakangnya itu sendiri ikut patah atau tidak, serta apakah terjadi pergeseran posisi tulang atau tidak," jelas sang dokter, tetapi Guen masih saja khawatir.
"Jadi bagaimana kondisi anak saya saat ini, Dok? Proses pemulihannya berapa lama? Kakinya bagaimana, Dok? Apa ada yang patah juga?" tanya Guen masih dengan mimik wajah seriusnya.
"Oh, kalo posisi tulang kaki dan tulang pinggulnya sih tidak masalah, Pak Guen. Ini juga merupakan satu mukjizat kalo menurut saya, karena kasusnya gak sampai separah anak bungsunya Ahmad Dhani yang juga ditangani oleh saya dan beberapa tim ahli bedah di rumah sakit ini. So far, hanya tulang di lengan kanannya saja sih yang patah bersama punggung bagian dalam. Walaupun mobil anak anda ringsek begitu, tapi sekali lagi saya katakan ini adalah mukjizat Tuhan yang perlu kita syukuri karena benturannya tidak sampai mengenai kepalanya." jelas dokter pria itu sembari mengangguk anggukkan kepalanya.
"Syukurlah. Jadi kapan kira kira baru bisa sadar itu, Dok?'' tanya Guen lagi.
"Paling lama besok. Ya, setelah masa kerja obat biusnya habislah. Ini kan bius total. Jadi kita tunggu saja perkembangan selanjutnya ya, Pak?'' sahut dokter itu lagi.
Namun, sebuah ide gila muncul tiba tiba di otak tua Guen The Laode, dan entah kenapa kini uneg uneg itu pun ia lontarkan dihadapan sang dokter.
"Dok, gimana kalo penjelasan ini jangan sampai diceritakan sejujur jujurnya ke istri saya? Eh, maksudnya apakah dokter bisa membantu saya untuk sedikit berbohong demi memperbaiki sikap kurang baik ibunya anak saya ini?''
"Maaf, Pak Guen? Bisa langsung ke intinya saja?'' sang dokter tampak bingung sendiri dan memakai kembali kaca mata bacanya.
Alhasil, mengalir lah segala problematika hidup yang acap kali mendera dalam keluarga Guen The Laode itu ke telinga sang dokter dan setelah selesai bercerita, permintaan pun dikeluarkan dengan harapan agar hati dokter paruh baya itu segera luluh.
"Hah.... Baiklah jika itu yang terbaik menurut Pak Guen. Saya sih bersedia membantu. Hanya saja saya tak mau melanggar kode etik saya sebagai seorang dokter dan kebohongan yang katanya demi kebaikan keluarga Pak Guen ini, saya harap agar tidak berlarut larut terjadi. Dalam artian mungkin sandiwaranya tiga hari pasca anak bapak mendapatkan kesadarannya saja, Bagaimana?''
"Baik, Dok. Itu tidak masalah. Nanti saat sadar saya akan segera menceritakan pada anak saya dan saya juga akan berusaha agar bukan istri saya jangan lebih dulu ada dalam ruangan waktu anak saya sadar, Dok." ujar Guen dengan mata berbinar.
"Kalo itu, Anda tenang aja Pak. Nanti saya sediakan saja ruangan VVIP yang ada di lantai paling atas dan biar saya saja yang beri peringatan untuk istri bapak agar tidak boleh masuk dulu ke dalam kamarnya. Bagaimana?''
"Nah, Itu Dokter. Saya setuju dengan cara itu!" semangat Guen menampilkan barisan gigi putihnya yang rapih.
Alhasil, kedua pria paruh baya itu pun saling melemparkan senyum dan dimulailah sandiwara tersebut di sana. Semua ini dilakukan Guen The Laode demi kebahagiaan keluarga kecilnya, dan tentu saja dengan harapan, segala keegoisan tingkat dewa dari seorang Nyonya Milea yang sejak dulu terjadi jangan terulang kembali.