I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 77



"Ck! Tanya yang lain aja deh, Mam. Dari lantai tiga, itu aja terus pertanyaannya! Kesal Papa ngomong jawaban yang sama, Mam!" sahut tuan Guen terlihat sangat kesal.


"Ya, maaf. Mama kan takut aja kalo ternyata Alex masih belum juga sadar, Pap. Alex itu.... Hiks.... Alex itu anakku satu satunya, Guen. Cuma satu...." dan langkah Guen pun terhenti akibat tangisan istrinya.


Tuan Guen kemudian berjalan memutari kursi roda, berlutut tepat di depan Nyonya Milea dan dengan sigap membujuknya.


"Udah mau punya cucu yang cantik, kok masih cengeng aja sih? Enggak malu apa di depan Alex nangis kayak gini? Nanti kalo dilihat calon menanti kita bagaimana?'' ujar Tuan Guen yang langsung diberi pukulan kecil di lengannya.


Kekehan juga ikut terdengar dari ita suara keduanya, diikuti dengan langkah kaki tuan Guen yang kembali mendorong kursi roda yang diduduki Nyonya Milea.


Sampai pada ketika Tuan Guen dan Nyonya Milea sudah berada tepat di depan pintu rawat inap, suara ******* pun masuk ke dalam telinga mereka dan sukses pula membuat kedua bola mata Tuen Guen dan Nyonya The Laode saling bersiborok.


"Pap....ka...mu... Ya....kin ini kamarnya Alex?" tanya Nyonya Milea terbata.


"Iya, Ma. Ini kamarnya kok. Tuh, tulisan anggrek kan?''


"Iya, tapi kok ada suara....." ujar Nyonya Milea menggantungkan ucapannya, ''Papa tadi tinggalin Alex sama siapa?" lalu ia melanjutkan dengan pertanyaan lain.


Secepat kilat mata Guen membulat besar, dan dengan susah payah ia meneguk salivanya di sana.


"Papa jawab dong! Papa tadi bilang Alex ditemani perawat kan? Jadi itu suara ******* mereka berdua yang lagi main tusuk tusukkan dong! iya kan?'' sampai membuat Nyonya Milea histeris akibat suaminya yang bungkam, "Ayo kita masuk sekarang aja, Pap... Mama gak tahan dengar suara mereka nih. Makin besar aja. Kalo di dengar Dokter sama perawat lain terus terbongkar ke media, bisa habis reputasi The Laode Corporation kayak kemarin!'' rengek Nyonya Milea menyadarkan Tuan Guen dari lamunannya.


"Eh, ya udah. Ayo kita masuk aja, Mam! Dasar anak kurang ajar! Masih sakit udah mesum gini. Nanti gimana sama calon menantu kita kalo tau Alex berhubungan dengan wanita lain juga?! Bisa bisa cucu kita di bawa kabur lagi!'' geram tuan Guen dan kembali mendorong kursi roda, "Mama siap siap buka knop pintunya ya, Mam? Langsung buka jangan pake acara pelan pelan lagi!" titah tuan Guen dan Nyonya Milea pun segera melakukannya.


"Ough....Rose... Out....sayang.... Aku mau kelu---" "Astaga! Alex! Rose!''


"Eng! Mam--- Ough!" Dan alhasil yang tidak diharapkan pun terpercik ke sembarang arah akibat dari keterkejutan si calon istri, Rose Van Houteen.


"Dasar jorok! Udah tau mau out bukannya ditahan atau dipegang, malah dipercik aja keluar kayak air mancur bundaran HI! Kamu itu kapan sadarnya sih, Lex?!" omel Nyonya Milea masih duduk di atas kursi roda dan melihat Rose yang sibuk membersihkan kelakuan sang putranya.


"Pertunjukan live? Amit amit!''


"Ya, habis apa dong namanya, Mam? Udah, sayang. Enggak usah bersih bersih bangat. Nanti ada petugas cleaning service kali yang bersihkan ruangannya!'' lanjut Alex dan dua orang tuanya hanya bisa menggelengkan kepala sembari melempar cengiran.


"Bakalan mesum akut nanti anakmu, Lex. Samalah kayak papamu dulu. Iya kan, Mam?'' celetuk tuan Guen dan Nyonya Milea pada akhirnya terkekeh.


"Lebih parah dari papa deh kayaknya nanti. Soalnya kita mesumnya normal normal aja dulu kan, Pap? nah ini, mereka? Mesum kok di rumah sakit. Pake nyemprot segala lagi kemana mana," kekeh Nyonya Milea semakin menjadi.


Hal itu sukses membuat tuan Guen dan Alex semakin tertawa keras, tetapi Rose merasa sangat malu akibat kata kata vulgar yang sejak tadi mereka lontarkan.


"Kok diam aja sih, sayang. Sini dong duduk dekat dekat sama aku. Masih takut ya sama mama? Tenang aja, Rose. Mama itu gak makan orang kok. Intinya dikit lagi kita bakalan menikah. Iya kan, Mam?'' ujar Alex dan Nyonya Milea langsung berhenti tertawa.


"Iya! Kamu bakalan menikah sama anak saya karena dalam perutmu ada cucu saya. Tapi ingat, ya? Enggak boleh tinggal sendiri dan bawa cucuku pergi dari rumah! Kecuali kalian berdua aja yang minggat terus si kecil tetap tinggal sama Oma Opa. Ngerti?''


"Enak aja! Gak bisa gitu dong, Mam! Rumah mama dan papa kan jauh bangat dari kantor. Lagian kan Alex udah nyaman tinggal di apartemen. Jadi---''


"Anak anak itu gak baik diajak tinggal di apartemen, Lex. Sedikit berbahaya kalo menurut, Papa." sahut tuan Alex yang sedari tadi tak mengeluarkan suara selain kekehannya. "Mending kamu bikin aja rumah di dekat mess karyawan karena papa lihat masih bisa kok tanah yang di depannya itu dibangun satu bangunan lagi. Masih cukup juga untuk bikin halaman kecil biar anak anak kalian tumbuh dan sering beradaptasi sama lingkungan sekitar. Benar kan?''


"Eh, enak aja! Gak bisa gitu dong, Pap! Itu kan rencana mau bangun mess baru khusus untuk karyawan di bagian kantornya. Kalo di bangun rumah, terus rencana itu bagaimana?" sahut Nyonya Milea tak terima.


"Bikin tingkat dua dong, Ma. Tinggal di jakarta dari kecil kok malah lebih pintaran papa yang bule pendatang? Lebih murah merenovasi dong daripada bikin bangunan baru. Makan ongkos dan kurang efisien. Benar kan, Lex?" jawab tuan Guen dan Alex menyetujuinya.


Namun, Nyonya Milea tetap saja tidak setuju atas pendapat kedua lelaki kesayangannya, sebab ia berharap bisa selalu dekat dengan cucu cucunya nanti. Maka ia berusaha keras memutar otaknya dan akibat bisikan peri hitam dalam hati, maka sikap arogan itu kembali datang.


"Ah, gak mau kayak gitu. Enggak ada juga acara bangun rumah segala! Keputusan mama sudah bulat, kalo kalian tetap harus tinggal sama kami di rumah! Soalnya mama udah kasih ijin untuk kalian menikah, jadi kalo masih membantah omongan mama, maka acara menikah dan ijinnya dibatalkan selama lamanya! Titik!'' titah Nyoya Milea, membuat ketiganya pasrah tak bisa membantah apapun lagi.