I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 58



"Loh, kenapa?'' bingung Riri melepas pelukannya.


"Soalnya kata ibunya Alex, cek ini harus cepat dicairkan dan juga aku harus segera pergi dari Jakarta. Alex bakal ketemu aku kalo gak gerak cepat, Ri," jelas Rose dan Riri lagi lagi bingung dengan ucapan tersebut.


"Sebenarnya maunya Alex apaan sih, Rose? Dia mau nikahin si artis artis itu jadi istri pertamanya tapi juga masih mau sama lo dan gak mau lo pergi gitu aja? Apa karena anak ini doang? Terus kalo lo nanti lahiran, dia bakalan bawa anak lo terus----"


"Enggak gitu, Ri. Alex gak mau menikah sama artis itu. Dia bilang apapun susahnya hidup dia kedepannya nanti, dia tetap mau kami ada sama sama sampai tua. Cuma aku gak bisa lihat dia sudah, Ri. Kamu sendiri dari kecil ngerasain kan kayak apa hidup dengan kelimpahan materi? Coba kalo kamu tiba tiba hidup susah hanya karena mencintai, Ri? Apa pasanganmu juga gak ngerasa bersalah sudah menjadi penyebab kesusahan itu?" jelas Rose dan Riri berkata apapun, selain menghela nafasnya dalam dalam.


"Ya udah, sini ceknya. Biar aku aja yang cairkan. Lo tunggu disini. Pas mamanya Alex kasih lo cek ini, pasti suruh lo cepat cepat cairkan di Jakarta kan? Biar gak bisa dilacak sama Alex dimana nanti lo tinggal. Iya kan?''


"Iya, Ri. Ibunya bilang gitu."


"Hadeuh! Basi bangat cara mamanya si Alex itu. Sayang aja gue lihat cinta lo gede bangat sama dia. Jadi gini deh ujungnya. Hem.... Gak bisa rela kalo jadi lo. Sedih beneran gue, Rose." Riri berkata dengan mimik wajah muramnya.


"Sudahlah, Ri. Aku janji bakal hidup kuat dan bahagia bersama anakku. Walaupun Aku gak bisa memiliki Alex, tapi anak ini juga bagian dari dia, Ri."


"Ya, udah. Gue ikut aja maunya lo apaan. Tapi lo ikhlas kan? Maksud gue, seandainya dia menikah sama si artis itu, lo gak bakal nyesel kan?" Riri mencoba mengingatkan Rose.


Sayangnya si ibu hamil hanya menggelengkan kepala dan Riri menggenggam erat tangan Rose di sana.


"Oke, kalo gitu nanti kita naik kereta aja ke Solo. Di sana ada sepupu gue juga yang masih kuliah kayak kita, tapi dia ambil keperawatan. Terus saran aku, ada baiknya duit dua ratus juta ini lo pake bikin kios sembako kek, apa kek gitu. Biar lo ada kegiatan karena lo gak mungkin kuliah lagi dengan keadaan hamil gini dan ijazah lo juga gak ada lagi. Benar kan?''


"Kok bisa gitu, Ri? Tapi kata ibunya Alex tadi dia bakalan bantuin buat ambil surat pindah kuliah dari-----"


"Maksudnya gimana sih, Ri?''


"Maksud gue, jadi gimana? Lo yakin bakalan hidup tanpa bisa kuliah lagi? Secara ijazah lo ada sama Alex. Hayo, mikir dulu baik baik."


"Aku gak tau, Ri. Aku pikir bakalan bisa tetap kuliah." bingung Rose.


"Hadeuh, ya udah deh kalo gitu. Kita pergi aja ke Solo hari ini. Terus sepulang gue dari sana, nanti biar diam diam gue ketemu sama Nyokap Nya Alex dan minta ijazah lo sama dia. Gimana?" usul Riri, tetapi Rose kurang setuju.


"Enggak usah deh, Ri. Nanti kamu bakal kena sasaran ibunya lagi."


"Ck! Lo tenang aja, Rose. Gue bakalan ngancem dong kalo emang dalam bahaya. Gue bilang aja nanti bakalan gue bongkar rahasia tentang lo ke Alex dan yang pasti gue gak mau dong pergi sendirian ketemu ibunya di Alex itu. Harus sama kakak gue atau cowok siapa gitu. Biar ada yang lindungi. Jadi gimana? Udah tenang kan sekarang?'' Riri langsung mendapat satu pelukan erat dari Rose di sana.


Setengah jam kemudian, Riri pun pergi menuju salah satu bank swasta tempat dimana cek itu dicairkan. Setelah itu ia yakin tempat tujuannya itu sudah buka.


Sementara di tempat lain, Alexander The Laode sedang berada di kantor polisi kota Depok bersama ketua RT rusunawa tapos.


"Pacar saya gak kenal siapa siapa di Jakarta ini, Pak! Maka itu saya yakin dia diculik! Bapak minta berapa biar bisa segera menangani kasus ini, hah?!'' amuk Alex berdiri dari kursi, namun segera di rangkul ketua rt.


"Bapang tolong jaga mulut kalo ngomong ya? Ini itu kantor polisi, Pak! Bukan pasar! Bapak mengerti tidak apa yang saya katakan sejak tadi? Pacar Bapak itu menghilang belum ada 2 kali 24 jam, Pak! Jadi kami belum bisa memastikan, apakah ini kasus penculikan atau bukan!''


"Tolong, Pak! Saya bayar berapa pun! Tolong saya, Pak! Tolong!''