I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 42



Dari arah Loby apartemen, muncul juga sosok pemimpin The Laode Corporation. Ia bahkan masih mengenakan helm di kepalanya, efek menggunakan ojek saat kemacetan terjadi di tengah jalan tadi.


"Pak, Pak! Woi, Pak! Helm saya itu!'' hingga membuat tukang ojek pun mengejarnya sampai di dalam lift.


"Ngapain lo di---"


"Helm saya itu, Pak! Bapak mau maling?!''


Sekakmat!


"Astaga! Bener. Maaf gue lupa, Pak!''


"Gak apa apa, Pak!' helm pun kini dikembalikan lagi, lalu pintu lift tertutup juga di sana.


"Aduh.... Ini apaan sih, sebenarnya? Sayang..... Apa kmu benar benar udah duain aku? Aku belum siap kehilangan kamu kayak Nani dulu, sayang.... Kamu tolong bilang kalo apa yang Jhonny katakan itu bohong,'' lirih Alex sepanjang lift nasik ke atas.


Hati sang CEO gundah gulana, tetapi itu tak membuat langkahnya gentar sedikit pun. Ia bahkan semakin kuat berlari saat sudah tiba di lantai tujuh belas, dan juga segera mencegah Jhonny yang hampir mengulangi kesalahannya di masa lalu.


"Jhonny, jangan!''


Brugh!


"Argh, Bos! Kenapa---"


"Lo gila, hah?! Gue masih butuh elo, Oncom! Jangan ulangi apa yang salah dalam diri lo dulu!''


Brugh!


Alex sekali lagi memukul Jhonny, hingga pisau buah ditangannya terlepas ke sembarang arah.


Ya, Alex memang sangat terkejut dengan apa yang ia lihat saat tiba di ruang tamu apartemennya. Itulah mengapa, jiwanya masih waras untuk menyadarkan Jhonny dari kekeliruannya.


"Bos, dia mau perkosa Rose! Dia teman satu kampusnya.''


Deg.......


Dunia Alexander The Laode seakan hendak runtuh di sana. Tubuhnya sedikit bergemetar ingin memukul Boy, tetapi tenaganya seperti sudah habis tercabut seketika itu juga.


"Jhonny, Lo----''


"Gue serius, Bos! Rose juga dikasih obat perangsang sama dia. Makanya bisa berciuman sepanjang jalan dari lobi kesini, kata cewek yang jaga di meja resepsionist di bawah tadi! Itulah kenapa dia harus mat----''


"Gak! Lo lapor polisi aja sekarang! Apartemen gue ini ada CCTV. Intinya sekarang cewek gue mana? Dia gak sampai kenapa napa kan?'' kini Alex mulai menarik Jhonny untuk bangkit berdiri.


"Dia sekarat, Bos! Gue terpaksa kunciin dia di kamar.''


"Makasih, Jhon!''


Alex tidak lagi memedulikan Jhonny, karena keadaan kekasihnya. Lekas anak kunci di handle pintu pun ia putar, lalu terbukalah pintu kamar tersebut.


"Ough, Alex.... Terus, Sayang... Aku gak tahan, Alex!'' desah Rose saat pertama kali pintu berhasil Alex buka.


Pemandangan Rose yang setengah terbuka dengan memuaskan dirinya sendiri, membuatĀ  Alex terperangah hingga hatinya terluka.


"Sayang, maafin aku yang gak bisa jagain kamu!'' pekik Alex menghampiri tubuh Rose.


"Lex... sentuh aku, sayang! Panas.... Aku maubuang air kecil lagi, Lex....'' sahut Rose melepas tangannya dan menarik tangan Alex.


"Sayang, aku----''


"Touch me, Lex! Puasin aku...." Rose merengek tapi Alex berusaha acuh.


Plak!


Rose akhirnya menampar wajah Alex, karena pria itu menarik tangannya dan bangkitlah sisi gila dalam diri akibat tingkah kasar kekasihnya.


Alex dengan cepat mendorong Rose hingga terlentang di atas tempat tidur, lalu melakukan apa yang diminta oleh sang kekasih.


"Ough, ya...." teriak si cantik saat Alex mulai membelai dan melakukan apa yang diinginkan Rose. "Alex.... Terus, Lex.... enak.... ough.... ini enak, sayang....''


Tentu saja libido Alex semakin gila berpacu terlebih lagi kini Rose yang ikut membantunya memperlihatkan kenikmatan yang dirasakannya.


"Gila! Gue bisa gila kalau kayak gini,Rose!'' batin ALex di sela aktivitasnya.Ia lalu membelai dan melakukan bahkan yang tidak pernah Rose mau lakukan sebelumnya.


Alex pun semakin bersemangat membelai dan mengelus si dedek milik kekasihnya, tetapi tanpa aba aba Rose bergerak dan duduk di tempat tidur.


"Lepas! Mana si Jun punyaku, sayang? Aku mau si Jun, cepat kasih! Mana punya aku?!'' geram Rose dengan tatapan berkabut gairah.


Alex sekali lagi terpaku dengan keadaan yang sudah ikut duduk di samping Rose, tetapi ia tak kuasa menolak ketika nyatanya Rose sudah berhasil menarik dasi yang ia kenakan.


"Kamu kasih ke siapa punyaku, hah? Kamu suruh orang lain yang puasin kamu?! Kamu bajigan, Alex! Kamu itu cuma buat aku! Kamu cuma buat aku!''


Sungguh pengaruh dari obat perangsang itu benar benar melumpuhkan nalar dalam isi kepala Rose, dan sayang sekali Alex pun kini terbawa kelabilan tersebut.


"Sayang, kamu benaran peng---''


Belum sempat ALex menuntaskan kata katanya, Rose sudah lebih dulu mendaratkan ciuman dan ******* bibir sang CEO dengan sangat liar. Lalu salah satu tangannya menuntunnya untuk membelai milik kembarnya.


Kali ini Alex dengan senang hati melakukannya. Namun ada sedikit perasaan sedih yang bergelayut manja di dala hati, karena nyatanya Rose berlaku binal bukan atas kesadarannya.


"Sayang, ini,'' tunjuk Rose untuk sang dedek. "Dedek mau di belai sama si Jun, Jadi ayo, Lex.... AKu udah gak tahan... please, puasin aku.....'' Rose kembali meracau.


DEG


Jantung ALex berdegup kencang hingga hampir melompat keluar, tetapi sekali lagi hati kecilnya merasa tak rela jika harus ia bersetubuh dengan cara seperti ini.


Sayangnya suara lain dalam diri ALex terus berseru, tentang kemungkinan hubungan mereka disetujui oleh sang ibu, tentu saja setelah Rose berhasil mengandung darah dagingnya.


"Ayo, Sayang..... Katanya pengen aku hamil biar mamamu setuju sama hubungan kita. Ayp, Lex.... butuan puasin aku. Kamu serius gak sih, sama aku...'' lalu rengekan Rose benar benar sukses membuat kewarasan dalam diri Alex buyar seketika. Terlebih lagi gadis itu berbicara sembari mengelus si Jun, maka semakin pula gejolak dalam tubuh Alex naik hingga ke titik puncak.


Sembari menguatkan diri akibat baru pertama kali melakukan hubungan suami istri yang lebih jauh, Alex pun meraih tangan sanng kekasih dan menuntunnya ke tempat tidur.


"Sayang..... Benaran kamu mau ditusuk?'' tanya Alex sekali lagi kepada Rose.


Kekasih hatinya itu hanya menganggukkan kepala seraya menatap Alex dengan tatapan penuh gairah.


"Nanti kalau sakit ditahan ya, sayang?'' bisik Alex di telinga Rose.


Alex pun memulai permainan dengan membelai lagi dan lagi hingga ******* kembali terdengar dan gadis itu beraksi bersama remasan jemarinya di rambut sang CEO. Setelah Alex merasa sudah siap untuk melakukannya, maka perlahan ia memulainya.


"Ach, Alex..... sssst... geli, sayang. Masukin..... aku udah gak tahan, Lex...'' racau Rose, meremas pinggiran sprei.


Namun, Alex masih terus saja membuat Rose heboh dan tidak melakukan apa yang dia katakan dan sedikit mengacuhkan regekan liar Rose. Namun, hal tersebut ternyata tak berlangsung lama, karena sesudah itu Alex melakukan tugasnya.


"Sayang, siap ya?''


SLepp.... cret .... cret....


"Ah, Alex.... Argh.... Sakit, Lex.... Sakit!'' Rose menjerit hebat dan kedua tangannya mencengkeram lengan sang kekasih. Tak tega melihat si cantik menjerit kesakitan. Alex dengan cepat mengecup bibir si cantik nan seksi itu.


Alex masih mendiamkan si Jun di sana. Ia tak segera melakukan permainan, dengan maksud agar si dedek bisa beradaptasi dulu di sana. Beberapa detik kemudian, Alex merasakan tubuh Rose yang sedikit melemas. Terlihat jelas kesakitan tadi berganti dengan rasa nikmat dan lagi lagi itu dibenarkan oleh rintihan liar Rose.


"Lex..... Puasin, aku....." mendengar kata kata Rose seperti itu, ALex pun mulai mengambil ancang ancang secara perlahan.


"Ach....Alex, Ough...'' racau Rose membuat Alex nyaris gila.


"Iya, sayang.... Gimana? Sudah puas? Sttt.... Oh, my God! Rose....'' Alex membalas dengan racauan yang tak kalah sengitnya dan keduanya sampai ke hati masing masing.


"Ough.... Aku suka, dan ---- ach, Dan aku baru tahu kalau melakukan seperti ini jauh lebih enak dari pada olahraga yang biasa kita lakukan....'' cicit Alex masih dengan melakukan olaharaga yang baru itu.


"Ya udah.... Kalau gitu kamu---- ach..... kamu buruan dong, sayang..... Ough.... Sssttt... Soalnya aku... Ugh.... Ak...aku mau BAK...'' Alex pun menurutinya. Ia semakin mempercepat gerakan olahraga itu.


Beberapa saat kemudian, Alex merasakan semuanya yang belum pernah ia lakukan sama sekali begitu juga dengan Rose.


"Sayang, Wait sebentar ya? si Jun juga mau out nih....'' Alex semakin tak karuan dan terus saja melakukan olahraganya dan Rose hanya bisa mendesah kenikmatan.


Tak berselang lama, Alex benar benar sudah menyelesaikan semuanta.


"Ough, sayang....'' desah panjang Alex meremas kasar gunung kembar. Si tampan kini sudah ambruk di sana.


Meski begitu Alex berusah untuk melihat wajah Rose yang kelelahan akibat berkunjung ke surga dunia bersamanya untuk pertama kali dan itu sangat menyenangkan untuknya.


"Makasih sayang,'' ucap Alex mengecup pucuk kepala lalu dahi, hidung dan terakhir mengecup bibir seksi kekasihnya. Ia ikut menatupkan kedua netranya, dan tanpa sadar keduanya terlelap dengan keadaan masih saling bertautan seperti itu.