I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 87



"Sayang, apa apaan ini?! Kasih ke aku pisaunya!" titah Alex mulai terpancing keseriusan Rose yang menusuk pisau abal abal itu ke tangannya.


"Jangan mendekat! Aku bilang jangan dekat dekat atau kutusuk anak dalam perutku ini?'' teriak Rose semakin keras.


Alhasil, Alex pun mengangkat tangannya dan Rose melemparkan satu buah borgol yang jatuh tepat di kaki Alex.


"Lepas handuknya dan pasang borgol itu sekarang di tanganmu, Alex!''


"Rose! Kamu----"


"Diam! Nurut enggak?! Aku tusuk nih perut ak---"


"Jangan! Oke oke. Aku ikutin maumu, sayang..." sanggah Alex, yang pada akhirnya mengerti apa maksud dari perbuatan Rose.


Alex membuka lilitan handuk di pinggulnya, lalu mengurut si Jun yang sudah mulai tegang tak karuan dan menampilkan wajah nakal dengan gigitan gigitan kecil pada bibir bawahnya.


"Sayang.... Mau nakalin aku sama si Jun ala ala James Bond, ya? Udahan dong. Yuk, si Jun dibelai aja langsung, atau mau si Dedek yang aku belai, Sayang?'' celetuk Alex terus mengurut si Jun.


Hal itu ternyata berhasil membuat Rose meneguk salivanya dengan susah payah, dan Alex memanfaatkan moment tersebut dengan segera berlari menerjang sang istri yang hendak belajar menjadi wanita liar.


Klik!


"Kamu salah leran, Sayang. Harusnya yang jadi penjahatnya itu bukan kamu tapi aku. Cup!'' lirih Alex setelah sukses memborgol pergelangan tangan Rose di handel pintu lemari yang berbentuk setengah lingkaran itu.


"Lepasin, Lex! Kamu jah--- Ough, Alex!" Rose hendak berteriak, tetapi ia lebih dulu menjilat daun telinganya, hingga terdengar kini hanya racauan liar dari pita suaranya.


"Alex, geli....."


"Biarin aja, Sayang. Biar kamu tahu bagaimana rasanya beradegan menjadi korban dari seorang penjahat," lirih Alex terus melakukan seperti yang tadi di daun telinga Rose. Lelaki sangat tahu dimana letak kelemahan istrinya.


Sampai sampai karena terlalu masuk ke dalam belaian hebat Alex, Rose tak sadar jika tubuhnya kini sudah tidak mengenakan sehelai benang apapun.


"Ough, Alex....geli!" teriak Rose saat ******* liar Alex berpindah ke puncak milik kembarnya.


"Alex...."


"Iya, Sayang...."


"Enak, Lex.... Ough.... Lagi, Alex.... Satunya juga.... Ach...." bahkan tak sampai lima menit kemudian, aksi jinak jinak merpati yang terjadi di awal pergulatan panas pun berubah menjadi tuntutan dari mulut Rose.


"Kamu mau out berapa kali, Sayang? Pegangan, ya? Maaf juga kalo betis kamu yang kenceng tadi malah tambah sakit," kekeh Alex berjongkok di depan Rose. "Tapi aku janji, bakalan kasih kamu obat paling mujarab yang berasal dari surga dunia," lanjutnya segera memulai aksi olahraganya.


"Ough, Alex.... Ugh...." Alex pun langsung beraksi menerkam tanpa ampun.


"Aduh, Sayang... Kamu bikin aku tambah cinta aja deh. Pake apa kok aromanya di dedek ini wangi bangat," batin Alex terus melakukan olahraganya.


"Alex.... Ssttt... Lex...."


Sementara Rose yang hanya mampu meracau tidak jelas, sembari terus menahan kakinya yang mulai lemas akibat olahraga yang dilakukan suaminya itu di sana.


"Ough.... Ach.... Alex, cukup... Ough, Alex... Udah!'' racau Rose meminta Alex berhenti berolahraga di sana, saat satu kakinya sudah benar benar tidak kuat menopang tubuhnya.


"Ugh.... Enak aja mau berhenti sekarang. Orang kaki kamu udah gemetaran kayak gini, Sayang. Ya harus segera di out in dong ke muka aku. Itu baru namanya setengah kenikmatan surga dunia. Nanti pas si Jun udah berhasil out, baru kenikmatan surga dunia yang seutuhnya," kekeh Alex dalam hati sembari terus berolahraga dan tidak kasih jeda.


Maka bagaikan mendapat durian runtuh, tak sampai satu menit kemudian Rose kembali meracau panjang, "Ough, Alex.... Pip---! Pip, Lex! Aku mau Pip--- Ough...." Alex pun dengan rakus menghabiskan semuanya hingga si dedek kembali clean.


"Enak, Sayang.... Mau lagi enggak?'' tanya Alex di tangah nafas Rose yang sudah tak karuan.


"Masa sih, Sayang? Beneran apa bohongan ini?'' tanya Alex masih berjongkok di depan sang istri, "Kamu sampai meleleh gitu kok bilang udah cukup. Enak kan pastinya? Jadi tambah lagi sekali lagi ya, Sayang?" ujar Alex, langsung menghantam kembali si dedek itu tanpa ampun.


"Alex, ach.... Sialan kamu, Lex! Cu---- ough.... Ugh..." teriak sang wanita hamil, memegang kuat pintu lemari yang menjadi sandaran tubuhnya.


Rose lebih condong menolak aksi tersebut ketika membawa logikanya, tetapi jiwanya sudah lebih dulu di rusak oleh belaian tongue tak bertulang sang suami tercinta.


Aksi panas pun terjadi terus menerus dalam walk in closed berukuran kecil tersebut, tentu saja dengan ribuan deru nafas dan gejolak asmara yang terus membara.


********


"Halo, Lex?! Aduh celaka ini! Istrimu, Lex! Si Rose!'' pekik tuan Guen di ujung telepon.


"Rose kanapa, Pap? Dia jajan junk food lagi? Ya udah biar----"


"Si Rose jatuh dari tangga terus kata Dokter bayi kalian harus segera di operasi, Lex! Maka itu cepat pulang sekarang! Urgent ini! Penting!'' sanggah Tuan Guen tak mau menunggu lama.


"Loh, Pap. Kan masih tujuh bul----"


Klik!


Guen menutup panggilan telepon dan berharap Alex akan segera pulang dari kantor tanpa menunggu.


"Aduh! Lupa bilang di rumah sakit mana Rose di rawat tadi kayaknya.Telepon lagi deh," Namun, pria paruh baya itu harus kembali menelpon Alex karena keteledorannya.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar----"


"Loh! Kok malah enggak aktif, sih! Ini bagaimana jadinya? Kan harus tanda tangani surat operasi!'' panik Guen menatap layar ponselnya.


Namun, seketika itu juga wajah sekretaris laki laki di kantor Alex yang bernama Jose muncul di bayangannya, dan secepat kilat Guen mencari nomor ponsel orang itu.


Tut.... Tut..... tut....


"Halo, selamat siang, Bos Besar?" sambungan telepon pun direspon hanya dengan tiga kali nada panggilan saja.


"Mana Pak Alex? Suruh dia datang ke rumah sakit Pondok Wangi. Dia harus segera menandatangani surat operasi istrinya!'' tegas tuan Guen tanpa basa basi.


"Iy...iya, Bos besar. Pak Alex sudah on the way ke bandara kok ini. Nanti bakalan naik private jet perus----"


"Loh? Kok naik private jet? Dia dimana sekarang sebenarnya?'' tanya Guen linglung sendiri.


"Di Sidoarjo, Bos besar. Kan sudah dari kemarin," sahut Jose dan tuan Guen menepuk kening tuanya.


"Aduh! Lupa saya. Jadi anak saya sudah di jalan atau belum, Jose?''


"Sudah, Bos besar. Sama Bang Jhonny barusan ke bandara Juanda." sahut Jose membuat Guen membuang nafas kasarnya.


"Ya, sudah! Saya aja yang tanda tangani surat operasi itu lebih dulu. Tugas kamu kalo gitu tolong telepon si Jhonny dan bilang kalo menantu saya di rawat di rumah sakit pondok wangi ya, Jose? Soalnya nomornya Alex sudah gak aktif lagi!'' titah Guen dan Jose menyanggupi perintah tersebut.


Maka setelah sambungan telepon dihentikan olehnya, Guen bergegas menemui Nyonya Milea kembali dan menegaskan semuanya.


"Kalo begitu, bapak saja yang tanda tangani surat operasi ini ya, Pak?'' ujar Dokter yang akan menangani proses persalinan seksio caesar tersebut.


Alhasil, satu persatu proses tersebut pun mereka lalui, dan kini Rose sedang menjalani persalinan prematur itu.