
"Halo, Jhon. Lo jemput gue di kantor nanti sore. Jam lima, ya? Gue gak tahan pengen ikutin saran bokap gue buat hamilin Rose,'' Alex berbicara padahal Jhonny belum menjawab sepatah kata pun.
"Tapi gimana sama rencana kencengin anak si tukang utang itu, Bos? kan gue disuruh jadi CEO abal abal yang pura pura butuh pengacara?'' akhirnya Jhonny pun kebingungan, karena jam lima sore bertepatan dengan misinya mencari lubang buaya.
"Nggak jadi! Masih aja lo ingat kalo masalah cari lubang gratis ya? ckckck...." Alex terkekeh, karena pembicaraan itu terjadi hampir seminggu yang lalu.
"Nggak jadi gimana, Bos? Apa Bos sendiri yang mau turun tangan langsung buat jahati tuh cewek?'' tanya Jhonny, tetapi sedikit bernada kesal.
"Gila lo! Nggaklah! Maksud gue, Bokapnya si cewek pengacara itu udah ngelunasi semua, Bro. Makanya tugas lo ya dibatalkan. Laporan selesai,'' Alex lantas terkekeh sangat keras saat mendengar sembusa nafas keras Jhonny di ujung telepon.
"Yah.... Judulnya gue belum beruntung dong, Bos? Buset dah. Apes bangat gue dari kemarin, udah salah nyium bini orang! Ini lagi gagal dapat anak perawan,'' sahut Jhonny, membuat Alex semakin terpingkal mendengar kesialan Jhonny.
"Serius lo? Emang bini siapa yang lo *****, hah? Diamuk lainya gak lo?'' Alex bertanya di sela kekehan kerasnya.
"Ada itu, Bos. Gue baru lihat tuh cewek tinggal di Rusunawanya Emak gue. Kata adek gue, sih, habis pulang dari TKW di Malaysia. Tapi bikin warung kopi di komplek karena gak mau balik kerja ke sana lagi. Cantik terus bodynya kan bohai gitu, Bos. Eh, pas mau coblos ternyata bini orang. Ada cincin kawinnya gue lihat. Kesel deh!'' curhat Jhonny dan Alex lagi lagi heboh terpingkal.
Alhasil Jhonny punikut menertawan kekonyolan yang melanda dirinya dan sambungan pun usai tak lama setelah gelak tawa itu tehenti.
Alex kembali fokus bekerja, tetapi konsentrasinya acap kali pecah akibat bayangan wajah cantik Rose yang menari di pelupuk matanya.
"Hah.... Baru tadi pagi pisah, Rose. Kamu muncul aja terus kayak hantu dalam pikiranku. Apa jangan jangan kamu itu kuntilanak cinta?'' Alex bermonolog sembari mengambil ponsel pintarnya.
Tut.... tut.... tut.....
Sambungan telepon pun tersambung menuju ke nomor ponsel Rose, tetapi si cantik tak kunjung mengangkat panggilan tersebut. Namun, bukan Alex namanya kalau mudah menyerah, hingga hampir dua puluh menit ia membuang percuma waktu kerjanya hanya untuk mengulangi panggilan telepon tersebut.
"Ck! Dimana sih, nih bocah? Bukannya sakit tadi makanya gak buat ke kampus beresin tugasnya di perpustakaan? Apa jangan jangan beneran pergi dia?'' pikiran negatif, tentu saja kian mengisi otak Alex, "Gue cek GPS nya aja deh. Ada dimana tuh si sayang. Awas aja kalau dia sampai berani main gila dibelakang aku? Bakalan aku telanjangi terus kuborgol di tempat tidur. Biar kayak si Mr. Grey,'' gumam Alex mecoba membayangkan apakah nanti ia juga harus bercinta dengan gaya seperti di dalam film Fifty Shades of Grey.
Sayangnya bibir Alex yang saat itu sedang dalam mode mengembang lebar akibat tersenyum sendiri itu terhenti seketika, saat ia melihat layar ponselnya yang menunjukkan di maan saat ini sang kekasih berada.
"Loh! Ngapain dia di apotik! Apa si sayang benar benar sakit? Wah, bahaya ini kalo sampai kenapa napa di jalan. Lumayan jauh kan apotik ini dari apartemen? Aku susul aja sekalian bawain makan siang deh. Tapi mau pinjam mobil siapa ya? Naik taksi? Gue kan gak punya aplikasi buat sewa taksi online,'' gumam Alex linglung sesaat, "Ck! bego lo, Lex. Pakai mobilnya si Badron aja kenapa? kalau nanti memang keasyikan main tusuk tusukkan sampai sore, ya tinggal suruh aja si Badron ambil sendiri mobilnya ke apartemen. Kan gue, Bos!'' kekeh Alex selesai bermonolog.
Alhasil, Alex pun segera menemui Badron, meminta paksa kunci mobil si Manager Produksi itu dengan alasan ingin keluar sebentar dan disinilah kini sang CEO itu berada. Apalagi jika bukan di sepanjang jalan menuju ke apartemennya.
"Kalo dari GPS nya, sih, udah kembali ke apartemen nih si sayang. Ya udah, Gue terus kesana aja. Ngak usah ke apotik lagi. Terus nanti delivery masakan padang aja deh. Habisin waktu kalo harus ngantri. Keburu Rose tidur akibat efek minum obat yang dia beli tadi ya kan? Gagal deh rencana bikin anaknya. Gimana gue bisa cepat nikahin Rose kalo gak pakai cara ini. Iya gak, Jun?'' kekeh Alex menampilkan sederet gigi putihnya yang berbaris rapih.
Namun tak lama kemudian ponsel Alex berdering, dan dari sana nama sang ibu muncul di layarnya.
"Cih! Mulai deh si Mama nyariin. Tumben! Kenapa gak dari kemarin malam nelponnya? Benar benar menyebalkan! Apa belum puas guci besar di dekat ruang tv kemarin gue pecahin karena ngusir Rose dari rumah?!'' geram Alex mematikan panggilan tersebut. Ia bahkan menonaktifkan ponsel pintarnya dan entah mengapa, sejak kemarin hati pria dua puluh lima tahun itu sama sekali tidak bersimpati lagi dengan sang ibu.
Alex memilih menaikkan kecepatan mobil millik Badron yang terasa bergerak sangat lamban seperti siput. Dua puluh menit kemudian sampailah ia di depan gedung apartemennya, dan segera melaju menuju tempat para petugas valet berkumpul di depan loby utama apartemen.
"Gak kok, Pak Mul. Ini mobil karyawan saya. Kan tadi pagi saya sama si Jhonny oncom itu perginya,'' sahut Alex yang kali ini berbicara banyak kata.
"Oh gitu. Oke deh, Pak. Makasih ya senyumnya, Pak. Bapak lebih ganteng kalo senyum dan ramah seperti ini. Benar gak, Dor?''
"Betul betul betul!'' sahut si Dorman, si petugas valet yang lebih muda dan kerempeng dari Pak Mulyono.
Alhasil Alex semakin melebarkan bibirnya, bahkan ia terpingkal akibat ulah kedua petugas valet di apartemen tersebut.
"Iya. Gue emang bakaln gantengn banget kalo terus terusan senyum kayak gini,'' batinnya masih tersipu dan berjalan menuju lift. ''Semua ini karena gue udah main tusuk tusukkan dan mainnya bukan sama sembarang orang, tapi sama cewek yang sangat gue cintai,'' batin ALex lagi.
Lift membawa ALex menuju ke lantai tujuh belas, lalu keceriaan pu mengantarkan sang CEO semakin mendekati kebahagiaan terbaiknya.
"Semoga aja Rose lagi gak ada di ruang tamu. jadi kan biar suprise aja gitu, Benar kan Hun? Kita berdua datang, terus habis itu kita berempat sama si Sayang dan si dedek hepi hepi deh bikin anak. Kalau sudah jadi, tinggal naik altar dan berjanji deh sehidup semati. Oh betapa indahnya hidup ini,'' batin Alex sudah masuk ke dalam apartemen.
Alex mengendap endap menuju ke dalam kamar Rose, tetapi ia tidak menemukan sang kekasih di sana. Namun, matanya tak sengaja bersirobok dengan beberapa bungkusan obat yang tergeletak di meja nakas dan seketika itu juga jantungnya hampir keluar karena melihat satu keping obat anti kehamilan juga terdapat di sana.
"Sialan! Ini gak boleh terjadi!'' pekik Alex berlari ke arah dapur.
Benar saja. Di sana Alex melihat Rose meletakkan piring kotor ke dalam wastafel cucian piring dan bersiap menelan beberapa butir obat yang ia duga salah satunya adaalh obat anti kehamilan, karena kepingan obat tadi sudah tak lengkap lagi.
Prang!
Gelas yang ada di tangan Rose pun hancur berantakan akibat kemurkaan Alex dan beberapa butir obat itu pun ikut tercecer.
"Mau kamu apa, Rose?! Cepat bilang sama aku mau kamu apa sampai obat sialan ini ada disini dan hampir saja kamu meminumnya?! Kamu bilang samaku kita harus menikah, bahkan kamu hampir mati gara gara bunuh diri, bukan?! Lalu kenapa kamu dengan sengaja ingin mencegah calon anak kita untuk lahir? Kenapa, Rose?! Kenapa?'' teriak Alex benar benar frustasi.
"Lex, maaf....''
"Maaf?! Heh, kamu bilang apa? Maaf?!'' teriak ALex lagi, "Gak akan ada kata memaafkan dari aku! Kamu harus aku hukum!''
Krek!
Sobeklah pajamas manis yang Rose kenakan saat ini, akibat ulah membabi buta Alex yang sedang murka.
"Alex.... Ough, sakit!''
Sang CEO pun dengan paksa langsung melakukan si Jun untuk bergabung ke si dedek yang masih kering di sana, dan tidak mau memedulikan rasa nyeri yang wanita itu rasakan.
"Kamu harus hamil! Kamu harus cepat hamil dan jangan coba coba melakukan hal gila itu lagi, Rose..... Jangan coba coba!''