I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 53



Alexander The Laode dan Rose Van Houteen, kini sedang sibuk mengemasi beberapa barang bawaan dari apartemen yang selama ini menjadi saksi letupan cinta keduanya.


Satu minggu ini hubungan keduanya mulai membaik. Namun, tali cinta tersebut masih seperti kemarin dan rencana pernikahan yang Alex paksakan ke Rose, sama sekali tidak terlaksana karena si cantik berjanji untuk tidak mau ambil pusing lagi dengan berbagai ocehan buruk ibu kandung kekasihnya itu.


Rose bahkan meminta Alex untuk berpindah kampus dan juga tempat tinggal, lalu sang CEO pun segera menyetujui usulan kekasihnya dengan alasan agar aman dari gangguan Nyonya Milea.


Alhasil, Universitas Gundar dan Rusunawa Tapos di Depok tempat Jhonny menetap dengan keluarganya adalah pilihan yang Alex ambil untuk si pujaan hati. Maka itu kini keduanya sibuk membenahi ruangan di salah satu rusunawa yang sudah berhasil CEO itu beli, dengan tujuan agar mereka betah dalam hunian yang tidak terlaku besar seperti apartemennya dulu.


"Kamu janji hari ini pulang ke rumah kan, Lex?"


"Iya, sayangnya aku.... Dari pagi itu aja terus yang kamu omongin. Tanyain kapan jatah aku kamu balikin lagi kek. Eh, ini malah cepat cepat aku disuruh pulang ke rumah mama. Emang kamu gak kangen sam si Jun apa?" sahut Alex dan Rose memutar bola matanya.


"Enggak ada jatah jatahan lain selain mulut aja. Ingat kan janji kita apaan? Pacaran yang sehat sampai aku selesai kuliah dulu baru boleh main tusuk tusukkan lagi dan cukup hanya my mouth aku aja yang puasin kamu atau kita put----"


"Enggak mau putus! Kamu jahat banget deh, Sayang. Aku kan pengen. Kita cobain sekali lagi di tempat baru ini yuk? Secelup aja deh, mau ya, sayang?'' rayu Alex dan Rose segera menggelengkan kepala.


"Aku pulang aja deh ke Surabaya kalo git---"


"Eh, gak jadi deh. Gak jadi. Aku bercanda aja," potong Alex menaikkan dua ruas jarinya ke udara.


Satu senyuman manis pun terbit dari bibir Rose, dan satu cubitan gemas juga ikut ia berikan pada Alex. "Nah, gitu dong. Pacaran yang se...."


"Hat....." jawab Alex seraya mengaitkan jari kelingkingnya di jari kelingking Rose. Keduanya pun tertawa lebar, tetapi pandangan mata pria itu terjatuh pada dua buah kembar kekasihnya yang terlihat sedikit berubah.


"Sayang, Itumu kok kayak gedean dikit ya?''


"Itu apaan?'' bingung Rose. Ia lantas menatap ke arah jari telunjuk Alex yang mengarah ke tubuhnya, dan secepat kilat menghadiahkan pukulan bertubi tubi.


"Dasar otak mesum! Baru aja aku bilang pacaran harus sehat. Masih aja ingatnya kesitu situ aja!''


"Ampun, sayang. Tapi itu beneran aneh. Soalnya----"


"Soalnya apa? Ya iyalah makin gede! Orang kamu remas dan kenyotin terus. Gimana gak gede?!" kesal Rose membalikkan badannya. Gelak tawa dari pita suara Alex pun kembali terdengar, dan kali ini benar benar lebih nyaring ketimbang kekehan sebelumnya.


######


"Alex?! Kamu kemana aja sayang?" teriak Nyonya Milea dari lantai dua rumahnya.


"Mam, awas jatuh! Astaga!''


Secepat kilat Nyonya Milea berlari menuruni anak tangga, dan tuan Guen histeris melihat tingkah sang istri.


"Alex! Ya ampun, Sayang! Mama kang----"


"Alex capek, Ma. Nanti aja ya bicaranya? Alex mau tidur!'' ketus Alex mencoba menghindari ibunya.


Namun, bukan Nyonya Milea namanya jika tidak cerewet, bawel dan heboh ketika mendapatkan sesuatu yang bahagia dalam hidupnya. Oleh sebab itu, langkah kaki Alex tak dapat terus berjalan, karena kini dua lengannya sudah bergelayut manja seperti ABG labil di lengan putranya.


"Mama lepasin Alex capek, Ma! Mau tid---"


"Kamu itu durhaka ya sama orang tua? kenapa sih, marah terus sama mama? Seminggu ini mama bahkan sudah biarin kamu hepi hepi sama si cewek udik itu kan? Jadi---''


"Cewek yang mama bilang udik itu punya nama, Ma! Rose Van Houteen namanya dan dia masih pacar Alex! Jadi kalo mama hina Rose sekali lagi, Alex janji bakalan kawin lari dan gak akan ngurusin The Laode Corporation lagi!" tegas Alex menghentakkan lengan ibunya.


"Pap....."


"Dia anak kamu juga, Guen!''


"Tapi aku bukan Tuan pemaksa sepertimu, Nyonya pemaksa. Jadi aku tidak mau ikut campur daripada The Laode Corporation terkena imbasnya," elak Guen, melenggang ke arah dapur.


"Jadi harus gimana, Pap?''


"Harus makan dulu, karena aku sudah lapar habis main tusuk tusukkan dua ronde tadi. Kau gak lapar, baby?''


"Guen The Laode! I killed you now!" murka Nyonya Milea dengan wajah memerah.


"Maaf, Sayang. Aku bercanda. Ayo sini aku suapin aja biar kau jangan marah marah lagi."


"Aku gak lapar! Aku mau ke kamar Alex aja karena jeng Jessie itu terus aja tanyain rencana pertunangan Shella sama Alex. Dia tanya di depan teman teman arisan mama lagi, kan malu maluin," sahut Nyonya Milea sudah melangkah pergi dari dapur.


"Terserah. Kita lihat aja apa yang Alex buat kalo kamu paksa terus dia, Mam." balas Guen tetapi tak terdengar di telinga Nyonya Milea, sebab wanita paruh baya itu sudah sampai di lantai dua rumahnya.


Nyonya Milea bahkan juga sampai di depan pintu kamar Alex, dan tanpa mengetok pintu masuk ke dalam kamarnya. Dari sana ia tak sengaja mencuri dengar ocehan Alex ditelepon, yang sangat diyakini jika Rose adalah lawan bicaranya.


"Jadi mereka masih terus berhubungan? Ini benar benar gak bisa dibiarin! Aku gak mau mereka terus berhubungan serius dan----"


"Dan apa, Ma?! Mau ngancem Rose lagi? Kenapa masuk ke kamar Alex gak ketuk pintu dulu? Katanya orang terhormat! Tapi sopan santun aja pun gak----"


"Alex! Jaga bicaramu! Aku ini Mama yang melahirkan kamu!" geram Nyonya Milea, penuh dengan emosi.


"Alex gak peduli! Ibu apa yang kerjanya hanya merusak kebahagiaan anaknya, hah?! Ibu apa yang egois dan dari dulu selalu memaksakan kehendaknya ke anaknya, hah?! Ibu apa yang selalu gak----"


PLAK!


Satu tamparan akhirnya mendarat di rahang Alexander The Laode, hasil dari fermentasi letupan api amarah dan godaan raja durjana.


"Alex----"


"Cukup, Ma! Jangan mendekat! Jangan mendekat dan tolong keluar dari sini, Ma!''


"Alex! Mama----"


"Keluar! Aku bilang keluar, Ma!" murka Alex mengusir ibunya.


Dengan linangan air mata dan juga kekesalan, akhirnya Nyonya Milea pun keluar dari kamar itu. Kebetulan juag di luar pintu kamar, Guen sudah berada di sana.


"Papa!'' tangis Nyonya Milea semakin pecah. "Alex, Pap.... Mama.... Hiks...."


"Sudahlah, Mam. Papa capek dengar kalian berdua ribut terus masalah cewek yang Alex sukai. Ikutin ajalah apa mau dia, Baby. Jangan terlalu berpikir keras dan yang tidak tidak, biar kamu jangan sakit. Kalo kamu sakit adiknya pala tidur sama siapa dong?''


"Guen! Enggak lucu!" teriak Nyonya Milea semakin terisak, ''Tadi Mama gak sengaja nampar Alex, Pap. Mama kelepasan dan ini semua gara gara cewek udik itu!'' Nyonya Milea menyimpan dendam semakin banyak untuk Rose.


"Dia gak salah, Ma. Cinta itu anugerah dan mereka mendapatkan perasaan yang sama seperti kita berdua miliki itu dari sang pencipta. Jadi kalo Mama terus menyalahkan hubungan mereka, itu sama aja dengan mama menyalahkan Tuhan Yang Maha Es----"


"Dasar, Papa egois! Udah sana lepasin! Awas aja kalo nanti malam tidur dekat dekat! Mama gak mau kasih jatah!"


"Loh! Kok gitu, Mam?" sahut Guen mengejar sang istri.