
Debaran jantung Alex juga nyaris terlepas ketika ia sudah mendengar suara wanita yang menggunakan ponsel milik Jhonny itu, karena itu adalah ibu kandungnya. Sungguh nasib sial tengah laki laki berusia dua puluh lima tahun itu dapatkan hari ini, karena rencananya untuk pergi sama Rose ke apartemen, kini tidak dapat terlaksana.
" Sayang, ada mamaku di lobby sana. Em... Terus mama itu juga agak sedikit galak, sih. Jadi, ya gitu deh. Kayaknya aku gak bisa natar kamu ke apartemen hari ini deh. Gak apa apa kan, sayang? " tanya Alex usai dirinya memberi penjelasan. Ada rasa kekhawatiran yang Rose lihat dari tatapan mata dan mimik wajah sang CEO tampan dihadapannya.
Jadi, Rose pun sebisa mungkin untuk mengerti status mereka yang bukan apa apa dan dengan segera menjawab.
" Gak apa apa kok, Lex. Makanya tadi kan aku udah bilang, Aku bisa kok cari kontrakan atau kos kosan sendiri gitu. Jadi kamu---"
" Bukan itu, Sayang. Maksud aku tuh nanti kamu diantar sama Jhonny aja. Dia anak buahku yang tadinya aku suruh buat jaga jaga di bawah biar pas mama datang, dia bisa langsung info ke aku. Jadi bisa cepat cepat diantisipasi gitu, eh malah ketauan juga! " sela Alex menunjukkan wajah kesalnya, tetapi hal itu terlihat sangat menggemaskan buat Rose, dan ia pun tersenyum lebar menampilkan gigi gigi putihnya yang berbaris rapih.
" Ya udah, sih. Aku gak masalah kok kalau nanti yang anterin anak buah kamu, siapa tadi namanya? "
" Jhonny, sayang. Jhonny namanya. "
" Nah, itu. Mendingan kamu nurutin apa yang mama kamu bilang, karena nanti kalau sudah gak ada lagi, rasanya benar benar menyesal kayak aku gi--- ''
" Sssttt.... Sudah ya, sayang? Jangan diinget lagi soal orang tua kamu yang udah gak ada ya? Nanti kapan kapan kalau aku punya waktu senggang, kita bakalan kunjungi makamnya ya? " potong Alex menenangkan.
" Iya. Maaf ya, Lex. Aku gak sedih kok ini. Cuma keinget aja tadi pas kamu bikang ada mama kamu di bawah. Emang tadi beneran belum ke rumah ya pas balik dari singapura? " jawab Rose seraya menepuk pipi kanan Alex dengan telapak tangan kirinya.
Dua detik Alex sempat memejamkan kedua kelopak matanya untuk menghayati rasa yang tiba tiba saja menggila di dalam dirinya, susunan kalimat pun keluar dari mulutnya.
" Iya, sayang. Ini mama cariin karena memang aku belum pulang ke rumah. Kemarin kan, ada meeting di singapura, terus di sana badanku pegal pegal bangat karena menahan itu. Nah, jadi deh hari ini minta tolong sama Tante Windi, malah ketemunya sama kamu, si cantik yang bibirnya bikin aku kecanduan. "
" Dih, bisa aja kamu. "
" Serius, sayang? Jadi gimana? Kami beneran gak marah kan, sayang? Bukan maksudku mau membatalkan semua hal yang udah jadi kesepakatan kita tadi. Apartemen itu bakalan kamu tempati dan apa yang aku janjikan juga tetap gak akan berubah. " jawab Alex menggenggam sepuluh jari jari Rose.
" Jadi maksud kamu--- "
" Iya, sayang. Perjanjian kita ya tetap jadi dong. Masa aku biarkan bibir nikmat kamu pergi gitu aja. Intinya kamu bakal aku bantu dan sebagai balasannya kamu juga harus buat kayak yang ta---- "
" Ya sudah kalau gitu. Gak usah dijelasin lagi, Lex. Aku ngerasa berdosa aja. " potong Rose membuat Alex mengernyitkan kening datarnya.
" Tapi hubungan kita hanya sebagai partner **** aja, kan? Gak ada sangkut pautnya sama perasaan alias aku masih bebas berteman dengan siapa pun itu, termasuk teman cowok kampusku nanti? " lalu ia bertanya sembari menyipitkan kedua bola matanya.
Tentu saja pertanyaan itu pun mampu membuat rahang Alex mengeras dan hatinya jelas meradang di sana. Namun, karena rasa gengsi tingkat dewa yang ia miliki, dengan enteng sang CEO menjawab pertanyaan tersebut.
" Ya, iyalah. Memang kamu berharap hubungan kita nanti seperti apa? Tenang aja. Aku gak bakal sentuh kamu lebih dari yang seperti tadi kok. Soalnya selama ini, aku cuma suka diisap sama dimainin doang. Tanya saja sama tante Windi terkait si juniorku ini, dan belum pernah masuk ke lobang wanita manapun. Ya, buat calon istriku aja nanti. Biar gak banyak dosa ya, kan? " ketus Alex membuang pandangan matanya ke sembarang arah.
" Itu, tahu. Ya sudah deh. sana pakai bajumu. Kamu sudah ditunggu mama kamu dibawah, kan? Makasih ya pekerjaannya, aku janji gak bakal kecewain kamu nanti. Aku serius. " jawab Rose sembari mengangkat jari kelingkingnya.
" Kalau gitu kamu tunggu di sini aja ya, sayang? Nanti aku suruh Jhonny naik. Nih, kunci apartemennya. Kamu pegang biar kamu gak pikir aku penipu, oke? " ujar Alex menyimpan kunci di telapak tangan kanan Rose.
" Terus ini juga buat kamu. Soalnya isi kulkas di apartemen kayaknya kosong deh. Siapa tahu aja kamu suka memasak daripada pesan makanan cepat saji. " lanjutnya sembari menyodorkan sebuah kartu berwarna hitam di telapak tangan kiri Rose.
" Egh, Hah? "
" Ini kartu debit aku. Tahu kan, apa gunanya kartu ini? Aku gak melarang kamu untuk belanja apapun itu. Cuma kartu ini gak usah kamu pakai untuk biaya registrasi kuliah. Itu urusan aku sendiri pokoknya. Jadi, percaya kan samaku? " kata Alex menatap lembut gadis dihadapannya.
Rose pun dengan sangat antusias menerima apa yang sudah Alex berikan dan ucapan terima kasih dari gadis itu, secepat kilat mendarat di pipi sang CEO.
Cup!
" Hem, udah berani ya sekarang? " kekeh Alex ikut tersenyum setelah pipinya dikecup oleh Rose.
" Gak, kok. Cuma sama kamu aja. " jawab Rose malu malu.
Oh, Tuhan.... Semburat merah jambu di kedua pipi Rose benar benar sukses membuat junior milik Alex di bawah sana kembali menggeliat. Sungguh hal inilah yang membuatnya teramat sulit membiarkan Rose pergi begitu saja. Layaknya wanita bayarannya yang lain.
" Jangan bilang gue jatuh cinta sama cewek ini, Tuhan. Mama pasti gak akan pernah setuju dan nasib dia juga bisa jadi akan sama seperti mantan mantan gue yang dulu itu. " batin Alex.
Alex lalu bergegas memakai pakaiannya kembali, kemudian menyempatkan diri untuk mengecup bibir Rose. Sayang sekali, kecupan itu tersebut berubah menjadi sebuah pagutan liat, bahkan mulai merambat ke arah yang cukup panas. Semua itu karena untuk yang kedua kalinya, Rose memberanikan diri membalas ciuman itu. Selepas nafas mereka berdua hampir habis, tautan diantara kedua bibir pun terlepas dan sang CEO kembali memeluknya.
" Makasih ya buat hari ini, sayang? Aku bersyukur bangat bisa kenalan sama kamu. Hati hati ya, aku pergi dulu. " pamit Alex lalu bergegas pergi, tetapi masih saja menyempatkan diri untuk mengecup singkat kening Rose.
" Ya, Tuhan.... Tolong berikan aku petunjukmu. Aku tahu semua ini salah, tetapi tidak ada jalan lain yang bisa kuambil. Maafkan aku, Tuhan. Biarkan aku bahagia. " kini tinggallah Rose sendirian di kamar hotel itu. Berjalan menuju ke tempat tidur sembari berbicara sendiri panjang lebar.
Kunci apartemen serta platinum debit card di tangan Rose itu kini menjadi perhatiannya dan tiba tiba saja air matanya menetes begitu saja.
Hiks.... Hiks..... Hiks.... Hiks.....
Rose sudah berusaha untuk tidak mengeluarkan suara, tapi ia kalah dengan sejumlah perasaan haru di dalam dirinya. Punggungnya bergetar hebat, terlebih saat melihat kantong plastik yang berisi ijazahnya tergeletak di atas meja nakas.
Kakinya pun bergerak untuk menuju meja itu, mengambil kantong itu lalu mendekapnya erat.
" Papa.... Mama.... Maafkan Rose, ya? Rose sudah buat Mama dan papa kecewa dengan menerima syarat dari Alex yang dikatakan tadi. Rose gak punya pilihan lain Pa, Ma. Cuma Rose janji, ini hanya akan sebatas di mulut aja nanti. Gak bakalan sampai ke seluruh tubuh sebelum Rose menikah. Rose harap mama dan papa bahagia dan tenang di sana, Doakan anak kalian satu satunya yang nakal ini, supaya terus mempertahankan kesucianku ini. "
Tok.... tok... tok....