
Ting tong.... Ting Tong.... Ting tong... Ting...Tong...
"Aduh... ribet bangat sih, nih tamu! Malam malam malah sibuk bertamu. Siapa sih?" kesal Kinara mencepol rambut keatas sebelum memakai hijabnya. "Pa, bangun.... Ada tamu tuh di depan pintu pagar. Bukain pintunya sana, Pa! Mama ngantuk!" rengek ibu dua anak membangunkan suaminya.
"Ck! Mama bukain duku deh pintunya sono. Paling-paling anak lo si Riri baru pulang dari puncak tuh. Mama tidak ingat waktu kita kuliah dulu juga sering pulang kosan malam malam? Sama kan? Sono bukain pintunya. Bangunin Topan aja deh kalo lo takut. Ribet amat jadi nyak lo mah!" sahut Zudin dengan logat betawinya.
"Dasar kebo! Dulu aja manis manisnya kayak manisan kurma! Sekarang dimintai tolong bininya aja pelit. Dasar gendut!''
"Apa mama bilang?''
"Kucing makan cicak barusan lewat tuh, Pa! Mana tuh si kucing? Pus.... Manis.... pus..." sahut Kinara sesukanya. Lekas ia berjalan menuju tangga dan turun ke lantai satu. Lalu lebih dulu ia mengintip dari jendela yang berhadapan langsung dengan pagar rumahnya.
"Siapa tuh yang datang? Kok rapih bangat? Aneh deh! Aku gak mau bukain pintunya deh. Biarin sampe Papa atau Topan aja yang bukain pintu pag----"
"Mama, bukain pintunya, Ma.... Tolongin, Riri! Ada nenek sihir disini!" dan Kinara kembali mengintip dari jendela rumahnya.
"Loh, kok ada suaranya si Riri?" batin Kinara berlari ke kamar anak sulungnya. "Pan! Topan bangun, Nak! Bangun! Adikmu dalam bahaya di luar pagar, Pan. Tolongin dulu! Tolongin!" pekik Kinara memukul badan Topan sembarangan.
"Hah? Mana malingnya, Ma? Mana?!''
"Di luar pagar, Pan. Di luar pagar!'' heboh Kinara lagi.
Sementara itu dari pintu pagar, Riri sedang berkelit dengan ibu kandung Alex, karena wanita itu terus memaksanya untuk mengatakan dimana Rose berada.
"Tolong, Nak. Anak saya belum sadar juga sampai malam ini! Dia mungkin butuh Rose. Tolong kasih tau apa dia ada di dalam atau enggak." rengek Nyonya Milea berurai air mata.
"Gue gak kenal sama Rose! Siapa tuh cewek? Orang gila mana dia? Anda ini salah alamat, Nyonya. Gue aja baru pulang dari puncak karena seminggu ini ada urusan kantor. Malah dipaksa jawab apa yang gue gak ngerti. Heh, lucu!'' bohong Riri tak mau jujur. Namun, Nyonya Milea bukan orang bodoh dan ia tahu Riri adalah sahabat Rose ketika mereka masih sama sama kuliah di universitas Trissakti.
"Jangan bohong, Nak. Kamu kan cewek yang tempo hari bareng Rose pas saya samperin ke kampusnya? Waktu itu saya mau bicara empat mata sama dia, lalu kamu disuruh pergi. Saya yakin ingatan kamu belum hilang kan tentang hari itu, jadi tolong katakan diman---"
"Cari siapa malam malam datang ke rumah saya, Bu? Ada perlu apa sama anak perempuan saya? Mari masuk ke dalam aja kalo gitu, saya lihat sepertinya penting bangat sampai nangis nangis gitu!" ketus Kinara yang datang membuka pintu pagar bersama Topan. ''Riri, Masuk!" tegasnya lagi, sebelum menarik pergelangan tangan anak gadisnya agar segera masuk ke dalam rumah.
"Ma, suruh pulang aja. Tante gila ini! Jangan suruh masuk soalnya dia salah satu spesies nenek lampir yang mematikan!" bisik Riri tapi masih bisa terdengar oleh kedua telinga Nyonya Milea yang pada akhirnya kembali mengeluarkan air matanya.
Sebenarnya Riri masih ingin berada di depan pagar rumah, guna menggagalkan berita tentang Rose yang saat ini sedang dicari oleh Nyonya Milea.
"Biarin aja situ si mama sama si nenek lampir ngerumpi tengah malam. Intinya gue gak bakalan sudi berbagi info tentang Rose. Syukurin.... biar aja anaknya koit sekalian. Orang si Alex itu udah penjarain si Boy kok. Ini karma yang harus mereka tebus akibat perbuatan jahatnya! Hem...." batin Riri melepas sepatu kets di kedua kakinya.
Sayangnya baru saja Riri hendak masuk ke dalam kamar mandi setelah mengambil handuk bersih dari dalam lemari, tak lama pula Kinara datang dan lagi lagi menyeretnya untuk duduk di ruang tamu.
"Kenapa kamu enggak bilang kalo calon mertua temanmu yang pingsan gara gara hamil kemarin ternyata orang tajir, Ri?"
"Hah?! Idih! Kenapa Mama yang kepo? Orang kemarin udah mama usir kan dari sini?" kesal Riri ingin masuk ke dalam kamarnya lagi.
"Ya, maaf. Tapi habis dari klinik kemarin, kamu bawa kemana dia? Kok tadi calon mertuanya sampai paksa mama untuk bilang dimana temanmu itu, Ri ," tanya Kinara menahan lengan putrinya itu.
"Riri gak tau, Ma! Udah ah. Riri mau ti----"
"Bohong kali si Riri, Ma. Orang Bude Ratna telepon Topan kok kalo si Riri ke Solo sama anak cewek seumuran dia gitu katanya."
"Hah?! Riri kamu bercanda kan?!'' pekik Kinara dengan bola mata yang hampir terpelocok keluar.
"Seriusan, Ma. Dia juga bela belain gak bawa iphone punyanya. Tuh cewek dia sewain kosan di depan rumah Bude Ratna, Ma. Tanya aja sama Mbak Nia. Sekarang pasti---''
"Bang Topan! Lo bisa diam gak dan enggak rempong sama urusan gue enggak sih?!" teriak Riri dan Kinara menatap tajam sang putri, seolah minta penjelasan.
Tak ayal bagai telur di ujung tanduk yang sudah bergoyang dan hampir terjatuh ke tanah, Riri pun menceritakan kisah pilu Rose Van Houteen itu secara detail. Sampai sampai Kinara dan Topan terbelalak kaget mendengar cerita tersebut.
"Jadi, Mama sama bang Topan jangan ceritain apapun sama Tante gila itu. Emang kalo kalian ada diposisi Rose, mau digituin? Riri mohon jangan mau ya, Ma? ya, Bang?" Riri memohon, dengan kedua telapak tangannya yang menyatu dan diangkat ke dada.
Akan tetapi, Kinara dan Topan tak dapat memberi jawaban atas pertanyaan tersebut, melainkan saling menelan saliva masing masing dan saling memberi kode dengan dua kali mengedipkan mata.
"Iya, Riri. Lo tenang aja. Nanti kalo si tante gila itu kemari? Gue sama mama bakalan diam aja, kok. Suer.... iya kan, Ma?'' jawab Topan, agar Riri cepat mengalihkan pembicaraan dan masuk ke kamarnya.
Sementara Kinara hanya bisa menganggukkan kepalanya dan tak sampai lima detik kemudian, Riri lebih dulu pamit dari musyawarah mendadak yang terjadi di ruang tamu tersebut. Tubuhnya lelah akibat seharian dari pagi sampai tengah malam berada di dalam kereta api, sehingga ia lebih memilih membersihkan diri lalu tidur ketimbang mengisi perutnya.
Sedangkan dua orang lain yang tersisa di ruang tamu kini saling kebingungan, akibat lembaran rupiah di saku celana Topan.