
"Ck! Kebiasaan kamu ya, Lex. Enggak ada malunya sedikit pun. Terus tadi apa di Gereja? Kamu tuh bikin malu aku aja tau! Kenapa tadi disuruh cium kening malah cium bibir sih?" gerutu Rose di dalam mobil pengantin yang membawa mereka menuju ke rumah milik keluarga The Laode.
"Emangnya aku salah cium istriku sendiri di bibir? Kan kita udah menikah. Enggak dosa kali. Iya kan, Oncom?'' celetuk Alex meminta pendapat Jhonny yang beberapa detik lalu sudah tertawa dibalik kemudi.
"Iya, dong. Enggak salah itu mah. Malah dianjurkan, sebagai bentuk pembuktian cinta Bos ke Rose. Kan biar orang orang pada tau kalo nikahnya bukan karena terpaksa. Benar kan, Bos?"
"Yup! Seribu buat lo, Oncom! Jadi kapan lo nyusul gue belah duren?'' kekeh Alex tak dapat lagi ia tahan saat mendengar penjelasan Jhonny yang sungguh spektakuler.
"Ya ela, Bos. Kalo gue mah belah duren kapan pun, dimana pun serta dengan siapa aja sih, jadi. Cuma belah Pinang aja yang agak ribet nih, Bos. Soalnya kulitnya mulus bangat. Mana si Pinang udah nolak mentah mentah. Susah ngerayunya, Bos. Nyerah deh gue?'' sahut Jhonny dengan mimik wajah yang tiba tiba saja berubah muram.
Rose yang geli dengan perkataan Jhonny pun tertawa keras dan Alex ikut tertular kekehan tersebut.
"Jangan nyerah dong, Jhon. Mpok Jen itu baik bangat loh. Setia lagi sama pacarnya yang dulu itu, walaupun udah tiga kali pernikahan mereka dibatalkan sepihak. Jadi saran aku, kamu dobrak aja terus pintu hatinya Mpok Jen. Paling sedikit lagi terbuka. Benar kan, Mas Suami?" ujar Rose dan ketiganya tertawa lepas.
Alex tertawa akibat Rose yang memanggilnya Mas Suami, dan Jhonny tertawa akibat saran si ibu hamil yang menyuruhnya mendobrak pintu hati gadis incarannya.
"Tenang aja kalo gitu, Rose. Apa yang lo bilang tadi kayaknya emang benar bangat tuh. Padahal ya, udah coba aku buat cuekin dia empat hari ini. Eh, pas aku ambil sepatu pantofel ini di rusun kemarin, dia ngejar sampai di lantai satu. Gue cuekin, sih. Habisnya posisinya gak pas juga. Nyonya telepon buat suruh jemput lagi. Kasihan Yayang Jen. Semoga aja tulang rusuk gue yang hilang itu beneran dia ya, Bos?'' curhat Jhonny dan Alex semakin keras terbahak.
********
"Aduh, Mbak Rose..... Cantik bangat deh kalo make up sama pake sanggul model gini. Pas lagi sama kebayanya. Kan tadi pagi udah tuh wedding ala bule bule yang pakai seloyor panjang. Sekarang gantian pake pakaian adat jawa." seru Mami Keren, penata rias dari Gun Wedding Organization.
"Makasih ya, Mbak. Iya in----"
"Aduh... Jangan panggil Mbak dong, Say. Panggil aja, Mami Keren! Ma mi Ke ren! Coba ikutin," repet sang bencong selebor dan Rose pun menuruti dengan kekehan yang tak ketinggalan.
"Apa apaan ini ngakak terus. Udah belum kerjaanmu, Ren?" celetuk Nyonya Milea yang datang dengan kebaya modern dan sanggul di kepalanya.
"Aku gak nyangka kalo ternyata tabiat papa terlebih lagi mama, sungguh sangat lucu dan kocak. Dulu aku pikir apa yang Alex ceritakan tentang kedua orang tuanya, apalagi mama, benar benar bikin aku gak bisa berpikir tenang, bahkan melakukan segala aktivitas lain pun jadi sering gak fokus. Ternyata mereka gak separah apa yang aku pikirkan. Dan hah...." batin Rose menarik nafas dalam dalam, kemudian membuangnya perlahan, ''Aku berterima kasih sekali atas semua ini, Tuhan. Aku sekarang punya orang tua lagi dam aku janji akan melakukan apapun demi bisa selalu menyenangkan hati mereka," lanjut Rose yang langsung memeluk Nyonya Milea tanpa terduga.
"Rose, ini apa,"
Cup!
"Makasih banyak ya, Ma? Rose bahagia mama udah nerima Rose jadi bagian dari keluarga The Laode. Apapun yang mama bilang nanti, Rose akan usahakan yang terbaik di antara semua hal baik demi bisa buat mama, papa terutama Alex dan anak anak Rose bahagia." ujarnya memotong kata kata Nyonya Milea.
Lantas tanpa di duga, Nyonya Milea pun ikut memeluk tubuh sang menantu baru itu dengan erat, tentu saja bersama air matanya yang ikut meleleh akibat rasa haru dari kedalaman hatinya.
"Maafin mama kalo selama ini mama udah jahatin kamu ya, Nak. Semua mama lakukan hanya demi kebahagiaan Alex. Kamu juga pasti akan merasakannya nanti, apalagi keadaan mama adalah ibu dengan hanya diberi kesempatan untuk satu kali mengandung dan juga satu kali melahirkan," lirih Nyonya Milea diantara rasa harunya yang beruraian, ''Maka itu mama mau kamu harus punya banyak keturunan, dan buat rumah mama ini menjadi ramai karena kehebohan anak anak kalian berdua," lanjut Nyonya Milea lagi.
Mereka kembali saling berpelukan lagi di depan Mami Keren yang ternyata ikut menangis juga dan tentu saja di depan dua pria berbeda usia yang kini juga berada tak jauh dari situ.
"Tuh, Lex. Kamu lihat mamamu. Dia itu baik dan penyayang sebenarnya. Hanya saja papa yang menciptakan karakter mama menjadi super protektif, karen gak bisa kasih keturunan lebih selain kamu," ujar Guen menepuk pundak Alex yang sudah tertutupi oleh pakaian hitam adat jawa timur, "Jadi papa juga mau ingin omongan mamamu, kalo kalian berdua harus secepatnya punya banyak anak dan buat suasana rumah papa ini ramai dengan suara cucu cucu yang cantik dan ganteng. Kamu ngerti?''
"Beres, Pap! Pokonya Alex bakal bikin banyak anak, karena kata orang orang Indonesia jaman dulu nih ya, Pap? Banyak anak, banyak rejeki. Jadi Alex juga mau punya banyak anak, biar rejeki Alex tambah banyak. Benar kan, Pap?'' sahut Alex dan Guen pun terkekeh memeluk anak semata wayangnya.
Begitulah hidup yang terjadi dalam keluarga The Laode. Kebahagiaan mengalir satu persatu tiada henti, ketika sikap toleransi mulai ditanamkan. Tuan dan Nyonya The Laode berangsur angsur merubah sikap, juga saling mawas diri demi menyambut cucu pertama mereka. Sementara Alex dan Rose juga lebih berusaha mengerti jika orang tua adalah Tuhan dunia yang patut di hormati.
Ketika kesalahpahaman terjadi, mereka berusaha untuk saling terbuka dan meluruskan satu sama lain. Tentu saja dengan menghilangkan kebencian demi kebaikan bersama.
Semua karena bagi mereka, kebaikan itu adalah sesuatu yang sangat sukar dilakukan, maka ketika diri sudah berhasil melakukannya, menjaga adalah hal terbaik daripada merusak maupun menghancurkannya.