I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 69



Pesawat komersil salah satu maskapai penerbangan swasta dengan rute Jakarta - Solo, kini telah mendarat dengan sempurna di Bandar Udara Internasional Adi Soemarmo.


Nyonya Milea tak membawa pakaian ganti apapun dan tentu saja ia juga lupa dengan Pak Toni yang tadi mengantarnya ke Bandara Soekarno Hatta.


"Huff... Aku kok bis bodoh begini sih?!" umpat Nyonya Milea mulai merogoh tas tangannya. Di dalam sana ia mengambil ponsel, lalu menghidupkan benda pipih itu diantara langkah kakinya masuk ke pintu kedatangan Bandara, kemudian lekas mencari nomor kontak sang belahan jiwa.


Tut...tut...tuttt.... Tut....tuttt....


"Guen?! Kamu dimana? Kok lama bangat sih angkatnya?!'' tapi sekali lagi ia harus mengumpat, akibat sambungan yang tak kunjung di jawab oleh sang suami. "Haduh, gimana ini? Aku kan cuma modal alamat yang kurekam dari omongan si bocah itu? Mana udah tengah malam gini lagi. Yakin disini gak ada begal? Aku naik taksi bandara sendirian emang aman tuh?" batinnya sangat khawatir.


Wanita paruh baya lekas mematikan panggilan telepon, saat suara operator telepon menyuruhnya untuk meninggalkan pesan.


Tut....Tut.....Tuttt....


Sekali lagi Nyonya Milea mencoba peruntungan untuk menelpon sang suami dan gayung pun bersambut.


"Halo, Mam? Eh.... Maaf, Papa ketiduran di mobil ini," sahut Guen berbohong.


"Pa, Alex belum sadar ya? Kok tidur di mobil?'' kaget Nyonya Milea gak percaya.


"Belum, Mam. Masih di insentif care unit. Ruangannya kan belum bisa dimasuki siapa siapa dulu itu, Mam. Jadi mau gak mau ya Papa tidur aja di mobil. Enggak ada Mama juga kan? Jadi biarin aja deh gini." lagi lagi tuan Guen masih terus membohongi Nyonya Milea, agar istrinya itu merasa bersalah.


"Maafin Mama ya, Pap? Ini mama baru aja mendarat di Solo."


"Oh, gitu! Terus, Mam?" sekarang Guen yang merasa penasaran.


"Iya gitu deh. Terus apaan?'' tanya Nyonya Milea sedikit bingung.


"Maksud Papa, Mama itu udah ketemu sama Rose belum?''


"Cepat bangat ketemu. Ya, belum dong Pap. Mama tapinya udah punya alamat Rose di Solo. Dia tinggal di kos kosan dan ya gitu deh," desah Nyonya Milea tak kuasa menjelaskannya.


"Gitu gimana?''


"Hamil beneran, Pap. Mama jadi gak tega. Dulu aja papa pulang ke Madrid buat minta ijin nikahin mama terus gak diijinkan, Mam nyusul dan nyeret papa kembali ke Jakarta. Eh, si Rose udah tau hamil malah gak ngelawan apapun pas mama suruh untuk pergi jauh dari Jakarta. Bodoh banget."


"Itu bukan bodoh, Mam. Tapi dia karena kasihan sama Alex, karena memang mama kasih alasan perusahaan bakalan gulung tikar dan Alex harus nikahin Shella biar bapaknya mau kasih dana besar ke kita. Ya jelaslah dia relain Alex. Orang dia cinta dan sayang sama anakmu! Dia mana mau Alex hidup susah. Itulah definisi mencintai dengan tulus, Mam. Harusnya mama bangga bakalan punya anak mantu yang gak matre kayak si Rose itu. Bukan malah sibuk carikan jodoh yang kaya raya, nanti pas Alex benar benar melarat, apa mama yakin anakmu gak cepat menduda?" nasihat tuan Guen, begitu panjangnya tanpa jeda.


"Maafin Mama ya, Pap? Kali ini mama janji bakal bawa Rose pulang kembali ke Jakarta. Semoga aja anak dalam kandungannya itu perempuan ya, Pap? Jadi biar mama yang merawatnya."


"Suruh bikin lagi kali, Pap. Asal aja melahirkannya dengan cara normal, maka setelah selesai masa nifas empat puluh hari, Rose bisa hamil lagi. Nah, kalo lahiran lagi, itu urusan mereka deh. Kan mama udah kasih restu. Masa dia gak mikir kebaikan mama?'' tuan Guen pun menghela nafas berat di ujung telepon setelah mendengar penjelasan istrinya.


"Mama masih aja egois walaupun sudah mulai berubah. Jadi memang ideku sama Pak Dokter kemarin itu harus benar benar dilakukan. Biar Mama sedikit jera!'' geram tuan Guen dalam hatinya.


"Pap? Papa? Mama tutup teleponnya? Mama enggak pergi sama Pak Toni. Cuma sendirian aja ini, jadi-----"


"Mama terlalu keburu buru dan enggak mau dengerin kata kata papa, sih. Ya udah, sana deh cari hotel dulu. Hati hati di jalan ya, Mam? Pake aja limited card nya buat kemudahan mama, asal jangan jumlah besar sekali seperti kemarin dua ratus juta itu ya? Keterlaluan sekali itu namanya!''


"Ye.... Dasar bule pelit! Udah ah, bye my beloved papa Guen The Laode. Muach...." jawab Nyonya Milea menutup sambungan telepon. Ia pun kembali meletakkan ponsel itu ke dalam tas tangan dengan maksud melangkah keluar dari pintu bandara, dan mencari hotel untuk beristirahat.


Akan tetapi, baru dua kali kakinya melangkah, benda pipih kali kembali berdering keras dan Nyonya Milea kembali mengambilnya.


"Kenapa lagi nih si Papa?" batinnya, melihat layar ke ponsel. "Eh, bukan nomor papa nih, siapa nih yang telepon?" lanjut Nyonya Milea membatin. Ia hendak membiarkan panggilan itu terus terjadi, tetapi bunyi handphone yang terus berisik membuatnya mengalah.


"Halo, siapa nih?'' jawab Nyonya Milea setelah menekan tombol hijau di layar ponselnya.


"Malam, Tante. Ini Topan, Tan. Yang tadi tante kasih duit, karena udah kasih alamatnya bude Ratna di Solo itu tuh. Masih ingat?'' sang penelpon yang ternyata adalah Topan, Kakak kandung Riri.


"Oh, iya. Ada apa ya? Apa alamatnya salah?"


"Oh, bukan. Maksud saya menelpon bukan itu, Tan. Alamatnya udah benar kok. Cuma kata mama, saya disuruh memastikan aja gitu. Tante kapan mau ke Solonya? Kali aja nanti bisa saya suruh bude saya untuk jemput di bandara atau----"


"Gak usah, Pan. Tante udah sampai kok di bandara Adi Soemarmo Solo. Ini lagi mau nyari taksi."


"Wah, pas bangat tuh. Bagaimana kalo Topan arahin aja lewat telepon, sampai tante tiba dengan selamat di rumah tante Ratna? Kasihan kan tante udah ngasih uang ke Topan banyak bangat, Eh malah sibuk nyari sendiri alamatnya. Kata mama itu mah gam amanah. Gimana, Tan?'' jelas Topan mencoba untuk bersandiwara lagi.


Bodohnya Nyonya Milea membenarkan perkataan Topan dan sambungan telepon pun tidak dimatikan. Ia segera keluar hingga ke koridor Bandara dan mencari taksi. Kemudian saat sudah naik ke dalamnya, mulailah wanita paruh baya itu bertanya lagi kepada Topan kemana alamat yang harus ia tuju.


"Halo, Pan. Tante udah di dalam taksi nih. Jadi harus ke alamat mana? Soalnya kamu lagi telepon kan? Jadi tante gak bisa hidupkan voice recorder yang isinya rekaman suara kamu saat kita ketemu itu deh," ujar Nyonya Milea bertanya.


Topan pun memberi jawaban. "Alamatnya di kecamatan Banjarsari, Tan. Nanti kalo udah masuk Banjarsari, baru deh Topan kasih tau lagi.


Alhasil, meluncurlah taksi tersebut kesana. Lantas setelah kurang dua pulu menit mobil melaju ke kecamatan Banjarsari, pak sopir pun meminta Nyonya Milea untuk bertanya lagi pada Topan di ujung telepon.


"Halo, Pan? Ini tante sama taksinya udah sampai di kecamatan Banjarsari nih. Di kelurahan apa kata pak sopirnya, Pan?" suara Nyonya Milea mencontohkan perkataan sang sopir taksi.


"Di kelurahan---- Tut.... Aduh! Pulsa Topan habis, Tan! Ya ampun.... Giman---- Klik,"