I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 75



"Dokter lihat papa saya diluar? Kok gak masuk kesini lagi ya? Saya mau tanya tentang kabar mama dan calon istri saya sudah pulang atau belum ke Jakarta," ujar Alex dan sang dokter terkekeh.


"Mama anda sudah datang tadi pagi kesini, Pak. Hanya saja beliau pingsan saat Pak Guen dan saya baru saja memulai drama yang kita sepakati kemarin itu. Jadi ya kita tidak jadi berakting ala aktor film nya, karena saya khawatir dengan kondisi kesehatan ibu anda."


"Sudah kuduga. Harusnya gak usah pakai drama kayak kemarin kali, Dok. Soalnya mama itu suka pingsan kalo kaget. Jadi mama dan papa sekarang dimana, Dok?'' tanya Alex begitu penasaran.


"Sudah berada di lantai tiga, Pak. Ibu anda sedang di rawat juga oleh dokter lain di ruang perawatan. jadi, ya untuk sementara Pak Guen mungkin masih sibuk merawat ibu anda." jelas sang dokter lagi.


Mendengar hal tersebut, Alex pun sempat sedikit merasa kecewa, karena dengan begitu ia tak dapat bertanya tentang si pujaan hatinya.


"Baiklah, saya permisi dulu, Pak Alex. Kalo ada yang perlu dibantu, minta saja pada perawat Lili ini. Tadi, Pak Guen sudah berpesan agar saya menempatkan satu perawat dalam ruangan anda, karena beliau sedang sibuk sibuknya. Intinya habis makan, jangan lupa minum obat dan istirahat yang cukup agar anda lebih cepat pulih. Oke?" pamit sang dokter lalu berbalik dan melangkah menuju ke pintu ruangan.


Setelahnya, ritual mengisi perut dengan porsi super sedikit sesuai arahan dokter pun dilakukan oleh sang perawat bernama Lili tadi. Namun, ponsel wanita itu berbunyi kecil akibat ada pesan singkat yang masuk.


"Aduh, maaf Pak. Tadi lupa saya silent." ujar Lili mengambil ponsel tersebut dan mengatur nada deringnya.


Sayangnya otak pintar Alex berpikiran lain saat melihat sang perawat memegang handphone dan aksi pun dimulai.


"Sus, bisa gak saya pinjam ponselnya bentar? Saya mau menelpon pembantu di rumah biar datang kesini deh. Kasihan kalo suster harus menjaga saya sementara pembantu di rumah makan gaji buta aja," ujar Alex dan perawat itu pun mengernyitkan keningnya. "Tenang aja, Sus. Nanti sampai sini saya ganti uang pulsanya pakai uang cash. Gimana? Paling juga gak sampai seratus ribu saya telepon ke rumah nanti. Boleh ya, Sus?" rayu Alex dan perawat bernama Lili itu pun akhirnya bertanya nomor tujuan yang harus ia hubungi.


Tut....Tut.....Tut.....


Alhasil, sambungan telepon pun terhubung, dengan suara Mbak Pesta sendirilah yang mengangkatnya. "Halo? Kediaman bapak Guen The Laode, ada yang bisa dibantu?''


"Mbak, ini Alex! Rose mana, Mbak?! Cepat bawa dia ke rumah sakit sekarang ya, Mbak? Bawa juga uang belanja mama sekitar dua ratus ribu buat Alex gantiin pulsa si suster ini, Mbak. Nanti kalo sampai, naik aja ke lantai----"


"Lantai paling atas, Pak." bisik Perawat Lili.


"Iya! Kalo udah sampai, Mbak naik aja ke lantai paling atas rumah sakit, terus nanti kalian berdua dijemput sama suster yang jagain Alex sekarang. Oke, Mbak? Gak pakai lama, ya? Awas kalo gak datang! Alex gak mau ngomong sama Mbak Pesta lagi!''


Klik


Sambungan telepon pun diputuskan sepihak oleh Alex, sebelum asisten rumah tangga di kediaman Guen The Laode itu berkata sepatah kata pun.


"Udah nih, Sus. Tenang aja. Nanti pulsanya saya ganti dua ratus ribu, asal suster jemput calon istri dan pembantu say di luar nanti. Oke, sus? Makasih banyak ya?'' semangat Alex dengan mata berbinar binar.


Sementara itu Mbak Pesta yang berada di dapur pun syok setengah mati, hingga membuat dirinya pun berpegangan pada tembok.


"Mbak, saya mau minum teh hangat. Gulanya yang mana ya? Saya bingung." sanggah Rose dan monolog Mbak Pesta pun berhenti.


"Loh, Non. Kok malah mau buat sendiri, sini Mbak Pesta aja yang buatin," sahut Mbak Pesta mengambil cangkir di tangan Rose, "Lagian harusnya Non itu makan aja daripada ngeteh. Soalnya Den Alex itu barusan telepon suruh Mbak Pesta nganterin Non Rose ke rumah sakit sekarang. Jadi---"


"Hah! Yang benar, Mbak?! Kok gak bilang dari tadi? Kalo gitu sekarang Rose mau ganti baju dulu deh. Tapi pinjam baju Mbak Pesta lagi ya? Soalnya Rose gak bawa baju apa apa ini." Rose sekali lagi memotong ucapan Mbak Pesta.


Namun, asisten rumah tangga itu tak langsung meng iyakan permintaan calon Nyonya mudanya, karena sejak tiba di rumah Rose sama sekali tak mau menyentuh makanan.


"Mbak pinjami asalkan Non makan nasi sama lauk sayur terus minum susu hamil yang sudah Mbak Pesta beli di supermarket depan tadi. Kalo gak mau makan, Mbak Pesta gak mau pinjami baju sama gak mau nganterin Non Rose ke rumah sakit. Gimana?" ujar Mbak Pesta memainkan ide gilanya agar Rose mau makan.


Alhasil, tanpa bisa menolak, Rose pun pasrah dengan permintaan Mbak Pesta dan kini ia mulai menyantap sepiring nasi lengkap dengan lauk pauk serta sayuran yang dihidangkan.


*********


"Mbak, yakin ini rumah sakitnya? Kata ibu tadi Alex belum sadar kok, Mbak. Masa sih, beneran dia yang telepon ke rumah?'' tanya Rose dalam lift menuju lantai paling atas rumah sakit.


"Mbak Pesta juga kaget kok, Non. Makanya sempat bingung tadi. Tapi itu emang suara calon suami Non Rose kali, masa Mbak bohong? Enggak dapat apa apa juga kan dan gak ada gunanya?" sahut Mbak Pesta dan Rose pun mengangguk.


"Ya udah. Semoga aja Alex emang udah sadar. Soalnya aku ngerasa bersalah bangat sama dia, Mbak. Kan gara gara mau cari aku makanya dia kecelakaan. Syukur Alex masih selamat, Mbak. Kalo enggak anakku bakal...." lirih Rose menggantungkan, karena air matanya membuat dia tak lagi sanggup meneruskan kata katanya.


"Enggak boleh mikir yang enggak enggak, Non. Intinya sekarang kita jalani aja semua yang sudah ada di depan mata. Paling dikit lagi tuan sama nyonya bakal nikahin non sama den Alex. Jadi habis itu ya non Rose harus fokus jadi istri sama ibu yang baik buat anak anak non nanti. Kalo semisalnya nyonya maunya kalian berdua tinggal di rumah, ya non harus nurut aja biar aman. Kayak Mbak Pesta ini loh, Non. Kenapa bisa kerja lama di rumah, padahal Nyonya itu cerewetnya minta ampun? Ya karena nurut aja apa kata Juragan, gitu!" kekeh Mbak Pesta bercerita ngalor ngidul.


Sampai sampai lift pun akhirnya berhenti dan ketika pintu terbuka, dari luar tampak seorang Perawat dengan pakaian serba putih di sana.


"Mbak Pesta sama Mbak Rose, bukan?" tanya sang perawat yang bernama Lili, langsung tanpa basa basi.


"Iya. Ini suster yang tadi den Alex bilang di telepon?''


"Iya, mari ikut saya ke ruangan Pak Alex," sahut perawat Lili, berjalan lebih dulu di depan.


Alhasil, ketiganya pun melangkah di koridor lantai paling atas rumah sakit tersebut, tentu saja dengan berbagai pikiran yang berkecamuk dalam isi kepala mereka masing masing.


Ceklek....