I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 25



"Hah? Ke kantor?'' gugup Ira.


"Iya! Ini loh anak saya yang jadi bos kamu itu tadi masuk kerja jam berapa? Apa dia barusan datang?'' selisik Nyonya Milea.


Ira pun segera membulatkan bola matanya. Ia menatap ke arah sang bos, yang langsung memberi kode dengan sedikit berdehem dengan mengedipkan sebelah netranya.


"Eh... it... itu, Bu. Pak Alex su... sudah datang dari tadi pagi. Memangnya kenapa bu?" tanya Ira berusaha menutupi rasa kikuknya.


"Kamu gak bohong kan?''


"Mama------"


"Mama cuma mau kamu jadi baik, Alex! Maka itu mama bersikap seperti ini! Paham kamu?''


"Ya, tapi bukan di depan Ira, Ma! Dia karyawan Alex!'' kesal Alex, menampilkan wajah kurang bersahabatnya.


"Ya, kalau begitu harusnya dia keluar dong dari sini. Benar, kan?" sahut Nyonya Milea melipat kedua tangannya di dada.


"Eh, ma...maaf. Saya permisi dulu, Pak. Mari, Bu." Ira pun cepat berbalik dan meninggalkan ruangan itu dengan rasa takut.


"Tuh, udah keluar. Jadi stop ngambeknya. Mama percaya kok kalau kamu datangnya pagi. Kan tadi Ira udah bilang sama Mama. Mana berani tuh anak bohong sama mama, ya kan?'' ujar Milea menghampiri putranya.


"Ya udah, Ma. Pulang sana gih! Alex lagi pusing sama kerjaan yang kemarin meeting di Singapura itu. Nanti sore haris kesana lagi buat meeting mendadak yang mereka ajukan barusan tadi." ujar Alex mengusir sang Ibu.


"Kamu itu. Mama kan baru datang, Lex. Selalu deh kayak gitu. Belum lagi akhir akhir ini mama ngerasa kamu berubah. Memangnya apa sih yang kamu umpetin dari mama?''


"Ih, Mama! Sembunyiin apa sih, Ma? Orang Alex gak sembunyiin apa apa kok." elak Alex menjawab perkataan ibunya.


"Lex, kamu itu anak mama. Mama mengandung kamu selama sembilan bulan. Jadi mama tau sekali kalau kamu itu sembunyiin apa apa dari mama. Hati seorang ibu itu selalu tahu kalau anaknya kenapa - napa, Lex." sahut Nyonya Milea yang masih saja tak percaya pada perkataan putranya.


"Tapi beneran, Ma. Alex gak sembuyiin apa apa dari mama. Suer deh," ujar Alex menaikkan kedua jarinya. "Udah sana mama pulang aja deh. Gak bisa konsentrasi Alex kalau ada mama. Gimana mau dapat duit kalau kayak gini coba?''


"Iya-iya! Mama pulang sekarang. Tapi awas aja kalau kamu sampai bohong. Mama akan coret nama kamu dari ahli waris keluarga!" ancam ibunya.


"Mama itu ancamannya pasti itu mulu, terus kalau dicoret. Itu hak ahli waris mau di kasih ke siapa lagi, Ma?" tanya Alex penasaran.


"Akan mama sumbangkan ke semua panti sosial."


"Sudah ya, Mama sayang. Jangan marah marah lagi. Alex nurut sama mama kok." ujar Alex memilih mengalah saja. Ia lantas bangun dari kursi kebesarannya dan lekas memeluk tubuh wanita paruh baya itu, untuk menenangkannya.


"Ya, Udah! Mama pulang ini. Kebetulan juga mama ada arisan setelah makan siang. Kamu jangan lupa lunch juga ya? Suruh aja si cewek centil sekretaris kamu itu yang beli ke bawah kalau kamu maunya makan masakan Padang tapi gak bisa delivery." sahut ibunya lagi.


"Siap, Ma. Gampang lah itu, nanti Alex pesan di kantin aja." kata Alex, ikut melangkah ke pintu utama ruangannya.


Milea lalu mengecup pipi putranya, dan berlalu pergi meninggalkan kantor. Sepeninggal sang ibu, Alex dengan segera meraih benda pipih di dalam saku celananya. Meski ia sedang bertengkar dengan Rose tapi rasa rindu selalu saja membuncah dalam hatinya.


Alex pun mencari di kontak ponselnya, nomor Jhonny dengan segera dan sambungan telepon pun terdengar di telinganya.


"Halo, Iya, Bos? Ada apa nih?'' tanya Jhonny di seberang.


"Ada apa? Gue gak boleh nelepon lo emangnya?''


"Yaelah, si Bos. Sensitif amat, sih. Maaf, Bos." kekeh Jhonny, membuat Alex mengeraskan rahangnya.


"Gimana? Sudah belum, lo daftarin cewek gue ke tempat kuliah yang dia mau?" tanya Alex antusias.


"Cewek? Cewek yang mana, Bos?" goda Jhonny menahan tawanya.


"Ck! Sialan, lo! Rose Van Houteen. Siapa lagi?!"


"Oh, jadi sekarang Bos udah jadian sama dia?!" pekik Jhonny membuat Alex menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Banyak bacot, Lo! Jawab aja apa yang gue tanya, Oncom!''


"Ye.... Marah lagi si Bos. Lah, kan ini gue lagi nungguin dia Bos. Dia masih di dalam. Gue nunggu di luar sambil lihat cewek cewek cantik. Biasa Bos, cuci mata." ucap Jhonny dengan nada nyengir.


"Oke-oke. Terserah elo deh itu. Tapi awas ya kalau lo gangguin Rose kayak biasanya lo cicipi cewek cewek bayaran bekas gue dulu! Rose itu beda! Gak bakalan jadi bagian icip icip lo lagi kayak dulu! Ngerti lo?!''


"Siap, Bos. Tenang aja itu mah. Sudah gue tulis barusan pakai spidol yang gak bisa dihapus, kalau Rose itu ceweknya Alexander The Laode, Bos gue yang paling ganteng se-Jabodetabek. Iya kan, Bos?" sahut Johnny dan Alex terkekeh di ujung telepon.


"Anak pintar. Ya udah lo jagain terus dia di sana. Jangan sampai ada cowok yang---''


"Ya jelas ada dong, Bos! Tadi aja udah banyak yang dekatin. Harusnya tuh tadi Bos yang anterin Rose. Egh, Bos malah nyuruh gue."


"Apa?!" pekik Alex tersentak seketika dari kursinya.


"Lah, emang gitu adanya kali, Bos. Makanya itu Bos harusnya gak usah aja kasih Rose untuk kuliah, Memangnya nanti dia di kampus gak ada teman cowoknya? Kalau gue jadi Bos mah, Kuliahnya di kasur aja lebih enak." kekeh Jhonny, tapi tak terasa lucu bagi Alex. Ia memikirkan ucapan Jhonny yang bernada gurauan tadi dan tangannya pun segera mengakhiri panggilan telepon tersebut.


"Shitt! Benar juga tuh kata si Jhonny oncom. Rose pasti nanti digangguin teman teman cowok kuliahnya. Udah dia itu polos banget lagi, tapi aku harus gimana dong? Kuliah itu tujuan hidup dia sekarang. Kalau aku gak kasih kesempatan, ya mana maulah dia capek capek layani gue! Duh, kampret!'' umpat Alex dalam hatinya. Ia lantas menemui sekretarisnya dan mencoba bernegosiasi lagi di sana.


"Ira, Rapatnya besok pagi kan? Minta pas jam makan siang sekalian aja bisa gak tuh? Coba kamu tanya sekarang. Jadi besok pagi aja kita terbang dari sini ke sana."


"Aduh, gimana ya, Pak? CEO perusahaan Adara itu gak punya waktu selain sore ini dan besok pagi, Pak. Terus saya juga udah pesan tiket kelas bisnis buat lima orang dengan jadwal keberangkatan sore ini. Gimana dong, Pak?" ucap Ira.


"Ck, kamu itu. Cepat bangat kerjanya."


"Ya, kan tadi Bapak yang bilang-----"


"Iya-iya! Jangan jawab lagi. Beresin kerjaan mu deh. Batal udah niat gue mau ketemu sama Rose," potong Alex berbalik dan masuk lagi ke dalam ruangannya.


Namun, sebuah guncangan besar juga ternyata sedang terjadi dalam diri Ira, dan itu disebabkan oleh perkataan Alex. Walaupun nada bicara pria itu di akhirnya tadi semakin mengecil, tetapi telinganya masih mampu bekerja dengan baik. Ia menangkap satu nama wanita dari mulut pujaan hatinya dan tersulutlah rasa cemburu sang sekretaris.


"Rose? Hm, siapa dia? Apa Alex punya cewek baru? Ck! Ini gak bisa dibiarkan. Gue harus cari tau, karena yang boleh layani si burung beo si Alex itu cuma gue! Bukan yang lain!"