I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 52



"Ck! Itu aku udah tau, Pap. Mama gak sengaja lihat dan dengar aku lagi main tusuk tusukkan sama Rose kan?''


"Nah, itu tau. Kenapa tanya lagi?'' jawab Guen seperti orang linglung seketika.


"Maksudnya yang lain, Pap. Habis itu loh, Mama kemana? Papa gak tau? Apa mama tadi cari Rose di kampusnya? Papa dimana?Coba papa tanya sama Pak Toni disitu, Pap. Tadi dia nganterin mama ke kampus trissakti gak tuh?" ujar Alex dan segera saja langkah kaki Guen menuju parkiran mobil.


"Iya. Coba papa tanyain. Tadi pas papa di lapangan golf itu, Pak Toni emang sempat minta ijin mau anterin mamamu, Lex. Cuma papa gak tanya sih. Soalnya sibuk sama beberapa relasi kita yang juga sudah pensiun." jelas Guen menuruni tangga depan hotel.


"Maafin Alex, Pap. Alex memang gak hobi golf," jawab Alex merasa bersalah.


"Udah gak apa apa. Ya, namanya juga kolega bisnis. Lagi tuh ya, tadi papa belum tau juga kalo hari ini mama lihat kamu gituan di apartemen. Papa taunya pas mau jalan ke Ritz Cerlton ini," ujar sang ayah mulai bercerita.


"Terus, Pap? Apa kata mama?" sahut Alex tak sabaran.


"Ya, itu. Kan mama baru cerita. Pakai emosi lagi ke papa soal kamu gituan, jadi papa sih diam diam aja. Orang dulu juga papa duluan gituin mama makanya kamu cepat muncul sebelum papa nikahin mama. Kalo gak gitu ya papa mungkin masih pilih harta orang tua papa kali. Belum serius sama mama----"


"Itu sih, Alex udah tau, Pap. Ada gak mama cerita yang lain lagi?" tanya Alex semakin kesal dengan cerita ayahnya tentang masa lalu.


"Enggak ada yang lain. Makanya ini papa udah jalan sampai diparkiran mobil nih. kan kamu yang sur---- Eh, itu pak Toni. Tunggu papa tanyain dulu. Kamu matikan aja teleponnya. Kali aja dia dibayar mama agar tutup mulut. Jadi papa mau paksa dengan cara halus juga. Lima menit lagi baru kamu telepon, ya? Bye!" Guen pun menutup sambungan telepon itu.


Alhasil Alex hanya bisa menghela nafas kasarnya sekali lagi dan berharap jika sng ibu tidak mengintimidasi Rose.


"Ini, Den. Minum dulu biar adem." tegur Mbak Pesta membawa botol kemasan air mineral dan juga gelas berisi batu es.


"Makasih, Mbak. Tau aja harus pake batu es tambahan." senyum tipis terbit di wajah Alex.


"Sama sama, Den. Apa sih yang gak Mbak Pesta tau soal Aden. Soal Nyonya yang tadi marahin Non Rose juga Mbak Pesta tau. Kan tadi Mbak yang anterin---"


"Ukhuk ukhuk..." Alex menyemburkan air mineral itu dari mulutnya.


"Ya, kerja double nih. Baru aja Mbak pel tadi ini lan---"


"Ceritain, Mbak! Cepetan! Mbak tau tapi kenapa dari tadi diam aja?'' kesal Alex memelototinya dengan kedua bola matanya.


"Ya, Aden gak nanya sama Mbak sih. Padahal kan Aden tahu dari lima tahun lalu Nyonya kalo kemana mana perginya sama----"


Alhasil, asisten rumah tangga itu menceritakan semuanya pada Alex dan kini laki laki dua puluh lima tahun itu sedang berada di dalam mobil sport miliknya dan melaju menuju ke apartemen kembali.


Brrt brrt brrt....


"Halo, Pap? Mbak Pesat udah ceritain. Mama tadi cuma ngancam Rose doang, gak sampe aneh aneh sewa orang buat bunuh di----"


"Kamu tuh! Pikirannya kok jauh bangat sih? Iya, gitu kata Pak Toni juga tadi. Makanya kamu itu cek baik baik dulu deh ke apartemen sana," balas Guen di ujung telepon.


"Iya, Pap. Mungkin Rose ngambek sama Alex. Makanya hapenya dia matikan. Lagian kan tadi pagi Alex yang nyuruh dia ganti sandi apartemen, jadi ya mungkin gitu," sahut Alex dan terdengar kekehan Guen di telinganya.


"Kurang jatah kali, tuh. Kamu yakinkan dong dia, biar rencanamu itu berhasil. Kalo mau pake acara hamil duluan demi bisa buat mama setuju, ya sudah usaha bikin terus. Kalo punya jalan lain yang lebih baik dari itu, Ya sudah kamu tuntun dan kasih pengertian ke Rose. Kamu kan bakal jadi calon kepala keluarga, Lex. Dan yang menikah kan kamu, bukan mama sama papa. Iya kan?" oceh Guen The Laode dan tak ada lagi balasan dari Alex.


Beberapa detik Alex hanya terdiam dan membenarkan perkataan ayahnya, lalu ia pun memilih menyudahi percakapan tersebut.


"Makasih, Pap. Alex bangga punya Ayah seperti Papa. Alex minta doanya biar istri Papa yang cerewet itu gak bawel terus ya, Pap?"


"Dia mama yang melahirkan kamu, tau. Dasar kamu tuh," kekeh Guen dan Alex bersamaan. Selanjutnya panggilan telepon pun terputus dan tiga puluh menit kemudian ia pun sampai di apartemennya.


Alex segera melaju ke tempat petugas apartemen yang biasa mengurusi bagian keamanan apartemen, dan membayar sejumlah uang agar segera memberi info padanya, berapa sandi baru di pintu apartemennya yang di huni oleh sang kekasih. Alhasil setelah berhasil, ia masuk ke dalam lift dengan perasaan harap harap cemas.


"Ya, Tuhan. Semoga aja Rose cuma ngambek tapi masih ada di apartemen ini kayak kemarin itu," gumam Alex keluar dari lift, "Jangan biarkan Rose kabur ke kampungnya, ya Tuhan. Nanti dia jadi dinikahin pamannya lagi. Semoga aja dia terus cinta sama aku, ya Tuhan. Jangan biarkan juga ancaman mama bikin dia galau dan jadi enggak serius sama hubungan kami. Amin." kali ini doa itu terlontar begitu saja di sela jari telunjuknya yang menekan tombol di panel itu.


Saat pintu benar benar terbuka, Alex segera menutupnya kembali dan bergegas melangkah menuju kamar Rose.


"Sayang!'' teriak Alex segera menerjang tubuh Rose yang meringkuk seperti anak kucing di atas tempat tidur. "Kamu boleh marah sama aku, sayang. kamu boleh benci aku, tapi tolong abaikan kata kata mamaku ya? Aku gak akan lepasin kamu sampai kapan pun, Rose! Aku gak bakalan bisa." satu pelukan erat Alex, kini berada diantara tubuh kekasihnya.


Akan tetapi, Rose tetap tak bergeming dari posisi pura pura tidurnya, tetapi air yang meluncur turun dari kelopak mata berhasil memberikan penjelasan bagaimana perasaan mahasiswi itu.


Alex menghapus air mata di pipi putih Rose, dan entah setan dari negeri antah berantah mana? Sebaris perkataan Alex mampu membuka kelopak mata cantik Rose terbuka lebar.


"Ayo kita menikah malam ini juga, Rose Van Houteen! Aku akan mengurus semuanya dan kamu harus nurut, tanpa boleh membantah apa mauku!''