
Enam puluh menit pun akhirnya selesai dan kuis lembar jawaban masing masing dikumpulkan. Rose dan Riri beriringan keluar dari ruang kelas. Tujuan mereka memang ingin pergi ke ruangan lain, tempat mata kuliah berikutnya diadakan. Namun, langkah kaki mereka terhenti, ketika wajah wanita yang melahirkan Alexander The Laode sudah berada tepat di depan keduanya.
"Saya mau bicara sama kamu, Rose Van Houteen!" tegas Nyonya Milea dan Rose terbungkam tanpa kata.
Nyalinya yang tadi pagi berkobar saat berniat memberi pelajaran pada Alex, ciut seketika. Terlebih lagi kini Riri dengan anggun sudah berpamitan padanya dan pergi begitu saja.
"Saya sudah tahu apa yang akan ibu katakan. Maafkan saya soal tadi pagi itu. Saya hanya menjalankan tugas saya sebagai pemuas nafsu anak ibu dan jangan khawatir soal kehamilan yang dia rencanakan. Saya tidak akan pernah mau menikah dengan laki laki manapun tanpa restu dari kedua orang tuanya." sahut Rose yang tiba tiba saja sudah keluar begitu saja dari pita suaranya.
"Good! Buktikan jika memang kamu hanya mendekati anak saya karena dia sudah membiayai kuliahmu, Rose Van Houteen! Kamu sudah rasakan sendiri seperti apa enaknya di universitas sekelas Trissakti ini bukan? Jadi kali ini, saya kasih toleransi demi kepuasan bati Alex! Jangan coba coba kamu tidur dengan laki laki lain dan jangan mencoba untuk bermimpi bisa menjadi menantu di keluarga kami melalui berbagai macam cara licik! Saya bisa habisi kamu dengan cara apapun! Camkan itu?!'' jawab Nyonya Milea berapi api.
Setelahnya, wanita itu berbalik, lalu melangkah ke tangga koridor baru dan pergi tanpa menoleh ke arah Rose yang sudah bersimbah air mata.
########
"Udah kelar, Akhirnya..." ujar Alex bersemangat. Ia baru saja selesai membubuhkan tanda tangan dan meninjau beberapa berkas yang akan dipakai dalam mengajukan proposal tender ke perusahaan asing, setelah sedari tadi menggerutu karena merasa tumpukan berkas itu tak kunjung berkurang.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobal----"
"Argh! Apaan sih ini?!" kesal Alex melempar ponselnya ke meja, karena sejak tadi siang Rose tak dapat dihubungi.
Nomor ponsel Jhonny bahkan tiba tiba saja tidak dapat dihubungi, karena memang laki laki itu sedang diteror oleh Nyonya Milea untuk pergi dari kampus Rose dan membiarkannya sendirian pulang ke apartemen. Karena ketakutan akan murka dari sang tuan, maka Jhonny mematikan ponsel. Kemudian melaju ke arah tempat tinggalnya di Depok.
"Bego! Gue telepon Jhonny aja kenapa?! Sialan, gue lupa!'' umpat Alex mengambil kembali ponselnya.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif dan berada diluar jang----"
"Ya astaga! Kenapa juga nomor si Jhonny gak aktif juga? Jangan jangan ada apa apa lagi sama mereka? Atau jangan jangan Mama sewa pembunuh bayaran karena emosi melihat aku tidurin Rose tadi pagi dan mereka berdua....Gak! itu gak boleh terjadi!" teriak Alex berdiri sangat kasar dari kursi mejanya.
Secepat kilat Alex mengambil kunci mobil dan tujuannya hanya apartemen, karena memang saat itu waktu telah menunjukkan waktu 17.50 WIB. Besar kemungkinan Rose sudah pulang dari kampus.
Sepanjang perjalan Alex tidak fokus dalam mengemudi, lalu mengumpat dan terus saja mengumpat adalah hal yang ia lakukan diantara kepanikan dalam hatinya.
Empat puluh menit kemudian Alex pun sampai di apartemen Rose, tetapi lagi lagi ia mendapatkan satu kesulitan sebab pintu apartemen itu tidak bisa terbuka sama sekali.
"Sial! Rose.... Buka pintunya, sayang... Rose, kamu ada di dalam atau gak?!" teriak Alex ketakutan.
Hal itu terus saja ia ulangi berkali kali, sampai ia lelah dan memutuskan untuk pergi mencari orang yang dipikir adalah biang dari hilangnya jejak sang kekasih.
"Mama! Awas aja sampai Alex tau Mama sakiti Rose! Alex gak akan mau tinggal sama mama lagi dan gak mau diakui sebagai anak!'' murka Alex berteriak gila disepanjang lorong apartemen.
Akal sehatnya seolah hilang negara api, sampai sampai Alex pun lupa dengan petugas apartemen yang bisa kapan aja disogok untuk membantunya masuk ke apartemen dan kini malah kembali ke jalanan ibu kota menuju ke rumah orang tuanya.
#######
Mendengar hal itu, Asisten rumah tangga di keluarga The Laode akhirnya lebih dulu mendengar teriakan itu dan ia berlari dari dapur menuju ke sumber suara.
"Eh, Den Alex. Mbak pikir siapa. Ada apa toh, Den? Kok teriak teriak gitu?'' sama Mbak Pesta, ramah seperti biasa, sehingga hal itu membuat Alex menurunkan satu oktaf suaranya dan segera bertanya tentang objek yang ia cari di dalam rumah itu.
"Mama mana, Mbak Pes? Cepat panggil ke bawah! aku gak sudi lagi berlama lama di rumah ini!"
"Loh Loh, Den? Ini ada apa toh? Nyonya masih di luar sama Tuan, Den. Katanya tadi mau ketemu sama calon istri Den Alex, Maka itu Mbak bingung. Kok malah Aden ada disini? Gak ikutan wakuncar toh?" polos Mbak Pesta bertanya.
"Calon istri? Oh, jadi Mama sama Papa lagi bawa Rose jalan jalan. Oh ya su---''
"Loh, kok Rose sih, Den? Bukan kali. Itu loh teman baik Den Alex waktu masih kuliah dulu. Yang sudah main sinetron di tv itu loh, Den. Non Shel---"
"Shella Juarta maksud Mbak Pesta?''
"Nah, itu dia Den. Mbak Shella Juarta." cicit si asisten rumah tangga sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Tak urung, terlihat jelas semburat merah padam sudah mulai bermunculan di wajah tampan Alex dan gigi gigi yang bergemeretuk pun kini dapat menjelaskan bagaimana perasaannya.
"Mau Mbak bikinin minuman apa, Den?''
"Gak usah! Air putih dingin yang dari kulkas aja bawa datang sama botolnya kemari, Mbak. Aku mau telepon papa aja dulu. Mama memang egois!'' kesal Alex, membanting tubuhnya ke atas sofa yang berada tepat di depan televisi.
Tutttt..... Tuttt.... tutttt.....
Sambungan telepon pun terdengar di telinga kanannya. Namun, sepanjang tiga kali bunyi itu ia dengar, suara sang ayah tak juga terdengar menyapanya.
"Ish, Papa dimana sih?!" umpat Alex mengulangi panggilan teleponnya.
Tutt.....Tutt.... Tut....
"Halo, Lex? Kamu dimana? Cepat kesini, Mamamu makin resek ini. Papa capek ngasih soal pengertian ke mama mengenai Shella Juarta yang gak mau jadi istri kamu, eh tapi mamamu sama mamanya malah maksa maksa dia sampai papanya Shella juga akhirnya setuju!" sahut Guen The Laode, setelah mengangkat panggilan telepon anaknya.
"Huftt.... Jadi papa dimana sekarang? Apa tadi mama ketemu sama Rose, Pap? soalnya hapenya Rose itu gak aktif seharian, Pap. Alex khawatir, cari ke apartemen juga sandi pintunya diganti baru terus ke rumah malah Papa sama Mama gak ada. Gimana dong ini, Pap?" curhat Alex pada akhirnya.
Dari balik sambungan telepon Guen juga ikut menghela nafas kasarnya, sebelum akhirnya dia jujur dengan apa yang dia ketahui.
"Mamamu tadi pagi katanya gelisah karena kamu gak pulang ke rumah. Makanya cari kamu ke apartemen, Katanya ketemu Jhonny dia. Papasan di lift gitu. Eh, pas sampai di dalam apartemen kamunya lagi----"
"Ck! Itu aku udah tau, Pap......"