I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Episode 3



Windi pun langsung memutar tubuh sintalnya untuk menghadap langsung ke arah cewek cantik yang sudah menyambar ocehannya tadi bersama Alex beberapa saat lalu.


" Oke! Alex bilang kamu boleh kok kerja sama dia. Jadi sekarang kamu ikut tante ke sa--, Loh, baju kamu kok kucel gini sih, cantik? Memangnya gak ada baju yang lebih rapih sedikit gitu? " Windi sedikit terkejut, ketika mendapati penampilan si gadis yang terlihat tak sedap di pandang mata.


Windi sangat paham bagaimana selera seorang Alexander Van Laode yang selama ini menjadi pelanggan setianya, jadi ia pun bertanya sekali lagi tentang penampilan si gadis cantik.


Tak tahu harus menjawab apa, hanya itulah jawaban yang Windi terima.


" Hm, maaf tante. Saya baru datang dari kampung. Saya itu, Egh, Saya--- "


" Itu apa, hm? Atau jangan jangan kamu ini maling ya sebenarnya? " Membuat kedua mata sipit Windi, menyelidik tajam.


" Bu--bukan, Tante. Saya bukan maling kok. Sa--saya kabur dari rumah paman di surabaya. Soalnya saya mau dijadikan istri anaknya gitu, tan. Kami ini kan masih sepupu dekat. Saya gak mau, jadi kabur dari kemarin kesini cuma bawa ijazah SMA saya ini aja, Tan. "


Alhasil, suka tidak suka gadis cantik itu pun menceritakan secara singkat siapa dirinya, karena ia tidak ingin dituduh sebagai maling oleh Windi yang sudah menjanjikan sebuah pekerjaan untuk bisa menyambung hidupnya.


" Astaga! Kamu mau dijodohkan sama sepupumu? Itu tapi beneran paman kandungmu gitu? " dengan kaget Windi kembali melontarkan pertanyaan.


" Iya, Tan. Makanya itu saya bisa kabur kayak gini kesini. Orang tua saya sudah meninggal sejak saya masih kecil, tan. Jadi Tante bisa kan tolong kasih saya pekerjaan biar bisa makan sama bayar kosan yang petakan gitu? Saya hak memiliki saudara yang saya kenal di jakarta, Tan. " sahut gadis cantik itu lagi.


Memberi satu keputusan agar segala sesuatu berjalan dengan apa yang Windi harapkan, Ia pun memutuskan satu hal baik untuk gadis cantik yang disebelahnya.


" Ya, udah deh. Kamu tenang aja, Nanti tante bakalan bantuin kamu, ya? kalau gitu sekarang kamu ikut tante, oke? Di dekat sini ada pasar loak yang jual pakaian masih bagus bagus gitu. Kamu nanti tante carikan baju baru yang keren sedikit, baru kita ke tempat si Alex, ya? Soalnya Alex itu orangnya--- "


Wakuncar ..... waktu kunjung pacar .... wakuncar .... waktu cari cari pacar.....


Alunan lagu dari seorang atris terkenal seksi itu terdengar dari dalam tas tangan yang dipegang Windi.


" Ponsel tante bunyi nih, pasti dari si ganteng Alex ini. " gerutu Windi sambil memutar bola mata jengahnya. Ia secepat kilat mengambil ponsel dari tasnya dan apa yang barusan dia bilang tepat sasaran seratus persen.


" Tuh, kan. Si ganteng ini lagi! Ngebet bangat deh dia kayaknya. Kamu tunggu sebentar disini dulu, Tante angkat telepon dulu ya, cantik? " cicit Windi dan gadis itu hanya bisa tersenyum kikuk sembari mengangguk anggukkan kepalanya.


Dengan sedikit cepat, Windi pun menjauh dari gadis cantik itu. Akan tetapi sebelumnya ia masih menyuruh untuk menunggu sebentar saja. Tergopoh gopoh berjalan cepat, Windi pun menggeser tombol hijau yang ada di layar ponsel.


" Halo, Sayang? Kena--- "


" Udah sampai mana? Kok lama amat sih datangnya, Tan? " Alex yang tak sabaran langsung memotong perkataan Windi.


Keduanya pun kembali terlihat dengan mengobrol panjang yang berisi dari sebuah penjelasan dari masing masing.


" Hah? Tante emang ada dimana sih kok belum dapat taksi? Di dalam gang, gitu? "


" Ish! Tante rumahnya bukan masuk masuk gang, Tante ada di dekat halte apa namanya ini, halte tugu tani. Cuma, itu si cewek cantik bajunya kucel banget loh, sayang. Tante jadinya pengen ajak dia dulu bentar ke pasar untuk belikan satu atau--- "


" Aduh, tante yang baik hati dan tidak sombong... Please deh, Tan. Gak usah pake acara pergi ke pasar segala dah, Tante cari aja taksi sekarang biar cepat sampai ke hotel ini. Soalnya si junior udah tegang bangat noh, tante sayang? Please .... " Alex sedikit merengek meminta ke Windi agar cepat cepat sampai di sana.


Alex menolak hal baik yang akan dilakukan Windi untuk membuat atau mempercantik gadis itu dan sungguh membuat tawa mantan wanita malam itu seketika menggelegar.


" Hahaha.... Udah gak sabaran ya? Ya udah deh kalau memang mau kamu begitu. Ini Tante meluncur ke sana sekarang ya? Kamu udah wa alamatnya belum? "


Usai berbasa basi tentang alamat dan membuat Alex dengan sigap menjawab. " Udah dong, Tan. Cepatan kesininya gak pakai lama. "


" Hahaha.... siap, sayang. Tante bakalan terbang bawa cewek cantik itu kesana. "


" Hahaha, biasa nih, si tante cantik satu ini. Terima kasih banyak ya, tan. Tante memang paling juara deh, Muach! " Akhirnya Alex berhasil tertawa dibuat Windi.


" Dih! Hahaha! "


Windi langsung kembali menghampiri gadis itu dan mengutarakan apa pembicaraan mereka barusan lewat telepon dengan Alex.


" Gak jadi cantik, soalnya si Alex--- "


" Panggil Rose aja, Tan. Nama saya Rose Thee Houteen. " dengan sigap gadis itu memotong ucapan Windi. Tidak bermaksud lancang, rupanya ia ingin kembali memperkenalkan diri di depan Windi untuk kedua kalinya. Gadis itu memperkenalkan dirinya lagi karena mungkin Windi belum mendengar siapa namanya.


Gadis itu berharap akan langsung mendengar sebuah penjelasan tentang pekerjaan yang telah dijanjikan padanya, Namun ternyata selera rumor tinggi membuat Windi lebih dulu melontarkan banyolan khasnya.


Usai kekehan itu mereda, barulah Rose menerima penjelasan yang ia nantikan.


" Nah, Jadi gini loh, Rose. Alex itu gak mau kita ke pasar loak lagi. Nanti katanya dia aja yang suruh anak buahnya buat belikan baju. Kamu juga mandi sama makannya di sana aja katanya. Jadi, ya udahlah. Ayo kita panggil taksi aja. "


Tentu saja Rose hanya bisa menganggukkan kepala dan menurut dengan semua perkataan Windi. Ia bahkan sudah memikirkan segala jenis hal buruk yang akan terjadi padanya, sejak kedua bola matanya melihat bagaimana dandanan menor Windi. Namun, gadis itu hanya bisa pasrah karena di ibukota ini dirinya tidak punya siapapun.


Menikah dengan sepupu kandung adalah salah satu kesalahan terberat dari pada bekerja yang tidak baik menurut Rose, dan saat kesepuluh jari jarinya menggenggam ijazah yang hanya berlapis kantong kresek hitam, bayangan duduk di bangku kuliah sudah mengacaukan akal sehatnya.


" Biarin aja aku harus jadi *****. Yang penting aku gak menikah sama dia. " tekad Rose dalam hati. Ia bahkan tidak fokus dengan beberapa hal cerita yang keluar dari mulut Windi sejak tadi, melainkan terus saja membangun sejumlah khayalan tingkat tingginya.