I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 57



"Astaga, Rose? Lo kok ada disini? Barusan pacar lo telepon gue tuh. Dia nanyain apa lo ad---" Loh loh! Kok nangis? Masuk dulu, gih!'' histeris Riri, lekas membawa Rose masuk ke dalam rumha. Kekasih Alex itupun pasrah digiring langsung ke kamar Riri, yang kebetulan letaknya tak jauh dari pintu utama tadi.


"Duduk disini dulu. Gue ambilin lo min---"


"Aku lapar, Ri. Tapi aku gak bisa makan. Jadi aku mau minuman yang bikin kenyang aja,'' sanggah Rose di tengah air matanya yang terus berderai.


"Ya udah. Gue bikinin lo susu coklat hangat aja ya? Baring baring dulu gih disitu. Nanti pusing terus pingsan berabe deg gu---- Astaga, Rose! Ya salam, Rose! Rose, ampun.... baru juga gue bilang, udah kejadian! Mama! Ma, tolongin!'' panik Mey karena Rose benar benar tak sadarkan diri.


"Apaan sih, ter---- Astaga! Anak siapa kamu bawa ke kamar nih, Ri?!"


"Mama! Ini Rose kali, Ma. Teman kampus Riri. Masa anak kucing. bantuin angkat dia nih ke kasur, Ma. Berat....'' dan Mamanya pun membantu putrinya mengangkat tubuh tak sadarkan diri Rose ke tempat tidur.


"Tunggu mama ambilkan stetoskop dulu. Kamu mendingan ambil air hangat sama handuk. Kompresan deh, Ri. Agak demam nih kayaknya temanmu,'' saran Mamanya yang memang adalah seorang Bidan di salah satu rumah sakit swasta.


"Oke, Ma. Ini Mey ambilkan. Sekalian deh mama bikinin susu. Soalnya tadi katanya lapar, tapi gak bisa makan.''


"Hm, cepat gih sana,'' ujar Kinara sang mama yang ikut keluar dari kamar sang putri.


Tak sampai lima menit berlalu, Kinara lebih dulu datang dari kamar tadi dan mulai memasang tensi meter di lengan kanan Rose, untuk mengukur tekanan darah sahabat anaknya itu. Namun, alangkah terkejutnya ia di sana, ketika mendapati dua detak jantung ketika meletakkan ujung stetoskop di pergelangan tangan Rose.


"Hem....Anak ini hamil rupanya. Pantesan mukanya pucat gini. Pasti belum makan makanya bisa pingsan. Huft.... kenapa Riri bisa berteman sama cewek kayak gini? Masih kuliah, malah hamil duluan. Gak beres nih bau baunya. Gue har----''


"Apa yang gak beres, Ma?'' tegur Riri, mengagetkan ibunya, ''Nih yang mama minta. udah Riri buatin."


"Taruh aja di atas nakas deh. Mama udah tau kenapa teman lo pingsan gini. Sini ikut mama dulu!''


"Loh? Kok ikut mama. Ini si Rose----"


"Udah ikut dulu!'' hardik Kinara menggandeng tangan putrinya dan tak memedulikan apa pun lagi.


Alhasil, ibu dan anak itu sekarang berada di ruang tamu, dengan posisi Riri duduk di atas sofa sedang Kinara berdiri melipat kedua tangannya di dada.


"Apaan, Ma? kenapa diam aja? Itu si Rose mau diobati gak sih?''


"Dia gak perlu obat!'' sahut Kinara cepat.


"Lah, dia gak sakit emangnya, Ma?'' bingung Riri akhirnya ikut berdiri.


"Duduk! Jangan obati teman kamu itu. Mama gak suka, jadi cepat bawa dia pergi dari sini!''


"Apa apaan sih, Mama ini? Dia sakit apa makanya jangan diobati, Ma? Dia kena HIV AIDS?'' frustasi Riri akibat perkataan sinis sang ibu tentang sahabatnya.


"Dia hamil, Riri! Dia masih kuliah dan belum nikah kan? Berarti dia cewek apaan kalo sampai bisa hamil gini? Kenapa kamu mau berteman sama dia, hah? Kalo besok besok kamu dibawa salah gaul sama dia terus hamil juga, gimana? Kamu yakin papa gak bakal salahin ini semua ke Mama?! apa kata keluarga kita nanti, Ri? Coba kamu pikirin!'' tegas Kinara setengah berteriak.


Riri diam tanpa bisa berkata kata selain menutup mulutnya rapat rapat, tapi Rose yang berada diambang pintu kamar Riri ternyata sudah mendengar semuanya dan segera beraksi di sana. Ia kembali lari masuk ke dalam kamar Riri, dan menagis sesunggukan si atas lantai kamar sembari duduk memeluk kedua lututnya.


Hampir lima menit Rose menangis di dalam posisi masih memeluk kakinya, tetapi tak lama kemudian kesadaran wanita itu kembali hilang dengan kedua kelopak matanya yang terkatup rapat. Hal itu jelas membuat Riri dan ibunya terkejut luar biasa, sehingga keduanya memutuskan untuk membawanya ke klinik bersalin terdekat yang berada tak jauh dari rumah mereka.


*****


"Rose, ceritain ada apa dengan semua ini. Gue minta maaf sebelumnya karena terpaksa bawa lo kemari. Soalnya-"


"Gak apa apa, Ri. Aku minta maaf sudah buat kamu susah. Tapi tolong jangan kamu kasih tau Alex soal aku yang kabur kerumahmu, ya?'' Rose memohon dengan kedua telapak tangannya yang sudah menggenggam telapak tangan Riri.


Hal tersebut tentu saja membuat otak penasaran Riri berpikir keras, tetapi ia lebih memilih bertanya ketimbang mengajak pikirannya semakin keras bekerja.


"Jadi apa masih karena mamanya Alex lagi? Dia udah tau lo pindah ke Gundar Depok sama tinggal bareng Alex di rusunawa tapos?''


Bingo!


Tebakan Riri membuat air mata Rose semakin mengalir deras, diikuti anggukan kepalanya. Sehingga bara api dalam hati Riri pun semakin membesar dan gadis sembilan belas tahun itu pun memuntahkan semua kekesalannya.


"Lo itu harusnya gak usah pedulikan ocehan nenek lampir gila itu, Rose! Yang penting Alex cinta mati sama lo! Gimana sih nih cewek? Apalagi nih ya, sekarang dalam perut lo ada anak hasil cinta cintanya kalian berdua. Jadi lo dalam posisi bakalan menang sekarang! Seluruh dunia juga tau itu. Kenapa lo malah kabur ke rumah gue. Pake acara belum makan lagi. Ketauan kan sama Nyokap gue kalo lo lagi ngisi. Parnoan pikiran tuh emak tiba tiba. Apes deh kita disini!'' omel Riri ikut mengeratkan genggaman tangannya.


"Aku mau kayak gitu, Ri. Tapi aku gak bisa. Aku sudah janji sama ibunya Alex dan dia udah kasih aku ini,'' jawab Rose, merogoh kantong celana tidurnya.


"Apaan nih?''


"Biaya untuk aku pergi dari sin---"


"Kampret! Lo pikir dua ratus juta cukup buat gedein anak lo, Rose?! Gila lo! Perawan lo cuma dihargai segini dan lo terima kertas ini tanpa lo sobek depan mata si nenek lampir? Otak lo dimana sih, Rose?! Lo ini benar benar cinta sama Alex atau gak sih sebenarnya?'' omongan kasar Riri semakin membuat air mata Rose keluar.


"Kamu gak tua, Ri. Perusahaan Alex dalam masa sulit sekarang.''


"Ya terus apa hubungannya sama perasaan kalian berdua dan anak dalam perut lo, Rose sayang..... Apa hubungannya, coba? Lo niat mau pisahin anak lo sama bokapnya? Atau sebenarnya lo dekatin Alex itu cuma karena duitnya aja?!''


"Enggak, Riri! Aku cinta sama Alex,'' ujarnya menyeka air matanya. "Tapi perusahaannya itu butuh dana tambahan kata ibu Alex tadi, Ri. Maka itu cara yang bisa mereka lakukan untuk ngatasin kekurangan dana itu ya Alex harus nikah sama Shella Juarta, Ri. Artis sinetron yang anak orang kaya raya itu,'' jelas Rose dan Riri bungkam seketika.


Lagi lagi Riri hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua tangan dan linangan air mata juga ikut hadir menemani tangisan Rose hingga beberapa menit lamanya.


"Terus sekarang apa rencana lo, Rose? Alex tadi nelpon gue buat nanyain lo. Cuma dia pake hape lo. Apa dia yang kasih kabar soal perusahaannya itu ke lo? Tapi kenapa dia heboh bangat kayaknya pas nyariin lo tadi?'' selidik Riri masih ingin tahu seperti apa sebenarnya hubungan rumit Rose dan Alex.


"Pagi pagi tadi ibunya yang ngomong, Ri. Alex diam aja sih. Cuma dari kemarin memang aku dengar Alex panik ditelepon soal pabriknya yang di Sidoarjo, maka itu si Jhonny disuruh kesana temanin Manager apa gitu buat atasi keadaan. Tenyata memang ada demo mogok kerja di sana, Ri. Kata ibunya perusahannya Alex masuk media cetak dan beritanya gak baik. Jadi solusi kamu, aku harus gimana, Ri? Aku gak mau gugurin kandungan ini,'' lirih Rose dan Riri yang terkejut segera memeluk tubuh sahabatnya itu.


"Gue gak suruh lo aborsi, Rose. Suer, Rose. Suer, gue gak maksud kayak gitu pas bawa lo kesini tadi.'' tangis Riri pecah di bahu Rose, "Lo tenang kalo gitu ya, Rose. Gue janji bakalan cari jalan keluarnya dan lo istirahat aja disini dulu. Oke?''


"Gak bisa, Ri.''


"Loh, kenapa?'' bingung Riri melepas pelukannya.