I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 18



"Good! Gue cabut dulu! Awas ya kalau lo kasih tahu mama kalau gue pergi kemana? Lo bilang aja pas datang gue udah gak ada. Oke, Brother?" membuat Alex pun terkekeh jumawa, senang karena ia berhasil menjinakkan Jhonny, si anak buah.


" Oke, Bos. Cuma tunggu dulu, Bos!'' Alex yang sudah siap untuk pergi, tetapi Jhonny berhasil mencegat langkah kaki sang tuan.


"Ck! Apa lagi, sih? mau minta uang rokok?" ucap Alex, dan mengambil dompetnya dari saku.


Namun, bukan perkara itu yang Jhonny ingin utarakan, melainkan hak yang berbeda. " Ponsel, Bos! Ponsel, Bos ada dimana?"


"Loh, kenapa emang sama ponsel gue?" tanya Alex bingung dan enggan untuk memberikan handphonenya.


Jhonny lantas mendekatkan bibirnya ke telinga Alex. Walaupun sedikit risih, sang CEO muda itu akhirnya memberikan juga ponselnya kepada Jhonny.


"Lo yakin ini adalah penyebabnya kenapa mama sampai bisa tahu semua apa yang gue lakuin selama ini?" tanya Alex kurang yakin.


"Gue yakin sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu koma sembilan puluh sembilan persen, Bos! Masa udah jaman now, Bos gak tahu kalau nomor handphone itu gampang disadap atau diintai pakai sistem GPS?" kata Jhonny menjelaskan kepada Alex.


"Ya, mana gue tahu soal begituan. Lagian kan gue pikir untuk apa mama sampai capek capek sadap nomor handphone gue? Emang gue ini penjahat apa?'' timpal Alex yang masih kirang yakin atas perkataan Jhonny.


Dengan santainya, Jhonny pun mengeluarkan apa yang terlintas di kepalanya. "Yaelah, Bos. Karena semua itu bos yang hobby sewa cewek buat ngocok itulah! Apa a---Auw! Sakit, Bos!"


"Kalau ngomong itu sopan dikit, bego! Gue ini bos lo! Dasar kaleng rombeng emang tuh mulut! Ajarin sopan santun kalau lagi ngomong sama gue!" Alex yang kesal dengan cepat pula menyentil bibir Jhonny, dan menggerutu di sana.


"Lah, emang kenyataannya gitu kan, bos? Lo kan hobby **** **** sana sini sama cewek ****** kali! Jelas aja lah emak lo khawatir takut dedek kecil lo kena sipilis atau lebih parahnya lagi bakal kenalan sama AIDS. Dibilangin malah gak percaya." batin Jhonny yang mematung di depan Alex.


Orang kepercayaan Alex itu lantas sadar dari lamunan sesaatnya, tetapi kini ia sudah tidak menemukan Alex lagi di sana.


"Loh, Bos?!" serunya dan berniat mencari Alex.


"Siapa itu ribut ribut di bawah?!"


"Waduh! Nyonya udah bangun tuh kayaknya! Ngacir ke gazebo bekalang aja deh! Sekalian gangguin Uning di dapur. Pasti Mbok Ati pagi pagi gini udah ke pasar sama pakde. Jadi kita gangguin deh anak perawannya." batin Jhonny berlari ke arah dapur, agar nyonya Milea tidak menemukannya.


Sementara di dalam mobil sport miliknya, Alex benar benar merasa sedikit plong, setelah ia berhasil keluar dari rumahnya. Duduk dibalik kemudi, apartemen adalah tujuan utamanya saat ini, ingin berjumpa dengan Rose, si gadis cantik yang telah mengalihkan dunianya sejak kemarin.


"Tungguin si junior ya, sayang? Pokoknya pagi ini si junior harus dikeluarin dua kali gak cuma sekali." kekeh Alex terus membayangkan betapa nikmatnya bibir seksi nan tebal milik Rose.


Sampai sampai Alex mengabaikan lampu merah yang baru saja menyala dan tentu saja dari arah belakang, motor patroli lalu lintas langsung mengejarnya.


Tit..... tit....tit....


"Ck! Apaan sih itu dibelakang? Ribut benar deh ah!" geram Alex menatap kaca kecil di dekat wajahnya. "Loh, kok gue di kejar polisi sih? Emang gue habis ngapain tadi?!" pekik Alex yang bener benar terkejut. Laki laki dua puluh lima tahun itu pun berusaha untuk cepat berlalu dari sana, tetapi Polisi tersebut lebih gesit geraknya karena ia menggunakan motor dinas kepolisian yang di dominasi dengan warna putih.


"Sialan! Terpaksa deh nih! Gak bisa menghindar gue! Apa tadi gue nerobos lampu merah ya? Apa nabrak nenek nenek yang udah mau koit?" kesal Alex bertanya pada diri sendiri, sembari menepikan mobil miliknya.


Tak lama kemudian motor besar berwarna putih itu pun ikut menepi di depan mobil sport milik Alex dan turunlah sang polisi dengan pakaian dinasnya yang terlihat begitu berwibawa.


Tok.... tok.... tok....


"Selamat pagi, Mas!" sapa polisi dengan tag name Masudin, terus mengetuk kaca mobil milik Alex dan hal itu membuat darah Alex mendidik seketika, tetapi dengan susah payah ia harus menahan diri, agar amarahnya tetap terkontrol.


"Ada apaan sih, Bapak mengejar ngejar saya dari tadi? Bukannya plat mobil saya sudah ganjil, Pak? Atau ini dalam ronde tilang sembunyi sembunyi? Bapak lagi butuh uang? Bilang aja berapa yang bapak butuhkan, Pak? Saya ikhlas ngasihnya asalkan bapak jangan ngejar ngejar saya lagi kayak tadi. Duh, emangnya saya ada tampang maling pak? Aneh aneh aja pak Pol Masudin ini." repet Alex panjang lebar, sembari melirik name tag di baju sang polisi. Ia begitu kesal, karena keinginannya untuk segera ketemu dengan Rose menjadi sedikit terhambat dan lama.


"Apa Mas bisa tunjukkan surat surat berkendaraan anda, Mas?" jawab pak polisi mengabaikan omelan Alex, karena memang laki laki berusia dua puluh lima tahun itu sudah melanggar rambu lampu lalu lintas.


"Oh, bisa dong! Nih, STNK mobil saya. Ini juga nih SIM A saya, Pak. Gimana? Masa berlakunya belum habis kan? Masih lama lagi. Atau butuh KTP saya juga? tunggu saya ambilkan di dom----"


"Tidak perlu, Mas. Jadi ini STNK saya bawa dan Mas Alexander The Laode saya beri surat tilang saja ya?" potong pak polisi membuat kelopak mata Alex membesar seketika.


"Loh, emangnya saya ini salah apa pak?" tanya Alex masih dengan keterkejutannya dalam dirinya.


Membuang nafas kasar untuk meningkatkan rasa sabar yang nyaris lenyap dari dalam diri pak Masudin sebagai seorang polisi, Ia pun dengan cepat menjelaskan di sana. " Mas Alex baru saja menerobos lampu merah sekitar lima ratus meter dari sini. Apa bapak Alex ini mengidap penyakit kebutaan sehingga tidak bisa melihat jika saat itu lampu lalu lintas sedang berwarna merah?"


"Gak! Emang tadi itu saya nerobos lampu merah, Pak?"


Kalimat yang keluar dari pak polisi tersebut pun terdengar begitu sinis di telinga Alex, tetapi ia pun tidak mungkin dipersalahkan dalam hal ini. Alhasil, mengelak adalah cara yang diperlakukan oleh CEO muda itu.


Oh, my God!


Alex benar benat telah berhasil membuat darah bapak polisi itu mendidih tiba tiba. Kali ini bahkan bukan hanya nafas kasar lagi yang terdengar, melainkan juga sebuah tonfa sudah siap dipakai untuk memukul kepala si pelanggar itu.


"Eh, itu tongkat T punya bapak mau diapain ke saya, Pak? Saya gak salah kok. Saya----"


"Apa?! Gak salah BAPAK bilang? tentu saja BAPAK salah besar, karena sudah berani menerobos lampu merah tadi. Memangnya bapak ini buta beneran ya?" tanya pak polisi bertanya tonfa miliknya yang berbentuk huruf T itupun siap ia pakai untuk memukul kepala Alex.


Tak bisa mengelak lagi di sana, Alex pun hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tersenyum paksa menampilkan sederet gigi putihnya yang rapih.


"Ini surat tilang dan ini SIM A nya juga boleh mas ambil lagi.Saya sedang tugas di depan lampu merah tadi. Jadi saya hanya bisa menginformasikan, jika Mas harus mengikuti persidangan di PN jakarta selatan untuk mengambil STNK mobil mewah mas ini. Selamat pagi!" seru pak polisi itu sembari berlalu dari hadapan Alex setelah sang CEO menerima surat tilang tersebut.


"Apes - apes-------"