
"Alex....."
"Yes, sayang.....''
"Cu....kup.... Lex...." Rose sedikit tersadar dari buncahan gairah yang membara.
"Aku gak bisa, sayanng.... Aku menginginkanmu sekali lagi!''
Cup
Si buah kembar menjadi sasaran dari aksi liar Alex. Dengan cepat, ia bahkan sudah berhasil melepas yang Rose kenakan, dan kini hand Alex melesap masuk ke alam sana lalu mengobrak abrik sang dedek dengan cepat.
"Ough... Alex....'' pekik Rose menjambak rambut hitam Alex.
"Terus, Sayang! Teruslah mendesah untukku!'' sahut Alex sebelum kembali mengelus si buah kembar itu.
"Alex..... Ough, Lex....''
Rose benar benar sangat merasa penuh akibat ulah si hand nya Alex yang terus bergerak di alam sana, tetapi gejolak dala diri tak kuasa meminta Alex untuk berhenti dari akriviras panas tersebut.
"Mau Pip....Ach, Aku mau pip------Ough.....'' maka sampailah Rose di puncak menara kenikmatan surga dunia untuk yang pertama kali, disertai dengan gigitan keras Alex pada si buah kembar di sana.
"Aku mau yang lain sayang? ini adalah hukuman karena kamu pergi dari rumah tanpa aku tadi!''
"Tapi, Lex--- Argh!'' teriak Rose yang tak siap saat Alex menggendongnya tiba tiba.
Sang CEO membawanya ke dalam kamar, lalu tanpa permisi ia membuka pakdsa semua yang dikenakan Rose, dan menarik si cantik itu dari posisi tidurnya.
"Kerjakan tugasmu, calon istriku! Cepat lepaskan semua yang aku kenakan sekarang!" tegas Alex dan Rose hanya bisa pasrah ketika kabut gairah terlihat jelas di sana.
"Cepat, sayang! Apa hukumannya harus aku tambah lagi, hem? Kau ingin three hands?'' tegur Alex saat Rose terlihat masih berpikir di sana.
"Iy....iya, lex.....'' jawab Rose lekas.
Namun, tampaknya jawaban itu sama sekali tidak membuat Alex puas, sehingga ia kembali menarik Rose untuk bangun dan berhadapan dengannya.
"Apa yang ada dalam pikiranmu, sayang? Aku ingin kita mengulanginya sekali lagi tanpa obat perangsang, dengan keadaan sadar seperti apa yang Papaku bilang jika ini adalah jalan satu satunya agar Mama merestui hubungan kita.''
Deg.......
Rose jelas tidak bergeming ditempatnya. Kembali ia menghadirkan rentetan perkataan Nyonya Milea yang beberapa saat lalu ia dengarkan, dan jelas itu sangat salah dengan apa yang ingin Alex lakukan saat ini.
"Malam ini mungkin kamu bisa, Lex. Aku sudah terlanjur membuatmu penuh gairah seperti ini,'' batin Rose memberanikan untuk menyentuh rahang sang kekasih, "Tapi untuk besok aku akan lakukan dengan cara lain biar kamu marah atau benci sama aku, lalu kita akan lihat seberapa besar cinta dan perjuangannmu untuk memiliki ak--''
"Jangan pikirkan hal buruk apapun saat ini dan ke depan nanti, Sayang. Aku bukan lelaki bajingan yang akan meninggalkan kamu dan calon bayi kita. Aku tidak butuh harta yang asalnya memang bukan dari hasil keringatku. Aku akan lepaskan semua dan apa yang kukatakn detik ini dan itu berlaku sampai kita menua nanti!'' tegas Alex menyanggah suara hati Rose.
Sepersekia detik kemudian keduanya mulai melakukan aktivitas panas itu di sana, tentu saja dalam keadaan sadar tanpa gairah yang tercipta secara buatan.
"Rose, Ough..... Enak, Sayang....Ach! Aku mau sam----Ough ****!''
Alex bahkan lebih dulu mendapat pelepasan pertamanya, tanpa bisa menunggu Rose yang out untuk kedua kalinya.
Ya, tentu saja Rose tak bisa lagi out, karena pikirannya bercabang ke mana mana. Yang ia pikirkan di antara ******* kamuflasenya adalah ucapan Ibu kandung Alex, lagi dan lagi. Sehingga beberapa ide gila pun siap untuk ia mainkan di hari esok, saat Alex kembali memintanya untuk bercinta.
"Maafkan aku, Lex. Ini sudah cukup! Sekali lagi maaf kalau aku harus mengubur impian manismu untuk memiliki keturunan dariku. Aku tidak pantas untuk kau jadikan pendamping hidup, dan hanya layak kau jadikan pemuas nafsu saja,'' batin Rose, diantara nafasnya yang tersenggal.