I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Episode 4



Di kamar hotel berbintang lima yang Alex tempati, kini ia tengah kedatangan seseorang. Siapa lagi kalau bukan Jhonny Himalaya, si anak buah kesayangan yang selama ini menemaninya.


Ceklek!


Suara pintu terdengar di telinga Alex. " Aduh, Bos! Maaf, itu anunya--- "


" Hallah, biasa aja kali! Kayak lo gak biasa lihat gue bugil, hah?! Cepat masuk terus simpan semuanya itu di meja nakas sana. Udah gitu, lo tetap di lobby ya, Jhon? Buat jaga jaga dan kasih kabar ke gue, kalau sampai ada yang mencurigakan gitu. Gue gak mau kalau sampai mama tahu kalau gue udah balik dari Singapura. Lo paham maksud gue, kan? " Alex dengan cepat memotong perkataan Jhonny ketika anak buahnya itu terkejut melihat dirinya yang tidak menggunakan sehelai benang pun. Bahkan satu perintah dari Bosnya itu ada untuknya.


" Siap, Bos. Gue cabut sekarang ya? " Alhasil, Jhonny pun segera pamit dan ucapannya itu hanya diangguki oleh sang Tuan, Alexander Van Laode.


" Rose The Houteen, hm! Nama yang bagus sekali. Suaranya juga halus bangat. Ough ... Lama lama gue bisa gila nih kalau kayak gini. Belum apa apa, udah bangun aja nih si junior. Sssttt.... Gak apa apa deh kalau dia belum tahu gituan kayak si cewek gila itu tadi. Mungkin memang nasib gue aja yang sial hari ini, karena dapat anak perawan terus. Nanti biar gue aja yang ngajari dia bagaimana cara muasin lo ya, junior? Kita tunggu cewek itu datang bentar lagi. Pasti nikmat bangat deh rasanya. Ugh... jadi gak tahan, kan... "


Alih alih menjawab, yang dilakukan Alex adalah kembali melanjutkan khayalan setinggi langit miliknya, lalu terkekeh geli sebelum membanting tubuh telanjangnya itu ke atas tempat tidur berukuran king size di dalam kamar hotel tersebut.


****


Windi memanggil sebuah taksi yang lewat dengan melambaikan tangannya. Setelah itu ia menunjukkan alamat pasa supir yang sudah dikirim Alex beberapa saat lalu. Bersama dengan Rose, Windi pun masuk ke dalam taksi itu lalu dengan cepat taksi itu melaju ke alamat yang sudah diberitahu oleh Windi.


Sesampainya di depan hotel, Windi menuju ke meja resepsionis dan menanyakan nomor kamar yang sudah dibooking Alex. Usai pegawai itu mengkonfirmasi melalui panggilan telepon kamar tersebut, dua wanita itu pun langsung menuju kamar itu. Hampir 5 menit di dalam lift hotel, akhirnya mereka sampai di depan kamar hotel Alex dan Windi mengetuk pintu kamar itu perlahan.


Tok ... Tok Tok ....


Ceklek!


" Hai, sayangku yang ganteng. Duh.... Makin ganteng aja nih kayaknya. Jadi makin pangling deh, tante. " ucap Windi sedikit heboh, tetapi Alex hanya diam dan terpukau melihat gadis yang berada di samping wanita langganannya itu.


Deg deg deg deg deg .....


Meski Rose hanya memakai pakaian ala kadarnya, Hal itu tak mengurangi rasa terpukau Alex dalam hati, bahkan kini detak jantungnya bekerja dua kali lebih cepat dari yang biasanya.


Windi yang menyadari rasa grogi Alex, hanya bisa menahan tawanya. " Alex? "


" Eh! I-iiya, tante Windi? " jawab Alex sedikit grogi saat Windi memegang lengannya.


" Waktu gituannya kan masih panjang. Sama sama single ini. Sana, Rose. Kamu masuk duluan, gih! Tante Windi masih ada urusan sama si Alex ganteng ini. Kamu buang air kecil aja dulu ke kamar mandi, soalnya tadi kamu bilang kebelet kan di dalam taksi? " titah Windi sembari mendorong tubuh Rose untuk masuk ke dalam kamar hotel dan gadis itu hanya pasrah menuruti perintahnya.


Dengan sigap, Alex segera bergeser dan melebarkan jarak, agar Rose bisa masuk ke dalam dengan leluasa tanpa dihalangi olehnya. Setelah sang CEO bersiap untuk menutup pintu kamar, tetapi Windi terlebih dulu beraksi di sana. Wanita itu menyodorkan tangan kanannya pada Alex dan tentu saja hal itu terjadi karena janji yang dikatakan padanya saat mereka sedang berbicara di telepon tadi.


" Eh, enak aja mau main nutup pintu! Bagian tante mana? Jangan sengaja lupa ya, sayang? " terang Windi sembari mencoba untuk menahan daun pintu agar tidak tertutup. Ia tahu mimik wajah Alex berubah menjadi tidak suka, tetapi bisnis adalah bisnis. Dan baginya janji adalah hutang.


" Astaga, Tante Windi ini! Kayak apa aja sama aku. Nanti ya, Tan? Saya transfer langsung deh ke rekening tante. Deal ya? " ujar Alex sedikit kesal karena Windi membuat sang junior yang ternyata sudah sangat tegang itu menjadi sedikit melemas. Ia kembali bersiap untuk menutup pintu tetapi dengan cepat Windi langsung menahannya kembali.


" Yah, kamu ini! Katanya mau dikasih langsung ke tangan tante, gimana sih? " gerutu Windi dengan wajahnya yang begitu memelas.


Merasa kasihan sekaligus tidak enak hati, Alhasil Alex pun sedikit melonggarkan lengannya yang sedari tadi ingin menutup pintu dan menghela nafas kasar.


" Ya, sudah. Sana temui Jhonny aja di lobby kalau gitu ya, tante sayang? Cerewet bangat, sih! Tante minta uang cash aja sama si Jhonny kalau gak sabar ya? Dasar mata duitan! " kata Alex dengan nada kesal.


" Eh, enak aja! Kamu sendiri yang tadi janji duluan sama tante di telepon, kan? Kalau kamu gak janji mau ngasih duit, Ngapain juga repot repot mau anterin si Rose kesini, iya, kan? " sahut Windi tak kalah ketusnya. Ia merasa benar dan Alex mengakui jika semua itu memang benar adanya.


Alhasil, Alex hanya bisa menahan kesabarannya dan kembali berbicara.


" Iya deh iya .... Maaf ya, tante Windi yang cantik. Cuma memang sekarang ini aku lagi gak pegang uang cash dalam bentuk rupiah aau dollar, kayak yang biasa aku kasih ke tante Windi dulu dulu itu loh. Hanya di dalam rekening, jadi kalau tante mau sekarang jadi minta aja dulu sama si Jhonny, Dia ada di lobby kok. Bisa kan, tante cantik? Masa sama pelanggan lama kayak aku ini gitu bangat sih mikirnya? " bujuk Alex sembari memasang senyum manis, menampilkan sederet gigi gigi putihnya yang berbaris rapih.


" Ya, udah deh kalau gitu. Aku ketemu Jhonny dulu kebawah ya? Makasih ya, Alex sayang... Tante pamit dulu, oke? Hati hati mainnya jangan sampai lecet anak orang sama si junior. Hahaha.... "


Sedikit luluh, Suka tidak suka Windi pun pada akhirnya menuruti apa yang Alex katakan untuk menemui Jhonny di lobby hotel itu. Ia bergegas meninggalkan pintu kamar yang sudah sedari tadi menjadi saksi bagaimana perdebatan sengit diantara mereka terjadi.


Tak urung, Alex pun secepat mungkin menutup pintu kamar, dan melangkah ke tempat di mana gadis tadi berdiri. Kebutuhan akan kamar mandi yang dikatakan oleh Windi, sepertinya sudah Rose lakukan. Tetapi kini malah membuat atmosfer di sekeliling menjadi sangat panas.


Berjalan menuju meja nakas untuk mengambil remote AC, dengan hati hati Alex menatap punggung Rose dan seketika itu juga si junior kembali berdiri tegak lagi sepertu tugu monas. Rasa canggung pun muncul, tetapi tak ada yang berusaha untuk memulainya di sana.


" Aduh .... Baru juga lihat punggungnya, junior gue udah tegak aja. Argh .... Jadi gak sabaran deh. " batin Alex yang kini harus meneguk salivanya dalam dalam.