I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 26



"Iya, Pa?" ujar Alex menyempatkan diri untuk mengangkat telepon dari sang ayah sebelum naik ke pesawat.


"Kamu beneran pergi ke Singapura pakai kelas bisnis? Kenapa hak pakai jet pribadi perusahaan aja, Lex?''


"Singapura dekat, Pa. Kecuali kuta goes ke kampung papa di Spain. Bisa jetlag Alex kalau naik pesawat komersil, tempat tidur kelas bisnisnya aka sempit gitu." jawab Alex asal.


"Astaga anak ini! Maksud papa itu-----"


"Udahlah, Pap. Biarin aja Alex naik pesawat komersil. Lebih irit budget daripada isi bahan bakar, Eh yang nikmati malah karyawan yang gak jelas, bukannya kita." celetuk Nyonya Milea, merebut ponsel Guen, suaminya.


"Mam! Papa belum selesai ngomong tau!''


"Hallah! Bia mama yang ngomong!" ketua Milea berpindah duduk dari sebelah suaminya. "Lex, barusan Papa bilang kamu bangun klinik di sekitar area pabrik yang di Sidoarjo, ya? Tumben kamu punya pikiran kayak gitu, jadi biaya pengobatan para buruh di pabrik bisa irit tanpa harus ke dokter luar dan kita gak harus lagi ganti uang mereka dengan lembar tagihan yang mereka bawa, kan?" Guen mulai menarik nafasnya dalam dalam efek istrinya dan putranya itu.


"Hem, Tujuan Alex itu sih, Ma. Karena selama papa memimpin perusahaan itu kayaknya uang sakit yang selalu kita ganti seratus persen itu malah jadi ajang perlombaan gitu, Ma. Kemarin kemarin kan Alex sempat nyuruh Jhonny selidiki Manager Pemasaran yang katanya berobat ke Singapura, Ma. Eh, kata Jhonny dia berobat di Jakarta kok bukan di Singapura. Tuh, tekor kan kita? Berapa puluh juta tuh tagihan gak masuk di akal yang dia lampirkan. Makanya, Alex berinisiatif bangun klinik itu. Juga kalau ada yang perlu dirujuk ke rumah sakit, Alex sudah bekerja sama dengan PT. Jamsostek untuk menangani semua masalah biaya kesehatan mereka, Ma. Sehingga setiap bulan sistemnya kredit gitu. Setiap satu jiwa sebulan gak sampai lima puluh ribulah, Ma. Masih aman itu gaji mereka." jelas Alex berharap ibunya akan menjelaskan pada Guen sang papa, tentang kebijakan barunya dalam memimpin perusahaan.


"Tuh, Pap. Dengar sendiri kan apa kata Anakmu tadi?''


"Loh, Ma! Papa dengar?'' jantung Alex berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya.


"Iya dong. Mama kasih loudspeaker soalnya kan ini ponsel papamu." kekeh sang ibu.


"Papa setuju kan, Pa? Alex gak lagi pengen berdebat masalah kerjaan sama papa. Soalnya perusahaan si Acong yang sudah diambil alih orang Singapura itu lagi aneh karena minta meeting mendadak, Pa. Ini Alex udah di pesawat, Jadi nanti lagi kita bicaranya ya, Pa?" ujar Alex berpamitan kepada kedua orang tuanya.


Sambungan telepon pun diputus secara sepihak, tentu saja Alex yang melakukannya. Ia naik ke dalam pesawat dan secara tidak sengaja pula ia melihat seorang wanita yang pernah meluluhlantakkan hatinya.


"Alex!''


"Nani!"


Sahut sahutan itu terdengar secara bersamaan.


"Kamu-----"


Hati janda dokter spesialis anak itu begitu meletup letup melihat mantan terindahnya tepat berada di depan mata, tetapi itu tak berlangsung lama.


"Terus anak lo? Sama bapaknya?''


Damn It!


Itu merupakan pertanyaan yang paling menyakitkan nomor satu baginya setelah menjadi janda, karena pada kenyataannya hal tersebutlah hal tersebutlah yang membuat sang dokter menceraikannya.


"Aku.... em... aku sudah gak bisa punya anak, Lex. Rahim aku terpaksa diangkat karena myob yang----"


"Heh, bagus kalau begitu! Itu karma buat lo karena sudah selingkuh dari gue dan bersikap seperti ****** dengan tidur sama laki laki disaat gue berusaha mati matian jagain lo, juga berusaha cari restu dari mama! Lo emang pantas dikasih hukuman kayak gitu!" ejek Alex, meninggalkan Nani yang tiba tiba saja sudah terisak di pintu bagian belakang pesawat.


Alex terus melangkah menuju tempat duduknya, sementara Ira yang mendengar semua karena berada tepat dibelakang Alex pun hanya bisa bergidik ngeri mendengar betapa tajamnya mulut Alex.


"Sorry, calon suami gue emang kayak gitu. Maaf ya, Mbak?" ujar Ira memberi selembar tissue lalu ikut melangkah lebar menuju tempat duduknya.


Wanita genit itu memang bersedih, saat membayangkan jika dia berada di posisi Nani. Namun, alih alih menenangkan mantan kekasih Alex, Ia malah semakin membuatnya merasa bersalah karena mengaku ngaku sebagai calon istri Alex.


"Loh, Pak. Harusnya kan bapak itu duduk disini sama sa-----"


"Gue tukaran tiket sama si Badron! Kenapa emangnya? Gak boleh saya duduk disini?'' sengit Alex.


"Ya-iya, boleh. Maksud saya----"


"Sssstt.... berisik! Lo mau masuk gak sih, Ira? Pegal nih gue berdiri terus," celetuk Badron membuat Ora semakin kesal.


Sekretaris yang hobi memakai berbagai pakaian ketat dan kurang bahan itu pun masuk ke tempat duduknya, sementara Alex lekas mengambil head voice, lalu mengutak atik layar monitor sepuluh inci di depannya. Ia memilih mendengarkan musik boy band manca negara favoritnya. Sayangnya, ternyata pas saat pesawat lepas landas, suara seorang pramugari terdengar memberi petunjuk keselamatan apabila pesawat dalam keadaan gawat darurat.


"Sialan! Kenapa sih harus dia yang ngasih peragaannya? Mana berdirinya depan mata gue lagi! Gak fokus gue mikirin si Rose jadinya, kan?" gerutu Alex dalam hati.


Sang CEO tampan itu pun lebih memilih menutup mata rapat rapat dan tanpa ia sadari, pelan dan pasti rasa kantuk pun datang melanda dirinya.