I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 38



"Lex..... Ough...." desah Rose ingin sekali menjambak rambut kekasihnya. Apa daya karena kedua tangannya menumpunya karena ulah panas Alex di atas meja kerjanya itu.


"Eum.... Ini yang aku tunggu, sayang. Aku coba ini ya? " kata Alex.


"Ough.... Ja--oAh... Jangan, Lex! Ah, aku gak mau... ssstt...."


"Sayang.... Ayolah, aku pengen...." bujuk rayu Alex terus mendera di tengah permainannya.


"No. Then bleed nanti. Lex... Ough... Rugi di kam--- Ach.... Rugi di kamu nanti...."


"Kalo gitu kita lakukan sekarang aja ya, sayang? Kita pindah ke situ, tuh. ke sofa, Nanti----"


"Enggak! Ough.... awas aja kalau kamu sampai lakukan itu! Aku bakalan--- Oug.... Ah... Alex..." teriak Rose tak dapat berkata apa apa lagi.


Alex yang sudah tau jawaban Rose kembali menggodanya dan semakin tidak karuan juga si Adek itu dibuatnya.


"Rose.... Aduh... Ssstt.... cantik bangat, Sayang. Si Jun makin gak karuan nih. Aku lakuin lama lama nih, Rose!" Alex semakin menggebu di sana.


Dia terus membelai sang Adek dan tidak sampai tiga detik kemudian, lengkuhan sang gadis itu kembali menggema di sana.


"Alex.... Ach....Mau pi---- Ouh, kebelet, Alex, mau kebelet.... Ach!'' teriak Rose.


Alex semakin beringas tanpa mempedulikan perkataan Rose. Tidak lama kemudian akhirnya yang ditunggu tunggu sang CEO terjadi juga dan Alex sangat puas dn tersenyum.


"Lex, jangan dimi--- Auw...." Pekik Rose akibat ulah Alex yang mencubit ujung gunung kembarnya.


"Sakit, Lex...." ringis Rose.


"Ach, enak bangat! Ugh...."


"Apaan?! Kok malah aku yang dicubit!''


"Ups.... Maaf, sayang. Aku gemas. Habis kamu cantik, manis, enak, semuanya lah. Kita pindah ke sofa yuk, kamu masih harus dapat hukuman karena tadi udah buat aku kesal!''


"Ya, tapi--- Argh, Alex!" tanpa aba aba, Alex menggendong kekasihnya itu ke sofa, sebelum dia bangkit berdiri dan menuju ke arah pintu ruangan.


"Mau kemana, Lex...."


"Sabar, sayang. Masih mau pastinya kan?" kekeh Alex menggoda Rose. "Kita kunci dulu pintunya ya? Terus kita telepon Johnny biar bisa awasi mama di lobby. Jadi biar gak ketangkep." kekeh Alex menjulurkan lidahnya.


Rose ikut tersipu mendengar penuturan sang kekasih, tetapi ia sedikit kecewa dan juga membuat rasa cemasnya semakin ikut bertambah jika sedang memikirkan bertapa ibu kandung Alex yang masih menjadi penghalang utama di dalam hubungan cinta mereka.


"Oke! Beres, sayang. Sekarang tinggal telepon si Jhonny gila itu."


"Egh, tapi bukannya dia bilang tadi dia mau tusuk tusukan gitu sama Ira ya? Memangnya dia main itu di lobby?''


Oh My God!


Tose benar benar membuat Alex semakin gemas dan gregetan ingin segera menerkamnya lagi. Kekehan keras menjadi jawaban atas pertanyaan konyol gadi itu, diikuti dengan gerakan Alex yang cekatan mulai beraksi juga di sana.


"Lex, kamu ngapain?" lagi lagi Rose nanyain seolah lupa dengan posisi permainan yang saling memuaskan yang sering mereka lakukan sejak mulai menjalin cinta.


"Iya, tapi gimana soal Mama kamu? Kalau sampe ketahuan gimana? Mendingan kita lanjutin di Apartemen aja ya, sayang? Biar seka----"


"Kamu panggil aku apa tadi? Ulangi dong? Kok bahagia banget ya dengarnya?'' sanggah Alex membawa Rose kedalam pangkuannya.


"Iy... iya tapi si Jun, Lex. Ini pas di dep---" wajah cantik Rose sangat memerah saat berkata demikian.


"Ah, kamu tuh. Ditanya malah alihkan pembicaraan. Lagian biarin aja, sayang. Biar dia cepat akrab juga kan?"


"Ck! Repot bangat sih kamu itu."


"Egh, gak bisa gitu dong, sayang."


"Astaga!" ketus Rose, sukses membuat Alex langsung menyerbu bibir seksi kekasihnya. Aksi panas pun tak dapat mereka hindari lagi, dan aksi panas keduanya pun dimulai.


"Hemp.... Rose...."


"Iya, Lex?''


"Aku hamilin kamu aja ya, sayang? Aku udah kebelet pengen nikahin kami, Rose. Kita mendingan cari restu Mama pakai cara kayak gitu aja biar bisa cepat terwujud. Gimana, Sayang? Mau, ya?" rengek Alex dengan mimik wajah seperti seorang bayi yang kehausan minta susu. Sementara itu, Rose terdiam akibat permintaan sang kekasih, karena merasa dilema dengan semua yang ada.


Satu sisi, hatinya sangat teramat mencintai sang kekasih. Namun, akal sehat yang bernama logika dalam kepala cantik itu, acap kali menyerukan mimpi dan cita citanya.


"Lex.... Jangan sekarang ya? Aku belum siap. Aku juga mau seperti kamu yang gak cuma punya ijazah SMA doang tapi juga punya gelar di belakang namaku." Kali ini, Rose berusaha menekan nafsu birahi Alex yang terlihat sangat memuncak. "Itu juga buat kebaikan kita bersama kan, Lex? Biar Mama kamu gak malu punya menantu seperti aku, dan hubungan kita lancar jaya tanpa ada hambatan lagi. Mau ya, Sayang? Jadi sekarang, mendingan si Jun aku belai, terus nanti kalau kamu ma lagi, kita pulang ke Apartemen aja. Oke?" tawaran si cantik pun mulai ia jalankan, sebelum persetujuan itu ia dapatkan.


Rose langsung bereaksi untuk membelai si Jun dan apa boleh buat, Kini kabut gairah itu semakin berkelana di dalam diri sang CEO. Alex pun membiarkan Rose berolahraga di sana untuk sang Jun.


"Ssst.... Rose....."


"Hemp....."


"Kamu tuh paling bisa aja ya, Sayang. Ssst.... Rose! Ough...." racau Alex sesaat setelah Rose makin membelainya.


"Iya, Lex. Aku memang paling bisa menunda melakukan hubungan suami istri yang sudah kamu minta sejak dua bulan lalu, karena aku sendiri belum yakin apa kamu benar benar tulus atau gak."


**********


"Mau buat apa lo nanyain obat perangsang dosis tinggi ke gue?! Udah lama bangat gue gak jualan barang haram itu lagi!" Bora sengaja sibuk dengan pekerjaannya di sana.


"Ck! Tolong gue, Bor. Ini penting banget. Gue janji bakalan pakai sesuai aturan yang udah lo kasih tau deh. Bila perlu, Nih botol mineral lo aja yang kasih obatnya, asalkan jangan lo buka aja segelnya, tapi pakai suntikan aja, ya?''


"Gue udah gak jualan itu lagi, Boy! Lo ngerti gak sih kalo gue bilang udah gak jualan lagi? Itu artinya obat perangsang yang lo cari itu gak ada sama---- Hemph! Boy----- Hemph!'' Bora tak lagi bersuara dan Boy penyebabnya. Ia langsung memangut bibir sang Apoteker itu secara tiba tiba, karena dengan cara tersebut keinginannya akan terkabul.


"Boy......."


"Gue bakalan bikin lo puas sampai lo sendiri bilang cukup, Bor. Gue juga bakalan bayar lo pakai duit, asal lo mau bantuin gue. Please...." Boy yang licik pun mulai beraksi demi tujuannya. Sang Apoteker akhirnya luluh dan segera beraksi juga untuk tubuh kekar si Boy.


"Aku cuma mau tiga hari dua malam kamu ada buat aku, Boy. Sekarang jumat, besok sabtu sama minggu. Dan senin bekas dari aku barua kamu bagi ke cewek sialan dalam otakmu ini!''


"Namanya, Rose Van Houteen, Bora! Jangan panggil dia cewek sialan! Aku suka sama dia dan mau ngerasain bagaimana enaknya dia!''