I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Episode 10



Isi kepala Alex tetap saja tak beralih dari gadis cantik dengan nama Rose The Houteen, yang beberapa waktu lalu telah berhasil memuaskan kebutuhan batinnya. Alhasil, kini ia hanya bisa secepat kilat menghubungi si anak buah, Jhonny. Dengan maksud untuk menanyakan segala sesuatu tentang Rose.


Tut.... Tut.... tut...


" Iya, Bos. Ada apa? " jawab Jhonny saat dia sudah menekan tombol hijau yang ada di ponselnya.


Sempat merasa jengah karena Jhonny sangat lama mengangkat telepon darinya, tetapi setelah itu kekesalan tersebut menghilang begitu saja.


" Bagaimana keadaan si Rose, Jhon? Udah lo antar belum dia ke apartemen gue tadi? "


" Sudah dong, Bos. Masa belum sih? Hehehe... Yang ada entar hue diomelin dong. " sahut Jhonny disertai dengan kekehan khasnya.


Sedikit lega, kini Alex kembali berbicara pada Jhonny, mengutarakan apa yang beberapa detik lalu berkelebat di dalam isi kepalanya.


" Oke deh. Kalau gitu gue kirim uang ke rekening lo sekarang ya, Jhon? Tolong belikan ponsel baru buat dia. Cuma bukan ponsel biasa yang kayak lo belikan buat Emak lo tempo hari. Cari ponsel paling canggih soalnya nanti gue mau vidio call sama dia. Paham gak lo maksud gue? "


" Yaelah. Paham, Bos. Paham. Pokoknya beres dah itu. Gue bakal belikan yang super mahal kalau memang duitnya cukup, bosku. Ya, kan? Hahaha! " sahut Jhonny bersemangat.


" Duit aja lo cepat, Jhon! "


" Lah, kan bukan buat gue. Yang suruh siapa coba tadi? Hahaha! "


" Iya iya! Gue yang nyuruh! Puas lo ngerasain gue, hah? "


" Hahaha! Gak kok, bos. Gue mah pas ada badut lewat ini depan matanya, makanya ngakak dikit gitu, hahaha! " Jhonny kembali bersuara, mencairkan suasana.


" Oke deh, Jhon. Udah gue kirimin tuh ke rekening lo barusan lima belas juta. "


" Eh, buset! Lima belas juta Bos? Banyak amat, buat apaan aja nih duitnya? " Kaget, Jhonny menghentikan tawa yang sedari tadi keluar dari mulutnya, membuat Alex hanya bisa memutar bola mata jengahnya diujung sambungan telepon.


" Lo, belikan dia ponsel keluaran terbaru itu ya, Jhon? Biar pas gue vidio call an, jernih gitu gambarnya. Sama belikan nomor cantik, terus isiin pulsanya. Habis itu, Jhon. Nanti lo ajak dia ke supermarket deh. Beli apa aja buat isi kulkas di apartemen itu. Sebenarnya sih tadi gue udah kasih platinum debit card ke dia. Cuma gue yakin dia pasti bakal diam aja di apartemen, kecuali ada yang ajak keluar dari situ. Jadi, ya lo tolong urus dia dulu sebelum pergi dari sana ya, Jhon? Terus lo ajak juga dia makan. Soalnya tadi dia belum makan tuh di sana. Cuma telan punya gue sama minum air putih doang. " jelas Alex panjang kali lebar dan berhasil membuat Jhonny terkekeh heboh.


" Hahaha! Yaelah, Bos. Bikin tegang aja deh, ah. Gur juga kan pengen tuh yang enak enak. Hahaha! " sahut Jhonny berbicara mesum sesuka hatinya.


" Tegang-Tegang! Awas aja lo berani ganggu dia ya, Jhon? Gue bikin mampus lo entar! Dengar gak lo, hah? " amuk Alex menanggapi ucapan Jhonny.


Tak pelak, kekehan keras itu terdengar dari mulut Jhonny. " Hahaha! Ampun, Bos! Gak akan deh, janji! Hahaa! "


" Dih, kesambet loket? Ngakak terus? Berhenti gak lo, hah? "


" Siap, Bos. Siap. Hahaha! "


" Terus ya, Jhon. Dia juga belum punya pakaian tuh. Lo lihat kan, dia gak bawa tas apa apa selain kantong kresek kucel aja tadi? Jadi ajak dia deh untuk beli pakaiannya. Cuma bilangin ke dia, jangan beli baju yang agak terbuka gitu ya? Bilang aja bahaya kalau di jakarta pakai pakaian terbuka begitu. Pokoknya kebutuhan dia semua lo bantu carikan ya, Jhon? Nanti gue kasih bonus buat lo. Oke? " sahut Alex bertitah lagi. Menyuruh u Jhonny untuk melakukan apa apa yang ia inginkan pada Rose.


Sepanjang mengoceh, Jhonny tak henti hentinya terkekeh, sebab baru kali ini ia mendapati sang tuan begitu perhatian pada lawan jenis.


" Tumben, perhatian bangat sama *****, Bos?" oceh Jhonny tak menyaring ucapannya.


" Brengsek! Rose itu masih perawan, Oncom! Bawel, bangat sih mulut lo! Mau interogasi gue lo, hah?! " amuk Alex bersama dengan mengamuk dengan nada sinisnya.


Jhonny yang terkejut pun kembali menyerukan kalimat spontan yang melintas begitu saja di dalam pikirannya. " Eh, buset! Dia masih perawan ya, Bos? Maaf...., Bos. Maaf. Soalnya gak biasanya Bos begini sama cewek gitu. jadi ya gue kira---- "


" Udah, Stop! Jangan bawel dan jangan tanya apa apa lagi! Mau gaji lo gue potong, hah?! Awas lo ya? " sahut Alex memotong ucapan Jhonnya.


Klik.


Alex pun menutup sambungan telepon itu secara sepihak dan meletakkannya di atas meja dengan sangat kasar.


" Ck! Benar juga kata si Jhonny. Gue kenapa ya? Dari tadi kepikiran Rose melulu. Udah gitu kalau ingat dia, pasti langsung membayangkan bibir tebalnya itu. Hem... Tuh kan, si Junior jadi semakin kencang aja kayak sekarang. Gila emang si Rose. Bisa bisa yang ada pekerjaan gue gak beres beres ini. " gerutu Alex menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Alex pun mencoba untuk menghubungi si sekretaris yang bernama Ira melalu telepon pararel di meja dan menyuruh wanita seksi itu datang ke ruangannya.


" Halo, Pak? "


" Datang ke ruangan saya sekarang juga! "


" Baik, Pak. " jawab Ira tersenyum jumawa, merasa kali ini apa yang dia perkirakan tidak akan meleset sama sekali. Apalagi jika bukan tentang emutan **** kesukaan Alex.


Dengan cekatan Ira oun mengambil bedak dari dalam tasnya, menambahkan lagi di kedua pipinya bahkan ia dengan secepat kilat mengambil botol parfum yang selama ini sudah tersimpan dalam laci kedua di meja kerja miliknya.


" Gue yakin, dengan kesaktian parfum si nyong - nyong yang Mbah Anok kasih ini, bakalan buat Bos Alex kembali bertekuk lutut di bawah kaki, bahkan serangkaian gue! Gak akan ada cewek lain yang bakalan jadi Nyonya besar di perusahaan ini mendampingi Bos Alex, selain gue! Ya, gue harus jadi pemenangnya, bukan orang lain! " tekad Ira begitu bulat, sembari terus saja menyemprotkan parfum di tubuhnya. Melupakan perintah Alex untuk secepat mungkin datang ke ruangan sang CEO.


Kring!


Kring!


Benar saja, kini telepon pararel pun kembali berdering di atas meja kerja Ira dan hal itu membuat dirinya terkejut. " Eh, copot! Astaga!"


Sadar akan kesalahannya, Ira pun secepat kilat memakai kembali sepatu hells miliknya yang tergelatak di samping kanan kursi putar,


menukarnya dengan sandal jepit yang dipakainya.


Langkah lebar Ira tercipta hanya lima kali saja, lalu tangannya pun terangkat ke atas, membunyikan pintu ruang kerja Alex yang berwarna cokelat mudah di depannya.


Tok tok tok....


Mendengar suara ketukan pintu, Alex pun segera meletakkan gagang telepon yang sedari tadi ia letakkan di telinganya.


" Nah, itu dia! Lama amat, sih? Ck, masuk! "


Sedikit berdebar, Ira pun membuka pintu itu lalu mendekat ke arah Alex sembari bertanya. " Iya, Pak? Ada apa bapak memanggil saya? "


" Sini.... "