
"Yang benar lo, Dron? Gue udah on the way udah mau sampai di tangga pesawat nih! Gila lo!" murka sang CEO akibat telepon dari Manager Produksi.
"Beneran, Pak. Maafin saya. Lagian ini bukan tugas-----''
"Ck! Makanya lo tolong carikan pengganti si Ira secepatnya dong! Rekomendasikan siapa kek gitu di bagian lain untuk menghandle tugas tugas sekretaris buat sementara. Heran gue! Masa dalam satu perusahaan gak ada yang bisa? Kerjaan sekretaris itu kan sama aja dengan asisten pribadi jadi-----"
"Kalo gitu suruh si Jhonny aja, Pak. Orang suruhan Bapak yang----"
"Sialan lo! Dia itu gue pekerjaan untuk nagih hutang kantor, menyelidiki hal hal yang gak beres di beberapa cabang perusahaan, karena dia itu preman! Lo mikir dong dia bisa bicara sopan gak sama klien kita nanti? Sama gue aja nyablak betawinya gak hilang hilang. Pakai bahasa lo - gue terus lagi. Kalo terima telepon dari orang asing gimana? Yakin dia bakal ngerti bahas inggris dan urusan schedule gue benar semua itu? "
"Eh. maaf, Pak. Saya gak tahu kalo teman Bapak itu ternyata preman. Soalnya gayanya kayak orang kantoran, Pak." jawab Badron dan Alex pun mendenguskan nafas kasarnya diujung telepon. "Kalo gitu, oke Pak. Nanti saya carikan. Cuma tadi kata Pak HRD, mereka sudah menghubungi beberapa redaksi koran pagi untuk pasang iklan lowongan kerja dengan posisi sebagai sekretaris sekaligus beberapa persyaratannya. Jadi mungkin besok sudah ada yang masuk beberapa CV, Pak."
"Oke. Makasih, Dron. Kali ini gue mau yang cowok aja. Biar gak kegenitan lagi kayak si Ira gila itu. Ya, sudah. Jadi gue gak jadi meeting nih?" tanya Alex sekali lagi.
"Iya, Pak. Kata asisten pribadinya, Ibu jadi CEO Jaya Lestari, Tbk itu sedang anfal dan diterbangkan ke Jakarta sini. Jadi ada kemungkinan meeting akan diadakan di Jakarta, Pak. Bukan di Bali seperti yang sudah di jadwalkan kemarin."
"Baguslah kalau begitu. Jadi gue bisa malam mingguan sama cewek----"
"Maaf, Pak. Sekarang masih hari jumat. Jadi ini malam sabtu bukan malam----"
"Geblek! Gue juga tau! Jawab aja lo. Maksud gue besok. Dasar!'' lalu sambungan pun di putus dan tentu saja Alex yang melakukannya. Ia berbalik dan hendak pergi dari tempatnya berdiri, tapi seorang lelaki yang berpakaian seragam sebuah maskapai penerbangan komersil menghentikan langkahnya.
"Loh, Pak! Mau kemana? Gak jadi berangkat?''
"Kamu siapa? Kita saudara emangnya? Kepo aja!" ketus Alex berbalik dan terus melangkah.
"Ye.... ditanya baik baik, malah nyolot! Diputusin pacarnya baru tau rasa lo!" umpat laki laki itu, tetapi masih dapat di dengar oleh Alex. Tubuhnya menegang tiba tiba, dan tentu saja bayangan wajah cantik Rose adalah penyebabnya.
"Kebetulan banget. Mendingan gue ke apartemen aja sekarang. Kan gak jadi.... Nah, ini dia nih. Telepon juga akhirnya nih bocah! Double kebetulan nih. Gue suruh awasi mama dong dia. Apalagi kan," kekeh Alex melihat nama dan nomor ponsel Jhonny yang tertera di layar ponselnya. Segera saja ibu jari Alex menggeser icon berwarna hijau itu ke arah kanan, lalu meletakkan ponselnya di telinga.
"Hal----Sssst.... Ha...halo, Bos?''
"Sialan! Ngapain lo, hah? Cepat jemput gue sekarang!'' amuk Alex mendengar lirihan Jhonny di seberang telepon.
"I...iya, Bos. Ini gue lagi on the way ke unit si Rose, Bos. Tadi pinjem----"
"Oncom! Gue di bandara soeta kali! Lo ngapain kesana?''
"Hah? Ngapain disan--- Ough, ****!''
"Jhonny, lo ngapain aja, hah?! Brengsek! Cepat lo keluar dari apartemen gue!''
"Aduh! I...iya, Bos. Gue tapi bukan di unitnya si Rose, Bos. Di unit----"
"Gue gak bawa mobil, Johnny! Gue gak jadi meeting di Bali, makanya cepat lo jemput gue di bandara soeta! Tinggalin cewek lo di sana dulu karena nanti kita juga bakalan langsung ke tempat Rose! Lo ngerti, Oncom?!''
"Si....siap, Bos!''
Alhasil, bersiaplah Jhonny menjemput Alex, sedang sang CEO melenggang ke arah kafe bandara yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Hemph! Rose, nanti pacar kamu----"
"Ssstt... Kamu ngomong apa sih, Lex? Pacar aku itu ya, kamu."
Cup
Apa yang Rose perbuat benar benar sudah di luar kendali, bahkan rupa Boy pun berubah menjadi wajah tampan Alex di matanya.
"Iya. Tapi ini kita di lift, Beb. Nanti kalau ada----"
"Ish, kamu apaan sih.... Biasanya juga kita kayak gini kan, Lex.... Jadi ayo sentuh aku sekarang, Alex.... Aku mau kamu out in punya aku kayak biasanya." lalu tangan Rose pun menuntun telapak tangan Boy untuk menyentuh dan mengelus buah kembarnya dari luar.
"Sentuh seperti biasanya? Sialan! Berarti ni cewek udah pernah di coblos dong? Heh, sama aja bohong! Lagaknya sok polos dan menghindari gue terus. Padahal? Gak jauh beda sama ******!'' kesal Boy dalam hati, sembari terus melakukan apa yang Rose tuntun tadi. ''Tapi gak apa apa deh. Intinya apa yang gue mau terkabul dan rencana gue ngeseks sambil direkam nanti harus kesampaian. Soalnya vidio itu yang bakalan jadi senjata gue buat minta nambah kalo besok besok nih cewek sok jual mahal lagi. Benar kan?'' batin Boy terus terkekeh.
Lift membawa mereka naik menuju lantai tujuh belas, dan pagutan pun terus saja terjadi di sana. Rose bahkan sudah melepas seluruh kancing kemejanya, dan bersiap untuk melepas semua yang ia kenakan.
"Beb, Ini udah lantai enam belas. Nanti aja ya kita lanjutin di kamar kamu?''
"Aku gak mau, Lex..... Aku mau kamu sentuh aku...." sungguh Rose berubah menjadi sangat liar di sana.
"Iya tapi, Ough-----"
Rose semakin liar mendaratkan ciuman di leher Boy dan salah satu tangannya sudah berada di area milik Boy.
"Ach, Kita udah mau sampai, Rose!"
"Biarin!''
"Ya, tapi kan nanti kita kayak gini juga, Rose!''
"Aku mau sekar-----"
Tit.....
Pintu lift pun terbuka secara otomatis.
"Di kamar kamu aja ya, Beb?''
"Argh, Alex....." pekik Rose yang kini sudah berada dalam gendongan Boy.
Hebatnya lagi Rose dengan berani mengalungkan kedua lengannya di leher Boy dan tanpa bisa dicegah, satu pagutan panas pun kembali terjadi.
Boy yang sudah pernah berkunjung ke Apartemen Rose bersama Riri di bulan pertama mereka kuliah, pun tidak mempermasalahkan aksi liar si cantik dan terus saja melangkah menuju tempat tujuannya.
Mereka bahkan tidak mau ambil pusing dengan keadaan di sekitar, seolah dunia milik mereka berdua, kendati dari arah berlawanan muncul seseorang yang sedang tergesa gesa melangkah.
"Loh, tadi itu kayaknya Rose deh. Ini kan gantungan kunci boneka yang tempo hari dia beli di Gramedia sama aku? Tapi kok?"