
"Lo bisa cepetan dikit gak sih nyetirnya? Rose itu udah lahiran dan kita masih aja di jalan kayak gini! Suami macam apa gue dimatanya?" kesal Alex terus mengumpat ketika Jhonny masih berada di pintu tol dalam kota.
"Gue kudu hati hati kali, Bos. Tempo hari pas Bos celaka, gue langsung insaf sama yang namanya ngebut ngebutan di jalan. Mau pake mobil balap punya Bos itu kek, pakai mobil matic punya Nyonya kek, apalagi pake motor atau mobil punya orang kayak gini? Gue tetap insaf, Bos. Gue gak bakalan punya duit buat ganti mobil orang yang rusak. Benar gak, Pak?" sahut Jhonny bertanya pada sang pemilik mobil grab yang duduk tepat disebelahnya.
"Ck! Dasar oncom! Kalo gitu ngapain lo disitu? Biarin aja tadi bapaknya yang nyetir. Sialan lo emang!'' gerutu Alex tampak sangat frustasi di kursi belakang.
Alex tak tahu harus berbuat apa, tatkala ponselnya mati total dan tidak dapat digunakan untuk mengetahui keadaan Rose.
"Sabar ya, Bos. Ini juga udah sampai di ujung tol kok. Gue itu cuma pengen Bos selamat aja kali. Makanya tapi gue milih nyetir biar tenang." ujar Jhonny melirik Alex sekilas dari kaca spion, ''Atau biar gak suntuk kita dengerin musik aja ya, Bos. Nanti biar si Bapak ini aja yang----''
"Lo, bisa diam gak sih?! Berisik tau enggak?!" kesal Alex memijit pelipisnya.
Jhonny beserta si Bapak Grab pun saling berpandangan dan mereka saling menyembunyikan rasa lucunya di sana. Tak lama kemudian, mobil pun sampai ke tempat tujuan. Lantas, tanpa mau menunggu lagi, Alex pun turun dari kursi penumpang.
"Loh, Bos! Mau kemana? Ini taksi belum di bayar!'' teriak Jhonny melihat Alex yang seenaknya keluar, bahkan tak mau menutup pintu mobil.
"Ya udah, bapak aja yang bayar kalo gitu. Nanti tinggal minta ganti sama Bosnya. Gampang kan?'' celetuk pemilik mobil dan Jhonny menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalo gitu kita parkir dulu aja ya, Pak. Dompet gue kosong bangat. Nanti biar kita singgah ke atm aja baru saya bayar ya, Pak?" sahut Jhonny mulai mencari tempat parkir.
Sementara itu, Alex sudah berada di meja resepsionis rumah sakit dan sibuk menunggu beberapa pegawai rumah sakit tersebut mencari data tentang Rose Van Houteen.
"Pasien baru saja dipindahkan ke ruangan VVIP 7A di lantai empat, setelah selesai di operasi, Pak. Dokter Wiryawan kan yang menangani persalinannya, Pak?" tanya sang pegawai dan Alex menganggukkan kepalanya. "Baik, Pak. Ada yang bisa kami bantu lagi?" lanjut si pegawai yang melihat Alex tak kunjung berlalu dari hadapannya.
"Biaya administrasinya berapa? Sudah lunas belum?" dan itu alasan kenapa Alex masih berada di sana.
"Kebetulan sudah semua sampai hari ini, Pak. Sisa biaya administrasi sampai hari terakhir pasien dirawat belum bisa kami ketahui. Sebab pasi----"
"Ya, udah. Itu gampang! Saya permisi dulu kalo gitu." sanggah Alex begitu saja bak anak panah terlepas dari busurnya. Ia berlari menuju pintu lift, tetapi sampai sepulu detik, pintu otomatis tersebut tak kunjung kebuka.
"Sial!'' umpat Alex memandang kesekelilingnya.
Matanya pun tidak sengaja melihat tulisan pintu darurat dan tanpa membuang waktu lagi, ia berlari dengan sisa semangatnya menuju lantai empat.
Alex tak mau memusingkan teriakan Jhonny, karena memang saat itu telinganya sudah sangat jauh untuk bisa untuk bisa mendengarkan kata kata lain selain daripada kata Bos.
********
"Wah, cucu Oma cantik sekali.... Sus, sini. Biar saya yang gendong ke inkubatornya," antusias Nyonya Milea di ruangan bayi, tampak anak berjenis kelamin perempuan itu berada.
Ya, Rose Van Houteen memang melahirkan seorang bayi perempuan dengan berat hanya dua koma tiga kilogram. Oleh sebab itu, sang bayi harus dimasukkan ke dalam inkubator.
"Sebentar saja ya, Bu? Soalnya kan tadi ibu janjinya cuma sepulu menit. Jadi sisanya hanya dua menit saj---"
"Ini, Sus. Isinya memang cuma lima ratus ribu karena saya gak sempat ke atm tadi. Nanti saya tambahin lagi, asal Suster jangan suruh saya keluar dulu dari ruangan ini. Bisa kan, Sus?'' potong Nyonya Milea menyodorkan angpau merah berisi lima lembar uang seratus ribuan yang awalnya hendak ia berikan kepada Mbak Pesta, "Saya janji gak bakalan macam macam dan cucu saya tetap tidur di dalam inkubatornya gitu. Mau ya, Sus? Lumayan ini buat beli kuota hape sebulan kan?" lanjut Nyonya Milea dengan jurus merayunya.
"Bukan begitu, Bu. Cuma saya takut aja kalo ternyata ibu ini adalah salah satu dari anggota sindikat penculikan bayi. Bisa saja kan ibu sejak tadi mengaku ngaku neneknya si bayi. Padahal memang ibu ini bermaksud jahat?" sahut sang perawat memeluk erat bayi perempuan tersebut dalam gendongannya.
Mendengar hal itu, wajah putih Nyonya Milea pun berubah merah seketika dan rasa rasanya asap putih sudah mengepul di kepala, akibat kata kata sang perawat barusan.
"Eh, kamu lihat nih KTP saya! Kamu lihat juga semua isi dompet saya kalo gak percaya! Atau kalo masih ragu juga, kamu buka di Google dan ketik di papan pencariannya The Laode Corporation family! Beugh.... Dasar aneh! Saya ini salah satu sosialita di Indonesia tau! Enak aja kamu bilang saya adalah salah satu sindikat dari penculikan bayi. Kamu mau saya masukin ke penjara atas dasar pencemaran nama baik?!'' amuk Nyonya Milea begitu berapi api.
"Saya enggak takut ya, salah satu ibu sosialitanya Indonesia! Kan tadi saya sudah kasih kesempatan untuk ibu sepuluh menit. Jadi ya udah dong! Masa maksa maksa saya untuk kasih waktu lebih? Main sogok menyogok pula! Ibu dong yang salah. Tuh, baca! Batas kunjungan orang tua bayi hanya sepuluh menit aja kan? Terus itu!" sahut sang perawat sibuk menunjuk kesana sini dengan wajahnya, ''Ada kamera CCTV dalam ruangan ini! Jadi saya tidak takut jika anda melaporkan ke polisi manapun, Ibu sosialita yang terhormat!'' lanjut perawat itu lagi.
Sekamat!
Suasana pun semakin memanas di dalam ruangan tersebut, hingga membuat beberapa bayi menangis akibat kegaduhan yang mereka ciptakan.
Secepat kilat Perawat itu meletakkan cucu Nyonya Milea ke dalam inkubator yang terlebih dahulu sudah diberi nama, lalu mulai menenangkan bayi yang lain yang sedang menangis tadi.
"Anda masih disini juga, Ibu sosialita? Apa harus saya panggilkan satpam dulu baru anda mau keluar?!'' kesal sang perawat dan Nyonya Milea pun kian marah dibuatnya.
Tanpa menunggu lama, Oma baru itu pun berbalik dan pergi meninggalkan ruangan perawatan bayi. Tentu saja dengan tak meninggalkan wajah merah padamnya.
"Dasar perawat bego! Di kasih duit gak mau. Ya, udah. Mending aku pakai buat cuci mobil aja nanti!'' umpat Nyonya Milea menyimpan angpau merah ditangan ke dalam tasnya lagi.