I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 74



"Pap, gimana?'' tanya Nyonya Milea ketika sampai di lantai paling atas sebuah rumah sakit swasta, tempat Alex di rawat.


"Enggak apa apa, Mam. Papa hanya bisa menunggu di luar karena kita belum diijinkan masuk ke dalam. Alex belum sadar, bahkan dokter mengatakan saat ini dia dalam keadaan koma," lirih tuan Guen mulai memainkan aktingnya.


Nyonya Milea terduduk di kursi besi panjang yang kebetulan berada di sampingnya, dan mulai menitikkan air mata di sana. Tuan Guen yang melihat hal itu pun lekas mengikuti jejak sang istri dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Kita harus banyak bersabar, Mam. Mungkin ini teguran Tuhan karena sikap kita yang terlalu protektif sama Alex." Nyonya Milea hanya bisa menganggukkan kepalanya di dada bidang Guen.


Beberapa menit kemudian terjadi dengan penuh haru seperti demikian, hingga saat tangisan Nyonya Milea semakin keras terdengar, sang dokter yang ikut mengambil peran dalam sandiwara tersebut pun datang kesana.


"Dokter!'' Tuan Guen pun seolah kaget dengan kehadiran tersebut, dan secara otomatis Nyonya Milea pun juga melakukannya.


"Dokter! Tolong selamatkan putraku bagaimanapun caranya, Dok! Tolong jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi padanya! Cuma dia keturunan kami satu satunya! Cuma Alex aja, Dok. Saya tidak punya yang lainnya, jadi tolong bantu dan saya dan saya akan bayar berapapun yang anda minta!" isak Nyonya Milea, terlihat sangat hancur di depan suaminya, dokter dan dua orang perawat.


Nyoya Milea bahkan menarik kuat kerah seragam putih yang dipakai yang dipakai dokter itu sehingga tuan Alex pun akhirnya menangani perbuatan sang istri.


"Mam, sudah! Cukup, Mam! Kendalikan emosi, ini di rumah sakit, bukan di pasar. Kalo kayak gini gimana Dokter mau periksa Alex?!" tegas Guen melepas tangan istrinya yang lancang.


"Mama takut, Pap. Mama takut....." lirih Nyonya Milea dalam pelukan suaminya.


"Kami akan berusaha semampunya ya, Bu. Tapi semua kembali lagi kepada Tuhan yang Maha Esa. Jadi tolong, lapangkan hati, bila seandainya anak ibu dan bapak nanti tidak sela---"


Sementara Dokter hanya bisa mengangkat kedua tangannya tinggi tinggi dan terkekeh dengan perbuatan yang mereka lakukan.


"Naikkan ke brankar besi ini deh, Pak Guen. Saya sarankan istri anda di rawat saja, karena bisa jadi beliau kecapean dan kurang darah," sahut sang dokter, kemudian memberi kode kepada dua orang perawat untuk mendorong brankar tersebut.


"Terserah Dokter sajalah. Tapi sejak dulu, ibunya Alex ini memang gitu, Dok. Dulu Alex pernah keserempet motor pas pulang sekolah waktu masih di sekolah dasar gitu kan? Eh, dia pingsan juga lihat darah yang keluar dari kepala dan kaki putra kami. Jadi----''


"Jadi sebaiknya acara sandiwara ini ditiadakan saja, Pak. Saya sedikit ragu akan berhasil membuat efek jera jika berkelanjutan kita lakukan selama tiga hari ke depan. Istri anda kan bukan anak balita yang kerja jantungnya masih sangat kuat dan stabil. Kemarin waktu putra anda dibawa kesini sudah pingsan di tempat kejadian juga kan? Ini lagi pingsan. Anda tidak kasihan?'' sanggah sang dokter, mulai khawatir dan tidak ingin mengambil resiko jika terjadi hal buruk dengan Nyonya Milea.


"Tapi saya sudah lelah dengan tingkah protektif istri saya ini, Dok." curhat tuan Guen dan dokter pun terkekeh.


"Kalo gitu, kenapa dulu anda menikahinya, Pak Guen? Pakai cara lain yang tidak membahayakan orang terkasih anda sajalah. Itu sih hanya sekedar saran. Tapi menurut saya pribadi, dengan mendengar berita seperti tadi saja, pasti akan membawa sedikit dalam perubahan pola pikir istri anda. Apalagi anda kemarin bercerita jika beliau rela mencari calon menantu anda sendirian di kota Solo, bukan? Nah, itu pasti efek kecelakaan yang menimpa putra anda. Maka, bersabar saja jika ingin keluarga anda lebih harmonis, Pak Guen. Pasti ada cara lain, asalkan anda sebagai kepala keluarga mau terus berusaha. Bagaimana?" jelas dokter bedah itu, dan tuan Guen diam untuk memikirkan seluruh perkataan tadi.


Satu helaan nafas kasar lantas keluar dari lobang hidung pria asal Madrid itu, lalu dengan berat hati ia menyanggupinya.


"Baiklah, Dok. Semoga saja setelah sadar, istri saya berubah sedikit lebih baik. Jadi bagaimana keadaan Alex saat ini?" pikiran Guen kembali pada kesehatan sang putra.


"Sudah lebih baik, Pak Guen. Saya tadi sudah menjelaskan juga sebelum anda menelpon jika ibunya Alex mau datang berkunjung dan meminta saya untuk berakting kan? Pada pemeriksaan pagi ini, pasien sudah diperbolehkan minum air putih tapi hanya beberapa sendok saja. Ia juga sudah buang angin dan untuk makan sendiri sebaiknya tunggu agak siangan saja." jelas dokter bedah itu lagi, "Pada pemeriksaan lanjutan siang nanti, saya akan mengecek kembali kondisi pasien dan menjelaskan lagi berapa banyak makanan yang boleh masuk ke dalam perutnya. Jadi anda tidak perlu terlalu khawatir dan tinggalkan saja jika sedang sibuk, Pak. Pasien sudah tidak berada di posisi urgent lagi, kok." lanjut sang dokter dan Guen menganggukkan kepalanya.


Mereka terus berjalan menuju lift dan membawa brankar berisi Nyonya Guen The Laode ke unit gawat darurat untuk diperiksa lebih lanjut.