I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 66



"Mama..... Ro...se..., Ma.... Rose---"


"Alex! Ya, Tuhan! Papa! Tolongin Alex, Pap! Tolong, Al---"


"Mam, bangun! Mama!" pekik Guen dalam keadaan panik dan menahan tubuh tak sadarkan diri sang istri.


Wajah tampan Alex berlumuran darah saat berada di atas brankar besi menuju ke atas ambulance adalah hal yang membuat Nyonya Milea tidak kuat menghadapi kenyataan di depan matanya.


"Pak, itu si ibu korban juga?''


"Bukan bukan! Saya tadi ngikutin mobil anak kami dari belakang, gak satu mobil. Ini saya gendong ke dalam mobil aja, Pak. Tolong ambulance jalan aja sekarang!" tugas Guen dengan sigap membopong Nyonya Milea.


Alhasil, Ambulance pun berjalan lebih dulu meninggalkan kedua orang tua Alex, karena memang sirene mobil tersebut sudah dibunyikan dan mau tak mau para pengendara lain wajib memberi jalan.


"Ya, Tuhan! Apalagi ini? Tolong kuatkan hambamu...." lirih Guen bersiap mengemudikan mobilnya. Namun, ia lebih dulu mengambil air mineral berukuran sedang yang terlihat di pintu mobil, lalu mengguyur wajah dan kepalanya sebelum melakukan aktivitas lain.


"Hufft.... Cepat sadar, Ma. Tolong jangan buat keadaan semakin runyam lagi setelah kejadian ini kalo mama masih mau jadi Nyonya Guen The Laode, Ma. Papa capek kayak gini terus. Capek, Ma. Capek...." lirih tuan Guen hampir tak terdengar.


Mobil hitam metalic itu kembali beradu dengan jalan ibu kota, meninggalkan kendaraan lain yang masih sibuk mengamati beberapa oknum polisi lalu lintas yang memasang police line di tempat kejadian. Untung saja tuan Guen sempat membaca nama rumah sakit yang tertera di badan mobil ambulance, serta menanyakan sekali lagi ke para petugasnya tadi. Alhasil, ayah satu anak itu tak perlu ikut ikutan ngebut dan membuntuti laju mobil karena bisa saja itu kembali membahayakan diri.


Sementara dari stasiun kereta api Solo Balapan, tiga orang wanita berbeda usia itu kini tengah saling berbincang dan juga bertukar nasihat satu sama lain.


"Gue pasti balik jumat depan pas habis kelas pagi itu, Rose. Jadi lo tenang aja. Kecuali udah semester baru dan hari jumat gue dapat jadwal mata kuliah sore, baru deh sabtu pagi gue cabut kesini. Ya, tapi kan itu masih tiga bulanan lagi dan pasti dong usaha lo di pasar nanti udah stabil. Iya gak, Nia?"


"Aku ndak bisa janji tapinya loh, Ri. Kamu jangan salahin aku kalo nanti dagangannya gak laris manis." sahut Nia serba salah.


"Udah, jangan pikir masalah itu. Nanti aku juga pasti promo promoin di medsos kalo udah pake handphone lagi. Kamu tenang aja, Nia. Kan yang mau dagang sepatu sama celana celana jeansnya aku," Rose menimpali dan Riri mengacungkan dua jempol tangannya.


"Ya udah. Gue masuk dulu. Ingat, lo jangan banyak pikiran tentang cowok brengsek itu dan sama keluarganya. Gue udah duga dia gak baik sejak penjarain si Boy kan? Lo aja gak nurut sampai bisa bunting gin----"


"Udah, gak apa apa kok, Nia. Aku aja yang ceroboh sampai bisa kayak gini." senyum hambar terlihat di wajah Rose. ''Salam salam Tante ya, Ri. Maaf udah bikin susah ibumu kemarin itu."


"Ck! Gue gak bisa sampaikan salam sama pesan dari lo. Biasa kalo gue gak habis ketahuan enggak ikut mahasiswa bimbingan di puncak tapi malah antarin lo ke Solo. Ijin kuliah dicabut juga kali tuh. Maafin gue ya, Rose?" sahut Riri apa adanya.


Ketiganya kini menyempatkan untuk tersenyum atas celetukan Riri, tetapi senyum yang di beri Rose lagi lagi hanya seulas senyum hambar tanpa makna. Itu karena keinginan dalam hatinya terus mendorongnya untuk ikut masuk ke dalam kereta dan kembali pulang ke Jakarta, tetapi logikanya ikut berpacu dengan melarang hal tersebut ia lakukan.


Alhasil, saat lambaian tangan Riri semakin menjauh, dua bulir air mata pun jatuh membasahi pipi putihnya. Tentu saja hal tersebut terjadi akibat isi hatinya yang kalah bersaing tadi.


"Yang kuat, Rose. Sekali lagi aku ingatin, anakmu ini ndak bersalah. Jadi kamu harus semangat membesarkan dia dalam perut, sampai masa persalinan nanti. Siap?" ujar Nia menyodorkan tissue bungkusan ke hadapannya.


"Aku usahakan, Nia. Makasih sudah baik dan mau jadi teman aku yang bandel ini. Kamu jangan mudah tertipu sama bujuk rayu laki laki manapun dulu sebelum kuliahmu beres ya, Nia. Nanti kamu jadi kayak aku gini lagi."


"Eh, kamu jangan ngomong kayak gitu terus. Ndak usah dengerin kata kata si Riri tadi. Wong dari ceritamu itu, cowokmu baik kok menurutku. Cuma ibunya saja yang ndak baik dan suka memaksakan kehendak," sahut Nia lagi, "Aku yakin karma pasti berlaku buat orang yang kayak gitu, Rose. Pasti itu!"


Deg......


Jantung Rose kembali berdegup kencang saat mendengar kata karma dari mulut Nia.


"Alex....."


Lagi lagi Rose membatin dan menyebutkan nama ayah si jabang bayi dalam kandungannya. Namun, itu hanya bisa dalam hati saja, karena sejumlah janji sudah lebih dulu ia tanamkan demi kebahagiaan sang kekasih hati.


"Maafkan aku, Lex. Aku janji nama keluargamu pasti ada kok nanti dibelakang nama anak kita. Aku gak akan lupa sama kamu."


Lantas satu janji lagi kembali terpatri. Kali ini ketika mereka berdua sudah berada di atas tiga roda si abang becak, yang beradu di atas jalan dan membawa mereka untuk pulang.