
Pandangan Milea tak lepas dari punggung Alex yang lambat laun mulai menjauh, masuk ke dalam lobby apartemen, tetapi tiba tiba semua pemikiran itu menghilang akibat suara dari pak Toni. " Maaf, Bu. Ini kita mau turun atau mau---"
" Ssst... diam dulu, Pak Toni! Saya lagi teleponan sama Pak Alex nih. Awas samapi kita ketahuan ada disini ya? Saya pecat kamu nanti! " ancam Mile membuat Toni pun menjadi takut.
Supir pribadi Milea itu pun segera minta maaf. " Astaga! Maaf, Bu. "
" Ya, makanya diam dong, Pak! Berisik aja dari tadi, ih! " Namun lagi lagi sang majikan membalas ucapan dengan sangat ketus, dan sang supir pribadinya pun bungkam seketika tanpa bersuara.
Tut tut tut tut tut tut......
Nada sambungan telepon itu terus saja memperdengarkan deringnya yang panjang, tetapi Alex sama sekali tidak merespon dan hal tersebut sungguh membuat Milea kesal setengah mati.
" Sialan! Kanapa gak diangkat angkat terus, sih? " Milea mengumpat kesal.
Pada akhirnya wanita paruh baya itu memilih untuk diam sambil sesekali melihat ke arah arloji di pergelangan tangannya. Sementara itu di tempat lain, Alex dengan langkah gembira sudah berada di lantai lima belas tempat salah satu unit apartemennya berada.
" Duh, gak sabar bangat nih gue mau ketemu ayank cantik! Sabar ya, Junior? Kita bakal ketemu Rose sebentar lagi. Kamu suka, kan? " gumam Alex bermonolog dengan daging ajaib miliknya yang ia beri nama si junior, tak ubahnya orang kurang waras jika ada orang lain yang melihat tingkah konyol di sana.
Dengan percaya dirinya, Alex menekan tombol yang ada di panel pintu apartemen, tetapi tidak ada tanda tanda berhasil yang ia dapatkan.
" Ck! Kenapa, sih? kok gak kebuka juga nih pintu? Perasaan nomornya udah bener deh tadi! " gerutu Alex dengan kesabarannya yang mulai menipis.
Usai dua kali mencoba kembali, akhirnya Alex pun menyerah. Ia lalu sibuk menekan tombol bel yang juga berada dalam rangkaian panel di pintu apartemen tersebut. Tak sampai semenit berdiri, maka terbukalah pintu itu dengan wajah mengantuk Rose di sana.
" Loh, Alex?! Kok kamu bisa ada disini? Rose kaget melihat siapa yang dagang di depan pintu.
" Bisa dong, sayang. Salah ya kalau aku datang kesini? " raut wajah bingung yang menggemaskan di mata Alex pun berhasil membuat rasa kesal sang CEO itu terbang entah kemana, tergantikan dengan letupan ekspresi kegembiraan.
Masih dibalut dengan sejumlah kebingungan dan rasa kikuk, Rose segera menjawab perkataan Alex. " Boleh, dong. Masa gak boleh? "
" Hehehe.... kirain gak boleh. " Membuat seulas senyum hadir begitu saja, menghiasi wajah tampan Alex.
Deg deg deg deg deg.....
Dalam keadaan kikuk akibat laju kerja jantung yang berlari cepat, Rose dengan sedikit terbata menjawab perkataan Alex dengan kalimat berulang. " Boleh, Lex. Lagian, ini kan apartemen kamu. Kok pakai ijin segala? Ayo masuk. "
" Kalau gitu geseran dikit dong, sayang. Apa mau aku tabrak langsung nih? " Alex memanfaatkan hal itu dengan melemparkan lelucon dan Rose pun tersenyum lucu mendengarnya.
" Eh, maaf maaf. Ayo masuk, Lex. " sahut Rose segera bergeser dari pintu.
Keduanya kini sudah melangkah menuju ruang tamu, dengan posisi Alex yang berjalan lebih dulu. Akan tetapi, saat Rose hendak terus melangkah, tubuh wanita itu tiba tisa saja bertabrakan dengan dada bidang Alex.
" Aku kangen kamu, sayang. Kangen bangat. "
" Iya, tapi -----Hemp! " sahutan dari Rose tercekat di tenggorokan.
Hal itu tentu saja karena Alex sudah mencuri ciuman di bibir Rose dan setengah gigitan halus yang ia hadiahkan, barulah ciuman sepihak tersebut berubah menjadi pagutan liar dengan aksi saling melilitkan lidah.
" Hemph! Lepas, Lex! " berontak Rose memukul dada bidang Alex setelah paru parunya nyaris kehabisan nafas.
Alex yang masih belum puas, suka tidak suka pada akhirnya melepaskan bibir candu Rose. Namun, kedua lengan pria itu dengan sigap mengangkat tubuh gadisnya ke dalam kamar.
" Ka...kamu mau apa, Lex? " tanya Rose dengan terkejut akan tingkah Alex.
" Aku kangen, sayang. Kenapa? Gak boleh? " Alex bertanya balik.
" Ya, tapi ini udah malam. Kamu mau nginap disini? Kalau iya, aku tidur di kamar sebelah aja ya? Soalnya perjanjian kita gak akan lebih dari hal yang kemarin yang sudah kita omongin, kan? " sahut Rose dengan mata terbelalak nya.
Kekehan Alex pun terdengar keras akibat mendengar perkataan Rose, sampai - sampai dua titik air ikut keluar dari sudut matanya.
" Kok,.malah ketawa sih! Maksud kamu datang kesini itu apa, Alex? " kesal Rose.
Alex yang baru saja berhenti terpingkal segera menarik satu telapak tangan Rose menuju pangkal pahanya dan di sana tentu saja si junior sudah semakin mengeras.
" Junior aku yang kangen sama bibir kamu ini, sayang. Jadi sudah tau kan apa yang harus kamu lakukan buat mengobati rasa kangennya si junior? Kita coba lagi, yuk? Aku beneran kangen dari tadi di kantor mikirin kamu terus, sayang. Gak tahu kenapa. " jawab Alex memainkan dua alis matanya naik turun.
Blush......
Semburat merah jambu tak dapat lagi ditutupi dari kedua pipi Rose yang merona, tetapi alarm di kepala gadis itu berbunyi seketika.
" Tapi, Lex. Kamu bilang tadi setiap hari tugas aku cuma bantu si junior cuma sekali saja. Terus kalau sekarang aku bantuin lagi, berarti dua kali dong? Terus kalau besok besok sampai tiga atau empat kali? Untung di kamu itu namanya. Curang, ih! " celetuk Rose lagi lagi berhasil menerbitkan senyum lebar di bibir Alex.
" Udah, kamu tenang aja. Kali ini aku bayarnya double kok. Mau kan? Emangnya kamu gak kasihan tuh sama dia yang udah dari tadi bilang kangen sama bibir kamu? Laki laki itu kalau gak dikeluarin bisa jadi sakit kanker prostat loh, sayang. Coba ya kamu lihat nih vidio penjelasannya di Youtube. " sahut Alex mulai melancarkan rayuan mautnya, agar segala tujuannya dapat tercapai saat itu juga.
Alex mengambil ponsel miliknya dari dalam saku setelan jas nya dan mendapati ponsel tersebut menyala akibat ibunya yang menelpon. Segera saja, Alex mematikan panggilan tersebut lalu beralih ke papan pencarian aplikasi di youtube dan mencari penyebab dari kanker prostat. Setelah ketemu, dengan cepat Alex memberi benda pipih itu kepada Rose dan sang gadis pun serius menyimak penjelasan dari vidio tersebut.
" Tuh! Banar gak omongan aku tadi? Laki laki kalau udah keras anunya kayak gini itu harus segera dikeluarkan, sayang. Nanti jadi penyakit. Kamu mau aku penyakitan gara gara salurannya tersumbat? " rayu Alex memasang tampang memelasnya, menunjuk kearah si junior di tengah pangkal pahanya.
Melihat hal itu, hati Rose pun luluh seketika. Dengan lembut ia membuka gesper kulit lalu resleting celana khaki yang berbahan kain yang Alex gunakan, dan tak lama kemudian muncul juga senjata utama bernama si junior di sana.