
"Aku tau, aku ini gembel yang gak pantas buat kamu, Lex. Setelah ini, mungkin aku akan berusaha menjaga hatiku supaya hubungan kita ini hanya sebatas------"
"Kamu pinter bangat, sayang. Ough.... Aku suka sama sentuhan kamu, Rose. Bikin aku melayang...." ucapan Rose itu terhenti, karena Alex memotong ucapannya dengan beberapa kata kata.
Semua pemikiran Rose tentang hubungan mereka berdua pun buyar dan terbang entah kemana, berganti dengan keinginannya untuk segera menyudahi pekerjaan yang Alex perintahkan. Beberapa menit akhirnya si jun sudah kelar, yang ditunggu tunggu mulai dari tadi malam akhirnya out juga.
"Argh, Rose!'' erang Alex ke seluruh penjuru ruangan.
Rose pun merasakan semua itu lalu mengecupnya.
"Oh, God! Huh, leganya. Nah, jun kamu sudah enteng kan sekarang?" kekeh Alex masih membelai rambut panjang Rose.
"Jun, bilangin sama tuanmu jangan minta minta lagi deh. Minimal dua hari sekali kek gitu, Masa sehari dua kali? Udah kayak minum obat darah tinggi aja!'' ketus Rose mengajak si jun ikut berbicara juga.
Alex terkekeh melihat Rose bertingkah seperti itu. Mereka lantas tertawa bersama dan di lima belas menit kemudian aksi panas itu terjadi sekali lagi.
"Sayang, udah bangun lagi nih si jun. Bantuin ya, sayang?" bisik Alex saat keduanya masih berpelukan di atas kasur berukuran king size itu.
Rose sebenarnya nyaris tertidur akibat belaian tangan Alex di surai panjangnya, tapi suara laki laki berusia dua puluh lima tahun itu berhasil membuatnya kembali tersadar dan membuka lebar kedua kelopak matanya.
"Lex.... Aku masih lemas, capek, Lex. Kamu kok cepat bangat sih ngacengnya? Heran ih, Kan, udah aku bilang dua hari lagi aja baru kita gituan lagi!" kesal Rose yang mendengar permintaan Alex itu, tetapi ia malah mendapatkan kekehan tawa dari sang CEO.
"Ck! Malah ketawa!" lanjutnya menggerutu untuk kesekian kalinya.
Ada alasan mengapa Alex terus saja tertawa, karena di dalam isi kepalanya gadis polos seperti Rose tak akan mengetahui hal itu, tetapi ia salah besar.
"Kamu tahu kata ngaceng dari mana, sayang? Hahaha.... Astaga, Rose..... siapa yang ngajarin, hm? Hahaha! Jangan jangan emang kamu pas sekolah dulu udah pernah nonton film dewasa ya, sayang? Hahaha?'' tanya Alex diselingi dengan kekehan panjang yang benar benar panjang itu.
Rose pun mendengus sembari memukul pelan tubuh Alex itu, ingin menjawab tetapi ia malah ikut tertawa seperti laki laki di hadapannya. Mengingat jika kata itu sebenarnya memang sering dirinya dengar saat di bangku SMA, akibat teman teman wanitanya yang begitu mesum.
Masih diliputi dengan rasa penasaran yang tinggi, Alex pun menyentil hidung mancung Rose. "Jawab dong, sayang. Kamu dulu pas masih sekolah, udah pernah nonton film dewasa, hm?''
"Iya, udah pernah. Dulu aku gak punya handphone pas sekolah, tapi teman teman cewekku yang lain punya. jadi ya gitu deh, Mereka nonton, aku juga ikutan. Hahaha!" jelas Rose bersama wajahnya yang memerah, bahkan sekali lagi ia tergelak di sana.
"Pantesan. Nontonnya yang gaya apa tuh? Gaya olahraga yang kita buat ada gak?" tanya Alex kian penasaran, tetapi obrolan yang terus berlangsung itu berhasil membuat si junior pelan tapi pasti, mulai melayu seperti biasanya.
"Gaya biasa aja, Lex. Gak ada gaya baru atau gaya apa atau gaya yang kamu ajarin tadi. Orang kami semua masih pada bego bego waktu itu. Mana ada yang tau gaya atau jurus segala. Hahaha!" jawab Rose semakin tertawa lepas.
Deg deg deg deg....
Pemandangan yang kini benar benar berada di hadapan Alex itu membuatnya semakin dan sungguh bahagia. Terlebih saat detak jantungnya berlari cepat tak tentu arah.
"Aku senang lihat kamu senyum atau tertawa kayak sekarang ini, sayang. Boleh aku cium kamu sebentar?'' tanya Alex begitu lirih, membuat Rose menatapnya penuh bingung.
"Lah? Kan biasanya kamu biasanya main langsung nyosor aja, gak pake minta ijin segala, Lex. Kok sekarang malah bertanya?'' tanya Rose dengan polosnya.
Mendengar hal itu, Alex pun kembali terkekeh dan ia sungguh merasa benar benar bodoh. Debar debaran sialan yang terus bergelayut manja tanpa henti di dalam dirinya sedari tadi, nyaris membuatnya lupa diri. Hampir merusak semua keteguhan hatinya untuk seorang Rose The Houteen.
"Gak apa - apa, sayang. Aku pengen aja gitu sekali sekali untuk cium kamu minta ijin dulu. Biar gak kaget aja." ucap Alex menciptakan kekehan lagi diantara mereka.
Usai meredakan tawanya, Rose pun mencoba untuk memejamkan kedua kelopak matanya. Tanpa perlu sebuah penjelasan, Alex sudah mengetahui juka ia sudah berhasil mendapatkan ijin.
Deg deg deg deg......
"Aku sayang bangat sama kamu, Rose. Sayang bangat sama kamu...." batin Alex pelan tapi pasti, mendekatkan wajahnya ke dalam diri Rose. Ia lantas membuat bibir mereka saling bertemu, berpadu mesra bahkan saling bertukar kemesraan di sana.
"Alex....."
"Aku sayang kamu, Lex." lirih Rose lagi, menerbitkan senyuman bahagia di wajah Alex.
Tak mau menunggu lama lagi, Alex segera membalas ungkapan hati Rose. "Aku juga sayang bangat sama kamu, Rose. Look this. Kamu nakal bikin si jun bangun lagi kan?''
"Dih! Kok aku yang nakal sih? Kan tadi kamu yang minta ijin, Lex?'' gerutu Rose memasang wajah masam.
Alex sebenarnya berkeinginan untuk membujuk Rose dengan sejumlah kalimat manisnya yang biasa ia gunakan sebagai jurus andalannya. "Kita mulai cara baru yang lain selain tadi yuk, sayang?''
"Cara lain? Cara lain apaan? Jangan bilang kamu mau lakuin itu sama aku?! Aku gak mau!'' apa yang Rose katakan justru membuat Alex tertawa.
"Hahaha! Hahaha!!"
Tidak langsung menjawab, tapi malah tertawa sekeras mungkin, Alex benar benar tidak habis pikir dengan apa yang melintas di isi kepala Rose.
"Kita gak melakukan seperti itu, sayang. Aku tuh mau ngajak kamu main gesek gesekkan gitu loh." kata Alex memberi penjelasan.
Dengan kening berkerut, Rose pun kembali bertanya. "Apaan sih maksud kamu?''
"Melakukan hal itu hanya gesek gesek saja, sayang. Gak sampai seperti yang kamu pikirkan layaknya suami istri. Tapi ini hanya gesek gesek manja aja. Gimana, udah paham belum?" kata Alex menjelaskan begitu enteng, padahal detakan jantung Rose sudah tak karuan, lengkap dengan rona kemerahan di wajahnya.
Tak menjawab hingga beberapa detik, Alex mengira keinginan keinginan itu benar benar disetujui oleh Rose, dan ia pun dengan cepat langsung bereaksi di atasnya. "Alex! Ka-kamu beneran mau ngajak aku-----"
"Beneran, sayang. Kita merasakan kenikmatan bareng bareng seperti tadi ya? Jangan takut, aku gak akan sampai melakukan seperti yang kamu pikirkan. Mau ya, sayang?'' lirih Alex yang tatapan matanya sudah dipenuhi dengan tatapan gairah.
"Aku coba seka-----''
"Alex! Ah!'' Rose kembali melanjutkan ocehannya. Namun, Alex membuat pergerakan lain yang malah membuat Rose menjerit nikmat terdengar keras di sana.
Sedikit mengejutkan bagi Alex, seringai nakalnya pun muncul setelah itu. "Geli ya, sayang? Hem? How do you feel about that?? Gesek gesek, like this?"
"En...ak! Ssst... Lex... Lex kamu nakal." kini, bukan hanya Alex saja yang mulai diterjang omeh gelombang tingkat tinggi dari puncak asmara mereka, tetapi Rose pun mendapat hal serupa.
"Rose...."
"Iya, Lex...."
"Enak, sayang?..."
"Enak, Lex."
Peluh dan ******* yang saling sahut menyahut itu menjadi saksi bisu bagaimana kedua insan tersebut sangat menikmati permainan, hingga lima belas menit berlalu, entah kenapa sang jun malah semakin keras bereaksi.
Alex yang kesal pun menumpahkan segala kekesalannya di sana. "Rose! Astaga, sayang! Aku mau out nih! Gak tau ini kok bisa secepat ini! Aku gak----, Ough, sayang! Mau out mau out mau o---- Rose!"
"Alex, ough!""
Mereka merasa durasi yang terjadi kurang memuaskan di sana, tapi nasi sudah menjadi bubur, sebab hal baru itu memang tidak sama dengan kebiasaanya sebelumnya.
"Sayang, makasih ya? Enak bangat." lirih Alex sedikit berjinjit meraih kotak tissue yang berada di atas meja nakas, sisi kiri tempat tidur.
Kaki Alex yang sedari tadi berdiri di lantai kamar, membuatnya dapat sedikit leluasa bergerak, Sementara Rose hanya bisa pasrah saat dirinya dibersihkan oleh tangan kasar laki laki berusia dua puluh lima tahun itu.
"Lex, Aku gak bakalan hamil kan?''