I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 82



"Cari mereka, Pap! Bantu mama cari, kenapa sih harus ke kantor terus! Ini udah tiga hari mereka gak pulang dan mama udah nyuruh si Jhonny sama anak buahnya itu cari kemana mana, Pap! Maka itu solusinya kita harus lapor ke kantor polisi, biar mereka segera kasih pengumuman daftar orang hilang gitu atau semacamnya!" histeris Nyonya Milea mengacak sprei di tempat tidur.


"Apa sih, Mam? Bikin kaget aja. Baru juga bangun, udah mulai lagi kesurupan jin tomang!'' sahut tuan Guen yang kesal mendengar jeritan istrinya.


"Habis papa tuh dari hari pertama mereka gak pulang, mukanya biasa aja! Mama suruh ini itu, malah sibuk sama laptop terus di ruang kerja! Disuruh pulang cepat, malah pulang larut malam! Papa gak ingat kalo empat hari lagi, mereka mau nikah, Pap?!''


"Ingat dong. Masa anaknya mau nikah gak ingat. Tuh, tiga ribu undangannya udah jadi. Tinggal tunggu sisanya sama souvenir juga kan?'' jawab tuan Guen mengikat dasi di lehernya.


Nyonya Milea pun semakin keras menekan pelipisnya dan kembali berbaring di tempat tidur dengan posisi membelakangi suami.


"Mama hari ini gak mau makan kalo mereka belum ketemu juga! Mama hari ini waktunya mau fitting baju sama si Gun di butiknya. Udah mama bayar super mahal biar dia kerja cepat! Eh, malah hancur berantakan semuanya..... Hancur!'' Nyonya Milea berteriak lagi, hingga membuat tuan Guen pun membuang nafas kasarnya.


"Mereka hanya pergi ke vila baru yang papa beli lima bulan lalu di puncak, Mam! Anakmu butuh refreshing karena enggak betah tinggal sama mama yang cerewet. Lagi pula calon menantu kita juga butuh udara segar untuk kebaikan calon cucu Mama! Kalo mereka terus tinggal disini, lama lama bisa keguguran karena les ini dan les itu yang harus dia ikuti akibat kemauan mama. Paham?!" sahut tuan Guen akhirnya membocorkan kebenaran yang ia ketahui.


Tak ayal hal itu membuat tubuh Nyonya Milea tiba tiba saja bangkit dari posisi tidurnya dan kembali meluapkan berbagai kekesalannya. Namun tuan Guen gak mau ambil pusing, dengan melangkah terus menuju pintu kamar dan turun ke lantai bawah.


"Mau kemana, Pap! Mama belum selesai ngomong tau! Vila barunya di puncak sebelah mana?!" teriak Nyonya Milea dengan langkahnya mengejar sang suami.


"Suruh si Jhonny yang antar mama kesana! Dia udah pernah kesana tapi mungkin otaknya error akibat diperintah mama kesana sini terus...."


"Apa?! Dasar papa jahat!" pekik Nyonya Milea mulai turun ke lantai bawah.


"Biarin aku jahat. Yang penting The Laode Corporation sekarang udah mulai stabil lagi," sahut Guen menaik turunkan alisnya, ''Memang ya, Mam? Kantor itu harus selalu ada sentuhan tangan papa baru bisa tetap bernafas. Sekarang papa malah pengen Alex pindah ke Sidoarjo, biar dia jadi General Manager aja di sana. Dia enggak cocok jadi CEO di Jakarta. Otaknya masih suka error," lanjut tuan Guen dan Nyonya Milea diam tak bergeming, mencerna setiap perkataan sang suami.


"Enggak boleh! Kalo mereka pindah ke Sidoarjo, mama juga harus ikut sama anak dan cucu mama. Biarin aja papa sendirian disini. Enak aja kalo ngomong! Anak itu segalanya buat mama, Pap. Lupa?!" gerutu Nyonya Milea menambah kopi di cangkir suaminya.


"Papa udah mau ke kantor, Mam. Kopinya kenapa ditambah. Sengaja kan, karena udah tahu kabar Alex sama Rose? Makanya suami itu jangan dikasih makan anggur terus. Sesekali dikasih apel juga. Tuh, contohin anak kita. Habis lepas gips sama jahitan, langsung refreshing berhari hari. Coba mama juga gitu. Papa pasti---''


"Pasti apa, hm? Pasti papa gak selingkuh sama sekretaris baru di kantor? Itu kan yang mau papa bilang?!''


"Ih, yang benar aja! Masa mau selingkuh sama si Jose? LGBT dong judulnya?" tawa tuan Guen segera membahana di seluruh ruangan makan.


"Jos? Emang siapa Jose? Sekretarisnya Alex laki laki, Pap?" sahut Nyonya Milea dengan kerutan di keningnya.


"Ya iyalah cowok, Mam. Emang si Jose nama cewek? Ada ada aja mama ini. Udah ah, papa mau ke kantor dulu. Kalo mama mau papa anterin ketemu Alex sama Rose, mama apelin dulu papa di kantor. Soalnya meja kerja papa baru, Ma. Agak lebar dan panjang gitu. Gak tau kenapa Alex ganti mejanya, mungkin karena si Rose dulu suka dibawa kesana, terus...." ujar Guen terus saja terkekeh dengan kalimatnya yang menggantung.


"Dasar otak mesum! Ya udah, mama mandi sekarang!" sahut Nyonya Milea berdiri dari kursinya, "Pokoknya papa jangan pergi ke kantor duluan tanpa mama ya, Pap? Sampai di sana nanti, batas kerja papa hanya sampai jam dua belas tepat, setelah itu antarkan mama ke vila baru yang papa bilang itu."


********


"Lex....Udahan aja, yuk? Aku cap--- Ough, Lex..." racau Rose yang masih berada di wajah Alex.


Entah sudah beberapa kalai pelepasan yang sudah mereka lakukan, tetapi Alex belum juga mau menghentikan aktifitas panansnya.


"Slurrpp.... Aku cuma kamu pengen puas aja, sayang.... Soalnya aku belum puas nikmatin punya kamu. Hm.....'' jawab Alex dan Rose kembali blingsatan tak kala saat dia mendapatkan gigitan manja secara tiba tiba.


"Lex... Ach... Pu.... Ssstt...aku sudah kram bangat, Lex... Cu.... Ough.... Cukup dulu, Lex.. Kakiku lemas bangat kayak gak ada tulangnya..." sahut Rose mencoba untuk berdiri dari sana, "Ough, Alex! Ge...li, Lex... Sa..kit!''


Namun, bukan Alexander The Laode namanya jika tidak memaksakan kehendak, sehingga ketika tangan Rose mencoba bertumpu pada kepalanya, ia dengan sigap menarik wanita itu karena tangannya sudah tidak pakai gips lagi.


"Kamu yang pancing aku tadi kan, Sayang? Slurp... Jadi ini hukuman karena kamu udah bangunin aku tidur! Cup, slrup..." sahut Alex terus memainkan tounge dan lips nya yang sudah tak karuan di sana.


Alex bahkan tidak mau ambil pusing dengan kaki jenjang Rose yang kini kembali bergetar hebat, dan terus saja beraksi karena ia tahu jika itu adalah pertanda bahwa satu pelepasan lagi akan terjadi di dalam diri wanita kesayangannya itu.


"Alex... Ough.... Mau pip...Lex..ach....Alex!''


Benar saja, tidak sampai dua menit, sudah mencapai puncaknya.


"Ugh! nikmat bangat, sayang," lirih Alex.


"Lepasin, Lex. Aku mau rebahan, kakiku sakit!" pekik Dose yang langsung di gubris oleh Alex.


Ia membiarkan calon istrinya merebahkan tubuh indahnya yang tanpa sehelai benang itu disebelahnya, tapi hal tersebut bukan berarti aksi panasnya berhenti sampai disitu.


"Ough! Alex! Kamu--- Hemph! Lex--- hemph!''


Sebab tanpa aba aba Alex sudah membuat si Jun berolahraga bersama si Dedek, akibat tak kuasa menahan eraksi yang sejak tadi sudah bergejolak di sana.


"Apa, sayang? Gantian doang, ah. Masa kamu udah puas tapi aku belum sama sekali sih? Curang itu namanya. Jadi nikmati aja ya, Sayang.... Kan bentar lagi kita balik ke Jakarta. Nanti sampai rumah, belum tentu kita bisa menikmati indahnya surga dunia kayak gini? Benar kan?" sahut Alex menghentikan ******* bibir mereka.


"Tapi pelan pelan ya, Lex? Aku lemas bangat. Nanti kalo aku sakit gimana? Tinggal empat hari lagi kan acaranya," lirih Rose dan Alex pun mengecup kening wanitanya.


"Siap, Nyonya Alexander The Laode. Aku bakalan pelan pelan, tapi......"