I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 63



PRANG!


PRANGG!


"Argh, Brengsek! Kamu di mana, Sayang?'' murka Alex menghambur seluruh isi meja makan hingga terjatuh ke lantai apartemen.


Betapa amarah sudah tak lagi bisa Alex bendung ketika dapur minimalis dalam apartemen tersebut tak jua menampilkan wajah si cantik kesayangan, dan begitulah yang terjdai.


"Sayang, kamu dimana? kalo kamu gak pulang kesini, terus kamu dimana? Kamu dimana, Sayang? Ini gak benar dan ini bukan apa yang kita mau kan, sayang?'' tangis Alex pecah hingga tubuhnya limbung dan terduduk di antara pecahan peralatan makan yang berserakan. "Jangan tinggalin aku, Rose! Apa kamu pulang ke Surabaya? Apa kamu tunggu aku nyusul kamu kesana baru kamu mau pulang lagi sama aku?'' lirih Alex menjambak rambutnya.


Beb beb beb beb......


Namun, panggilan telepon dari Guen The Laode lagi lagi muncul si waktu yang tidak tepat, hingga kali ini Alex berniat membanting benda pipih itu ke tembok apartemen.


"Ck! Lo mau cari Rose kemana kalo hape lo rusak, bego! Bangun dan cepat cari dia ke Surabaya sana! Lo payah bangat jadi laki laki! Katanya lo cinta mati sama Rose? Kenapa lo masih cengeng disini?! Dasar payah! Lo itu laki laki gak berguna Alexander The Laode! Lo gak berguna!'' suara peri putih dalam hati Alex. "Apa?! gue bukan laki laki bego! gue gak payah! Gue bakalan cari Rose sampai dapat! Gue bakalan pergi ke Surabaya sekarang juga! Gue bakal pergi kesana!'' dan saat itu ia segera tersadar dan kembali kedunia nyata.


Alhasil, dengan tergesa Alex bangkit berdiri dan segera mencari pintu keluar. Sayangnya kedua netra hitam pekat itu bersiborok dengan pigura kecil yang terletak di bufet televisi dan benda kecil persegi panjang tersebut, seolah berubah menjadi harta yang paling berharga untuk seorang Alexander The Laode.


Cup!


"Tunggu aku datang ya, Sayang. Aku akan datang untuk menggandeng tanganmu menuju altar Tuhan kali ini,'' lirih Alex bermonolog di depan foto mereka, setelah selesai mengecupnya.


Tak sampai satu menit, Alex pun kembali berlari di korodor lantai tujuh belas seusai keluar dari unitnya. Kali ini suara hati membawa ia menuju ke satu tujuan, yaitu Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta. Ia akhirnya melupakan kesepakatan dengan sang ayah, bahkan rapat divisi yang begitu penting pun tak lagi dihiraukan.


Bagi Alex, Rose adalah tujuan hidupnya saat ini dan esok, sehingga tak ada lagi hal lain yang lebih penting daripada sosok si cantik, sang pencuri hati.


"Lo datang kesini dulu, Jhon. Gue butuh lo bangat!''


"Tapi sekarang Pak Badron lagi ada meeting sama beberapa perwakilan karyawan dari pabrik yang pada  ogok kerja ini, Bos. Masa gue yang arahin teman teman preman disini, malah gue yang cabut kesitu? Dikit lagi deh Bos, bisa kan?'' tawar Jhonny di ujung telepon.


"Ya udah deh. Gue juga harusnya di Jakarta tadi ada meeting divisi. Cuma gue gak bisa diam aja sementara Rose belum ketemu, Jhon. Jadi gak tau deh nanti harus bilang apa pas Papa ngamuk,'' lirih Alex menjawab ocehan Jhonny.


"Sabar ya, Bos. Kalo kata nenek gue mah ini namanya cobaan alias ujian cinta, Bos. Jadi kan Bos harus kuat dan tabah untuk menjalani kehidupan yang keras di dunia fan---''


Klik


"Banyak bacot! Gue udah sabar dan kali ini sabar gue udah game over kali! Sialan bangat nih bocah satu. Gue telan hidup hidup baru tau rasa!'' kesal Alex setelah menutup panggilan teleponnya dengan Jhonny secara sepihak. Ia lantas kembali masuk ke dalam rumah baru milik Omanya di Pakuwon Indah Surabaya itu, dan dari dalam Cio sudah siap menunggunya.


"Aku ndak bisa bantu kamu kalo cuma pake selembar foto kayak gini, Ko. Surabaya iki luas e. Yo harus ada alamat jelas baru bisa kira kerahkan preman sini opo sewa intel polisi buat nyari pacarnya Koko yang kabur. Piye?'' Cio langsung berkata demikian saat Alex baru saja mendaratkan bokongnya di atas sofa ruang tamu.


"Gue benaran gak tau apapun soal dimana alamat calon istri gue tinggal selama di Surabaya ini, Cio. Lo pake cara apa kek gitu, biar bisa tau dimana alamatnya,'' jawab Alex terlihat sangat frustasi.


"Jadi ini cewek bakal bojone Koko, toh?''


Satu kekehan terdengar dari pita suara Cio dan Alex sangat tidak suka disepelekan seperti itu.


"Kenapa lo ketawa?''


"Ndak, Ko. Tantenya aku itu yo ibumu toh, Ko. Ndak baik kalo mau maksa orang tua menyukainya, Ndak baik nikah tanpa restu dari orang tua, apalagi---''


"Alah! Lo juga dulu sama si Fuji gak dikasih restu kan? Untung aja bibit lo cepat tokcer terus hamil. Kalo gak, emangnya sekarang kamu bisa ketawain aku kayak begini, hah? Kampret lo!'' Cio pun kian menertawakan kakak sepupunya itu.


"Memangnya dia itu ndak ada identitas apapun ya pas kenalan sama kamu, Lex? Heran e! Kalo dia ndak ada ktp atau sim kayak gitu gitu, darimana kamu tau dia belum nikah?'' sahut sang Oma yang datang dari balik pintu penghubung ruang tamu dan ruang keluarga di rumah itu.


"Ck! Alex yang ambil perawannya kali, Oma. Jadi itu namanya apa kalo belum menikah?''


"Wah! Edan kamu, Lex! Kasihan anak orang e kamu gituiin!'' sahut Oma sedikit terkejut, sementara Cio terpingkal efek rasa lucu yang ia lihat dari raut wajah kesal kakak sepupunya.


"Dia itu kabur ke Jakarta karena mau dinikahkan sama Pamannya. Dia belum ada KTP Surabaya katanya, Oma. Jadi ke Jakarta itu dia cuma kabur bawa ijazah sama----''


"Nah, itu! Itu, Ko!'' potong Cio kembali menegakkan posisi duduknya.


"Itu apa?''


"Lah, itu di ijazah dia toh kan ada alamatnya pasti tertera di sana? Ya kalo semisalnya disitu gak tertera alamat lengkapnya, ya kita cari ajalah data datanya di sekolah cewekmu itu. Benar, toh? Hayo, mana ijazahnya?'' jelas Cio dan Alex segera saja menepuk kening datarnya dengan telapak tangan.


"Benar kamu, Cio. Lupa aku sama ijazah itu. Tapi ketinggalan di Rusunawa Ijazahnya. Gimana dong?'' sahut Alex dan perkataan itu sukses membuat sang Oma menggeleng gelengkan kepalanya.


"Suruh orangmu ke Rusunawa buat ambil berkasnya itu toh, Lex! Kamu ini pikirannya kok tiba tiba sempit kayak gini, sih? Dulu loh pas pintu pagar rumah Oma yang di Malang itu di gembok terus kalian berdua gak bisa keluar, kamu malah punya ide ajak Cio manjat pohon jambu air sampai naik ke pagar baru turun perlan pelan. Lah, sekarang kok mendadak goblok?''


"Oma! Masa cucunya dibilang goblok!'' kesal Alex tak terima.


"LAh, habis itu namanya apa kalo bukan goblok? Weslah! Oma mau lihat si Mbok masak dulu. Kamu telepon tuh orang orangmu di Jakarta, terus minta tolong kirimin berkas punya cewekmu itu ke faksimilenya Oma. Nanti kalo udah terkirim kesini, kalian berdua pergi ke sekolah si cewekmu itu. Baru kamu tanya tanya alamat lengkapnya di sana. Siapa tau ada mantan gurunya yang tau toh? Gitu aja kok repot sih. Pinteran Oma yang udah tua gini daripada cucunya! Ckckck... itu makanya otak jangan diselangkangan aja! Biar gak telat mikir!'' jelas sang Oma panjang lebar dari A sampai Z.


Satu kekehan keras dari mulut Cio pun tak dapat ia tahan dan kali ini Alex pasrah saja diejek oleh ibu kandung Nyonya Milea itu.


Secepat kilat Alex merogoh ponsel pintar milik Rose yang ia bawa dari Jakarta, mengambil power bank milik Cio yang masih terpasang di ponsel sepupunya itu dan segera saja ia pasangkan di handphone sang kekasih.


''Punyaku belum penuh, Ko!''


"Pinjem bentar! Ini lebih penting daripada itu tau!'' sahut Alex mengabaikan gerutuan adik sepupunya.


Lantas ketika baterai ponsel sudah terisi dua persen, Alex menghidupkan benda pipih tersebut, guna mencari nomor ponsel Ipeh. Saat tujuan terwujud, Alex segera menelpon nomor tersebut menggunakan handphone pribadinya sendiri.


Tut........