
"Lex, aku gak bakalan hamil kan?" tanya Rose, usai Alex berguling disampingnya.
Bukannya menjawab, Alex justru sibuk terkekeh geli dengan pertanyaan tersebut. "Hahaha!''
"Ih, Alex. Jawab, bukan malah ketawa. Heran deh ah. Dari tadi ditanya apa, malah ketawa terus jawabnya." membuat Rose geram sekaligus kesal.
Cup!
Sebuah kecupan singkat pun diberikan Alex sebagai bentuk rasa bahagia di dalam hatinya yang sulit diungkapkan dengan kata kata. Tetapi sejurus kemudian ia pun mulai memberikan penjelasan penjelasan.
"Kalau si jun gak sampai kesitu, berarti ya gak akan bisa hamil dong, sayang. Kecuali kita melakukan hubungan layaknya seperti suami istri atau aku melakukan itu ke dalam. Udah ngerti, hm?"
"Hehehe.... Iya udah." sahut Rose terkekeh pelan dan sedikit lega.
Aksi pun berlanjut dengan memeluk dan menatap, tetapi kali ini keduanya juga sibuk merangkai sejumlah kata di isi di kepala masing masing.
Ini adalah kalimat yang ada di dalam hati Alex yang berisi harapan harapan baik. "Aku berharap kita bisa selama lamanya, Rose. Aku mau kamu yang menjadi pelabuhan terakhirku."
"Aku takut, Lex. Aku takut kita hanya sementara dan yang tertinggal hanyalah rasa sakit. Kamu punya segalanya, Lex. Kamu sempurna dan aku gak pantas buat kamu." Namun, tak sama dengan Rose, yang ternyata justru membatin hal lainnya. Ia memang gadis miskin dan tak punya, sehingga baginya tidak mungkin restu akan mudah mereka dapatkan nanti.
Cinta memang buta, tapi hidup tak mungkin berjalan mulus hanya dengan perasaan itu saja. Manusia butuh makan dan segala hal lainnya, membuat Rose benar menyadari jika dirinya memang tidak akan pernah pantas untuk bertanding dengan seorang Alexander Van Laode.
"Capek ya, sayang?" tanya Alex mengelus pipi mulus Rose.
"Em, iya. Aku kan gak pernah kayak gini, Lex. Jadi----"
"Ini tuh belum seberapa kali, Rose. Nanti kalau kamu sudah merasakan dan melakukan, rasanya akan lebih capek lagi, tapi lebih nikmat juga," potong Alex mengeratkan pelukannya.
Satu kerutan halus di kening datar Rose kelihatan dan itu akibat dari perkataan Alex itu.
"Lah, emangnya kamu udah pernah ngerasain? Kalo gitu kamu bohong dong sama aku? katanya kamu masih steril. Belum pernah melakukan hal begituan sama wanita manapun, lok kok tau rasanya bakal lebih capek tapi lebih nikmat?'' tanya Rose dengan wajah polosnya.
Skakmat!!!!
Alex yang mendengar pertanyaan Rose pun terpingkal seketika. Ia benar benar merasa lucu, tetapi bukan pada gadis itu, melainkan pada dirinya sendiri yang tampak terlihat bodoh di sana.
"Aku beneran belum pernah ngerasain kok, sayang. Cuma kan aku sering bangat tuh dari SMP nonton film begituan. Makanya aku bisa sampai kecanduan terus sering bayar cewek cewek buat melayani seperti biasa. Nah, disitu kan aku sering tuh nanya nanya sama cewek bayaran yang lebih tua dari pada aku dan mereka tuh ngejelasinnya begitu. Bahkan ada beberapa dari mereka untuk ngajak langsung gituan aja biar tau rasanya gimana, cuma ya kan aku takut kalau ternyata mereka itu penyakitan. Makanya bisa aku tahan sampai sekarang. Cuma----" jelas Alex terhenti.
"Cuma apa, Lex?'' tanya Rose dengan tatapan serius.
"Duh, apa ya? Kok jadi grogi gini. Aku mau bilang sih, cuma entah kenapa dari kemarin pengen bangat ngerasain gimana rasanya bercinta beneran, tapi sama Rose. Tapi bagaimana cara ngomongnya ya?" batin Alex terus menatap wajah cantik di depannya.
"Lex?''
"Hah?''
"Kamu ini kenapa kok dari tadi kayaknya ngelamun terus? Kalau aku ada salah, bilang aja. Aku kan jadi gak enak. Apalagi kamu sudah ijinkan aku tinggal disini, terus sebentar lagi aku bakalan kuliah, sama kamu juga udah janji kalau aku doang yang bakalan jadi cewek bayaran kam---"
"Apa kamu bilang? Cewek bayaran?! Aku gak mau kamu ngomong gitu lagi, Rose! Aku gak pernah anggap kamu sama seperti Tante Windi atau sejenisnya! Jadi awas aku dengar kamu ngomong gitu lagi. Bakal aku kasih hukuman biar kamu tahu bagaimana sakitnya dengar kata kata itu tadi!'' tegas Alex mengeraskan rahangnya seusai berkata kata.
Degh....
Sayangnya, mereka memang tidak memiliki ikatan apapun mengenai perasaan, dan tidak bisa dipungkiri bahwa di mata orang banyak, Rose tak ubahnya seperti Tante Windi. Seorang ****** yang menjajakan bagian tubuhnya untuk memberi rasa nikmat.
"Lex, tapi ini kenyataan. Bukannya kamu minta aku untuk bantuin si jun tiap hari agar kamu tidak sakit kepala? kamu kasih aku kartumu, kamu kasih aku tempat tinggal, terus juga kasih aku kesempatan buat kuliah lagi. Di mata orang lain, Aku itu cuma cewek bay-----Hemp! Lex---- Hemph!" ucap Rose tak selesai.
Alex tampak sangat murka mendengar bantahan dari mulut nikmat Rose, maka dengan itu ia dengan rakus ******* bibir seksi Rose yang menjadi candu untuknya. Namun, tubuh kekar sang CEO itu pun ikut bergerak.
Si jun bahkan kembali lagi dan lebih parahnya keberadaannya itu tepat di milik Rose.
"Argh, Lex! Hemph---- Alex, jangan!''
"Ini hukuman buat kamu, Rose! Kamu mau aku anggap kamu sebagai cewek bayaran kan?! Kalau gitu layani aku sekarang dengan punya kamu itu! Layani aku! Ugh!" teriak Alex juga membungkam bibir Rose.
Gadis itu memukul punggung Alex dengan keras, tetapi tetap saja tenaganya tidak sebanding dari tubuh kekar sang CEO yang harus menghukumnya tanpa ampun.
Alhasil, Rose pun terisak diantara ciuman paksa yang Alex berikan, hingga akhirnya kulit wajah pria itu ikut terkena derai air mata Rose.
"Egh! Rose, aku----"
"Lepas!!'' teriak Rose dan Alex terjatuh ke lantai.
"Auw! sakit, sayang!''
"Jangan panggil aku sayang! Pergi kamu dari sini! Pergi!" teriak Rose mundur perlahan dari atas tempat tidur.
"Rose, aku minta maaf. Aku kelepasan, sayang. Lagipula aku akan bertanggung-----"
Tok tok tok.....
"Bos, cepetan keluar Bos! Nyonya dalam perjalanan ke kantor, Bos. Gue di usir dari rumah , Bos!"
Tok tok tok tok.....
"Bos, nanti aja nambah anunya, Bos. Urgent ini! Bahaya bangat, Bos!'' Jhonny datang dan merusak segalanya.
"Sayang, please. Aku minta maaf ya? Aku khi---"
"Pergi, Lex! Tolong tinggalkan aku sendiri! Nanti kamu datang lagi kalau aku udah merasa baikan," lirih Rose menundukkan kepalanya.
Tok tok tok tok....
"Bos, gawat! Bos, Nyo-----"
"Brengsek! Diam, Jhonny! Iya, gue dengar aoa yang lo bilang! Tunggu di bawah aja. Gue masih siap siap dulu!''
"Gak mau, Bos! Gue takut tunggu di lobby, terus jadi sasaran nyonya lagi kalau ketangkep. Tunggu di sini aja, Bos!" sahut Jhonny membuat Alex semakin kesal.
"Pergi sekarang juga, Lex. Aku belum siap dimarahi mama kamu. Aku butuh uang biaya kuliahku. Jangan pikirkan aku. Aku ini hanya cewek matre yang rela kamu bayar demi sebuah harapan masa depan. Jadi tolong, anggap aku seperti pertama kali kita ketemu dulu. Anggap aku pelacur yang siap membuatmu puas. Titik!" ujar Rose berlari ke kamar mandi.
Oh, Sayang.....