
"Siap, Nyonya Alexander The Laode. Aku bakalan pelan pelan, tapi kita bikan kayak bersi cream pie games ya, Sayang?''
"Apaan tuh, Lex?'' sahut Rose sedikit bingung dengan istilah itu.
"Ck! Yang kayak semalam di film itu loh, Sayang. Pas si Jun udah mau out, terus aja aku pompa sampai out. Habis itu main lagi, out lagi. Main lagi, out lagi. Sampai out empat kali. Kan tadi si dedek udah empat kali juga toh? Jadi---"
"Alex? Kamu mau nyiksa aku? Aku gak mau kayak git--- hemph! Lex.... Hemph! Ough...." sanggah Rose tapi tercekat di tenggorokan akibat kelakuan Alex yang saat itu langsung menyerang bibirnya tiba tiba.
Rose benar benar lemas dibawah kungkungan tubuh kekar Alex yang bagu kebanyakan wanita sungguh sangat menggairahkan, akibat ulah laki laki itu sejak tadi. Sehingga ia hanya bisa pasrah saat ini, daripada harus memikirkan perbuatan apa lagi yang akan laki laki itu lakukan padanya nanti.
Sementara dari arah halaman vila, tuan Guen sudah berhasil memarkirkan mobilnya dan bersiap turun setelah Nyonya Milea memperbaiki gaunnya.
"Udah belum, Ma?''
"Ck! Bawel. Udah nih! Awas aja nanti kita pulang kamu naikin lagi bajuku, Guen! Kugigit tanganmu yang nakal itu!'' ketus Nyonya Milea dan Guen tertawa keras.
"Emang kenapa kalo nanti papa mau pegang lagi? Enggak boleh?''
"Iya, tapi kan papa lagi nyetir. Sambil nunduk nunduk gitu lagi tadi! Harusnya kalo mau dicolok ya colok aja kali. Ngapain pake acara nunduk nunduk segala?''
"Loh, kan papa mau lihat hole nya mama. Emang gak boleh?''
Blush......
Kini semakin merahlah pipi Nyonya Milea yang mendengar ucapan frontal tuan Guen.
"Udah, ah. Turun cepat! Lama lama di dalam mobil sama papa nanti mama tekor lagi disuruh main sama si Joni. Dasar papa sama si Joni kampret!'' ujar Nyonya Milea menunjuk ke area suaminya itu.
Tuan Guen pun terpingkal akibat tingkah Nyonya Milea, tetapi ia dengan cepat menahan tangan si wanita galak yang hendak membuka pintu mobil.
Cup!
"I love you so much, Milea.... Nanti pas pulang satu ronde lagi ya?''
"Guen! Cepat keluar!'' teriak Nyonya Milea sekali lagi.
Dengan uraian gelak tawa Guen The Laode pun turun dari mobil dan ia mengikuti langkah kaki Nyonya Milea yang sudah lebih dulu berjalan tergesa ke dalam vila.
"Loh, kok berhenti. Kenapa, Ma?''
"Kenapa? Telinga Papa budek ya? Dengar gak itu suara apa?'' ujar Nyonya Milea menunjuk ke dalam vila.
"Tuh kan, Mam. Dibilangin enggak dengar. Mereka itu emang hari ini jadwalnya pulang ke Jakarta. Jadi jam segini masih di puncak asmara dong. Apalagi hawanya dingin dingin gini," celetuk tuan Guen yang mulai memegang si Joni. "Ya, tegang teruslah bawaannya. Papa aja sepanjang jalan udah tegang parah, apalagi Alex yang ada di dekat vila gitu? Pasti---"
"Alah! Dasar kalian berdua bule mesum! Apalagi kamu sama si Jonimu itu! Udah tua malah makin kegatelan," gerutu Nyonya Milea tak habis habis. Ia lantas berbalik menuju ke arah mobil, tetapi lagi lagi tuan Guen mencekal lengannya seperti tadi.
"Apaan? Mama mau di mobil aja, Pap. Disini banyak nyamuk! Nanti darah mama habis diisap semua lagi! Lepasin, Pap!" Nyonya Milea mengatakan apa yang hendak ia lakukan, tetapi tuan Guen lebih dulu menyeretnya masuk ke dalam vila melalui pintu samping.
"Mendingan papa aja yang ngisap darah mama ya? Kan mama udah out tadi di jalan. Sekarang gantian. Oke?''
"Ogah! Lepasin! Aku gak---- Guen!" pekik Nyonya Milea terkejut, akibat tuan Guen yang menggendongnya tiba tiba.
Teriakan itupun terdengar oleh sepasang calon pengantin baru yang sedang asyik menikmati indahnya surga dunia, hingga membuat konsentrasi buyar seketika.
"Lex? Itu kan suara mama?!" ujar Rose disela desahannya.
"Aduh! Mati kita! Tahan dikit ya, sayang. Aku pompa agak keras soalnya udah mau out si Jun, nih. Ugh....." Namun, Alex tetap saja gak mau menghentikan gerakan olahraganya, akibat si Jun semakin merekah.
"Ough, Sayang.... Aku mau out, sayang..... Ach, Rose! Sialan, Rose! Ough!'' akhirnya ledakan dan teriakan pun terdengar begitu menggairahkan. Setelah kedua anak cucu adam itu segera membersihkan diri dan bergegas keluar dari kamar mereka.
"Ough, Guen! Sudah cukup! Hemph!" Namun, suara ******* Nyonya Milea yang terdengar di indera pendengaran membuat mereka saling berpandangan, dan terpingkal tanpa bisa di tahan lagi.
**********
"Berhenti cekikikan, Pap! Ini semua ulah kamu kan?" kesal Nyonya Milea setelah mereka keluar dari kamar tamu dalam vila tersebut.
"Alah, Mama sok jaim di depan Rose. Biasa aja kali, Ma. Teriakan mama tadi terdengar merdu kok," timpal Alex masih mengejek ibunya.
"Diam kamu, Lex! Mama itu mau marah sama kalian! Apa kalian berdua ini lupa sama tanggal pernikahan yang empat hari lagi digelar? Kok malah sibuk mesum disini sih?! Memangnya main tusuk tusukkan di rumah gak bisa? Ayo cepat kemasi barang kalian dan pulang sama mama! Nyebelin aja jadi anak! lama lama bisa mati cepat kalo kayak begini," sahut Nyonya Milea begitu menggelegar.
Namun Alex dan Guen tak kunjung menghentikan tawanya, akibat dari raut wajah Nyonya Milea yang terlihat semakin menggemaskan.
"Berhenti ketawa, Papa! Ayo kita cepat ke butiknya si Gun buat fitting baju. Perjalanan dari puncak ke jakarta tuh gak dekat kali! Jadi tunggu apalagi, kok gak cepetan ready malah sibuk ketawa aja?! Ayo bangun, Rose. Kita aka yang jalan kesana." ujar Nyonya Milea menarik tangan Rose.
Alhasil, ketiganya pun bergerak cepat mengikuti langkah Nyonya Milea, tapi Rose masih berniat masuk ke dalam kamar yang menjadi saksi kegiatan panas mereka tadi.
"Loh, kok masih masuk ke dalam sih, Rose? Cari apalagi?!'' suara nyaring memekik milik Nyonya Milea lagi lagi terdengar.
Namun, Rose tak menggubris, dan lebih bergegas masuk ke kamar untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di atas meja nakas. Tak sampai semenit ia kembali keluar dari kamar membawa benda berharga dengan bentuk sangat tipis dan pengakuan dari si wanita bibir seksi itu semakin membuat darah Nyonya Milea mendidih.
"Alex! Sudah berapa banyak duit mama yang kamu pake, hah?!" lalu mengamuk akibat kelancangan putranya.