I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 15



"Ape bangat malam ini! Udah si junior gue masih kencang belum nyembur, eh si mama bawel aja! Gemes lama lama gue sama mama! Argh!!!" rutuk Alex dalam hati.


Setibanya di luar gedung, mereka pun bertemu dengan Pak Toni, supir pribadi keluarga The Laode. Alex hendak melangkah menuju mobil sport miliknya, tetapi sang ibu cepat cepat menahan lengannya.


"Heh, mau kemana kamu, Lex? Kasih kunci mobilmu itu ke Pak Toni. Mama gak mau kamu ajak kebut kebutan pakai mobil sport! Biar kamu bawa mobil mama aja." seru sang ibu bertitah.


"Pak Toni, tukaran mobil sini!" lanjut sang ibu memanggil supir pribadinya dan hal tersebut membuat Alex kesal setengah mati.


"Ck! Apaan sih, Ma. Alex gak ngebut kok nanti! Lagian juga mama kenapa gak sama Pak Toni aja, sih? Nempel terus aja sama Alex. Kan, Alex juga butuh kebebasan, Ma. Alex ini anak mama, bukan suami mama!" gerutu Alex benar benar frustasi dengan sikap ibunya yang protektif.


"Udah berani kamu melawan omongan mama ya, Lex? Dasar anak nakal kamu tuh! Lagian, kenapa masih aja nanya alasannya kenapa kok mama nempel terus sama kamu, hm? Ya sudah, pasti jawabannya biar kamu gak kabur dong. Apalagi, huh?" balas ibunya tak kalah kesalnya. Ia tak habis pikir, mengapa bisa kini anak semata wayangnya berubah menjadi anak pembangkang.


"Alex ini beneran udah tidur loh tadi pas mama datang. Coba pas mama gedor gedor pintu terus tiba tiba aja jantung Alex bermasalah dan berhenti berfungsi kare----"


"Hus! Alex, kamu itu kalau ngomong jangan kayak gitu dong ah! Seenaknya aja bikang begitu. Kamu itu anak mama satu satunya. Terus kalau gak ada lagi gimana, hah? Dasar egois!" potong mamanya dengan mata yang sudah berkaca kaca akibat ucapan asal Alex beberapa saat lalu.


Merasa bersalah, akhirnya Alex pun luluh, Kembali merentangkan tangan dan memeluk tubuh ibunya.


''Maaf ya, Ma? Alex emosi bangat soalnya tadi. Habis mama nyebelin bangat, sih. Kayak gak pernah mau percaya aja gitu sama Alex. Padahal papa aja sampai ngasih semua urusan kantor ke Alex, bahkan segala akta kepemilikan udah direncanakan bakalan balik nama nanti pas Alex menikah. Ya, kan?"


Alex meminta maaf kepada ibunya seraya mengulang kembali kisah tentang putusan Tuan Guen The Laode yang ingin menurunkan tahta pada anak tunggalnya, dan hal itu sungguh membuat hatinya mencelos akibat satu kebenaran mutlak.


"Ya udah, Mama maafin. Mama lakukan semua itu ada sebabnya juga, ya kan, Lex? Mama mau kamu sehat jiwa dan raganya, gak kena penyakit kelamin yang sangat membahayakan. Lagian tuh ya, Mama pakai mobil baru kali. Bukan mobil yang kemarin kata kamu gak enak bangat persnellingnya. Tuh, lihat! Papa yang belikan." sahut ibu Alex panjang lebar, sebelum ia menunjuk ke arah Mercedez benz terbaru miliknya.


"Oh, jadi ini alasannya pengen pulang sama Alex? Karena mama udah punya mobil baru, gitu? Cih! gaya bangat si mama. Pantesan tadi Alex gak lihat pas mama di basemen kantor. Ternyata pakai mobil baru toh?" kekeh Alex pada akhirnya, padahal air matanya nyaris melompat keluar beberapa saat lalu, ketika mereka saling berpelukan.


Rasa hangat pun mengalir di dalam dada Alex dan kini ia pun sudah bisa sedikit tersenyum di sana. Meski begitu, tetap saja si junior masih menggeliat tanpa bisa diperintah untuk diam.


"Iya dong! Kamu pikir kamu aja yang pintar bohongin mama? Ya mama bisa dong sekali sekali." celetuk Milea membuat mereka bertiga terkekeh.


Alex pun pada akhirnya pasrah. Berbalik menuju mobil baru sang ibu, setelah sebelumnya ia sudah lebih dulu menyodorkan kunci mobil sport miliknya kepada pak Toni.


Selama di perjalan pulang, Alex tidak berbicara sepatah kata pun. Pikirannya hanya tertuju kepada wanita cantik Rose dan dirinya pun ingin buru buru sampai rumah untuk menghubungi gadis itu.


Brak!


Hal tersebut tanpa sengaja membuat suara keras terdengar di indera pendengaran tuan Guen yang sedang berjalan menuju ke arah sang istri dan ia pun melemparkan sebuah pertanyaan. "Kenapa itu si Alex, Mam?"


"Biasa, Ngambek karena mama suruh pulang. Padahal tadi udah baikan.Gak tau kok bisa emosian lagi tuh anak." jawab Milea memajukan bibirnya.


Tak urung, hal itu membuat pertanyaan kembali terlontar dari sang suami karena ia merasa belum puas dan juga penasaran. "Lah, memangnya tadi dia dimana kok sampai mama suruh dia pulang segala? Dia tidur di kantor ya, Mam?"


"Ck! si Alex bukan tidur di kantor, Pap. Dia tidur di apartemennya! Mama kan takut dia booking cewek bayaran lagi. Itulah makanya tadi mama ikutin dia dari pulang kantor." jelas sang istri membuat suaminya terkekeh geli dan hal tersebut berhasil membuat sang istri memasang wajah cemberutnya. "Kenapa papa malah ketawain mama? Senang ya mama sama Alex kayak kucing sama tikus gitu terus?" lanjutnya menggerutu.


"Hahaha.... Gak dong, Ma. Masa papa senang lihat kalian berdua marahan? Kan dua duanya kesayangan papa semua." terang tuan Guen.


"Lagian sih, Ma. Anak udah gede aja masih aja dikuntit gitu. Udahlah, Mam! Biarin aja tuh anak mau tidur di kantor kek, di apartemen kek. Terserah dia." sambungnya menenangkan sang istri, tetapi hal itu terasa jurang baik buat istrinya itu.


Dengan tegas Milea pun membeberkan semua argumen terbaik yang selama ini sudah tersimpan di dalam dirinya. "Tapi mama gak suka, Pa. Anak kamu itu suka booking cewek cewek gak jelas gitu. Nanti kalau keterusan sampai hamil gimana coba itu? Apa kata teman teman arisan mama? Masa mama punya menantu gak jelas asal usulnya? Terus kalau ternyata apes, ketemu sama cewek penyakitan, dan ketularan HIV gimana? Anak kita kan cuma satu aja, Pap! Mama gak mau hal mengerikan begitu terjadi dalam hidup Alex!"


"Ya, tapi Alex itu----"


"Ah! si papa memang selalu begitu! suka bangat belain Alex yang kelakuannya gak benar!" Suaminya itu kembali ingin memberikan pendapatnya dan tentu saja langsung dipotong oleh sang istri.


"Hahaha.... Bukan gitu, sayang. Papa cuma---"


"Cuma apa, hm? Bodoh amat sama si papa! Mama mau tidur di kamar sendirian aja! Papa tidur aja di kamar tamu!" Suaminya yang melontarkan tawa kerasnya di sana dan saat ingin menjawabnya kembali malah sang istri langsung menyelanya kembali.


Wanita paruh baya yang masih saja terlihat begitu menawan dan seksi di mata pasangan hidupnya itu berlalu pergi dengan sejumlah rasa kesal.


"Lah, Mam? tunggu dong, sayang! Masa papa tidur di kamar tamu sih!" Nanti kalau pap---"


Brak!