I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 44



"Rose!'' teriak Alex tergesa gesa, "Loh, Sayang!'' lalu matanya melihat dua pintu balkon kamar yang terbuka lebar.


Seribu langkahnya menuju ke sana dan kiamat itu hampir datang padanya. "Rose, jangan gila!''


Segera saja tubuh kekarnya memeluk Rose dari belakang, dan tangis Alex pecah dengan wajah yang tertempel di punggung telanjang sang kekasih.


"Jangan tinggalkan akku, sayang. Jangan coba lakukan hal gila ini!'' isaknya. "Ayo kita ketemu sama mama dan papa sekarang, sayang. Jangan hilangkan nyawamu, karena nanti aku harus cari kamu kemana? Kita akan menikah, Sayang. Aku janji kita bakal menikah secepatnya. Jangan, Rose! Jangan!''


Rose kian terisak dan pasrah ketika Alex mengangkatnya menuju ke dalam kamar kembali. Bujukan iblis memang nyaris membuat wanita berumur dua puluh satu tahun itu berpikiran pendek, hingga ingin menghilangkan nyawanya dengan cara melompat balkon. Namun, takdir memang belum menghendaki itu terjadi.


"Sayang.... Katakan sesuatu. Tolong jangan diam aja. Kamu mau kita menikah kan? Ayo kita ketemu Mama. Ayo kita nikah secepatnya. Aku gak akan takut apapun kali ini." lagi lagi Alex menyakinkan, tapi Rose tetap aja diam tanpa mau berkata sepatah kata pun.


#######


"Sayang, kita mau singgah dulu gak, Aku lapar nih. Kamu---"


"Aku gak lapar. Nanti aja makannya! Aku udah gak sabar nunggu jawaban apa yang bakalan kamu bilang di depan Mama kamu. Kamu bakalan pilih aku atau pilih har----"


Cittttt......


Pedal rem dari mobil sport milik sang CEO pun diinjak dengan tiba tiba, hingga membuat tubuh Rose sontak maju ke depan.


"Aku gak suka kamu ngomong kayak gitu ya, Rose! Aku ini pria sejati, bahkan kamu tahu jika apa yang baru kita lakukan itu adalah hal pertama dalam hidupku. Kalau aku bilang A, maka aku akan ngelakuin A. Jadi buang pikiran kotor kamu itu sekarang, karena kalau sampai kita sudah menikah dan kamu terus bersikap seperti ini? Aku gak jamin hubungan kita bakalan panjang sampai kita menua nanti!''


Sekakmat!


Rose bergeming, tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia bahkan merasa seperti habis disiram seember air es dan setelah itu Alex kembali menjalankan mobilnya.


Alex bahkan merasa kenyang seketika, dan begitulah seterusnya sampai mereka tiba di depan pintu pagar rumah mewah milik keluarga Alexander The Laode.


"Sayang, kamu yak----"


"Turun sekarang! Biarin aja mobil kamu parkirnya disini, gak udah masuk ke dalam!''


"Loh, kok gitu?'' tanya Alex dan Rose keluar dari mobil tanpa mau mendengarkan lebih dulu penjelasan kekasihnya.


"Kenapa sih, dia jadi emosian? Heran deh! Resek aja. Nyebelin kan jadinya," kesel Alex dalam hati, "Untung cinta mati, kalo gak? Udah ilfil gue. Nasib nasib.... Cewek kalau udah ngambek rasanya pengen nyebur ke lau aja gue."


Lagi lagi Alex menggerutu, tetapi Rose tidak mau ambil pusing, selain terus berjalan masuk ke dalam rumah setelah pintu pagar dibuka oleh seorang satpam.


Sejujurnya Rose sangat tidak ingin bersikap jutek pada Alex sedari mereka masih di apartemen tadi, tetapi baginya hal tersebut terpaksa harus ia lakukan karena rencana bunuh dirinya gagal terlaksana. Alhasil, senjata lain pun harus ia kumpulkan untuk menguatkan diri, maka inilah pilihan yang diambil oleh wanita berbibir seksi nan tebal itu.


"Maaf, Lex. Aku berusaha agar kuat menghadapi apa yang beberapa menit nanti akan kuterima. Kamu memang seorang pria sejati. Kamu juga menjadikan aku yang pertama dalam hidupmu begitu pula denganku. Tapi kamu melupakan sesuatu, Lex. Kamu lupa jika sejak dalam kandungan, hidupmu sudah sangat berkecukupan. Kami juga selalu bilang jika Mama dan Papamu akan mencoret namamu sebagai ahli waris utama dari surat warisan mereka bukan? Apa kamu masih yakin bersedia hidup denganku yang melarat ini? Aku tidak, Lex. Aku tidak bisa yakin jika kamu bisa terus bertahan bersamaku dalam lingkaran kemiskinan." demikianlah rentetan suara hati Rose yang menjelaskan kenapa ia bersikap ketus pada Alex.


Sayangnya, Alex tidak tahu, karena memang Rose terus menutupi kekhawatiran hatinya di sana.


"Iya, sabar! Jalannya susah ini. Kamu pikir orang habis pecah perawan gak nyeri itunya? sakit tahu!" ketus Rose disela kegugupannya.


Oh, Tuhan. Alasan macam apa itu. Rose benar benar menjaga totalitas dalam memainkan peran wanita judesnya di sana. Sehingga hal itu semakin membuat Alex geram, hingga sang CEO pun segera mengambil inisiatif yang benar benar di luar ekspektasi kekasihnya.


"Argh! Astaga, Alex! Turunin! turun... ini memalukan!''


"Peduli setan! Emang gue pikirin? Kan kamu yabg bilang kakimu sakit dipakai jalan karena masih perih si Dedek. Gitu kan maksudnya? Ya udah aku gendong aja, kenapa? Gak boleh aku gendong calon istri dan ibu dari anak anakku?''


Yuhu..... Alex benar benar menghancurkan semua rencana kejutekan Rose, karena kini pipi si wanita cantik itu sudah memerah seperti buah tomat yang masak di kebun pak Tani.


"Aku mencintaimu, Rose. Tolong jangan berpikir untuk pergi dariku, dengan sikap aneh yang kau tunjukkan sejak tadi!'' bahkan tebakan Alex tepat sasaran dan membuat Rose semakin menegang di gendongannya.


Mau tak mau Rose hanya bisa menghembus satu nafas kasar dari lubang hidungnya, sembari pasrah dengan kenyataan yang akan terjadi di depan mata.


Alex membawa Rose masuk saat seorang asisten rumah tangga membukakan pintu mereka, dan langsung berjalan menuju ruang tamu.


"Mama sama Papa dimana, Mbak?" tanya Alex pada asisten rumah tangga.


"Ada di atas, Den. Tunggu Mbak pang----"


"Gak usah, Mbak. Bikin minum, kasih pacarku aja. Habis itu temenin dulu sebentar disini ya? Biar aku panggil sendiri keatas." potong Alex mengecup pucuk kepala Rose. "Tungguin ya, sayang?''


"Iya. Aku gak apa apa kok." Alex pun melangkah cepat menuju lantai atas, guna mencari keberadaan orang tuanya.


"Aduh.... Deg deg an aku!'' dan itulah yang Rose rasakan saat itu.


"Pindah ke depan TV aja yuk, Non. Disini agak panas mungkin. Biar nanti Mbak bikinin jus sambil ngadem nonton tv. Pas juga jam segini ada sinetron kesukaan Mbak itu loh, Non. Ayo," ujar Mbak Suri menarik tangan Rose dan mau tak mau mereka melangkah menuju ruang keluarga.


Sementara itu Alex sudah berada di dalam ruang kerja sang Ayah, dan sudah mencium pipi kedua orang tuanya.


"Kamu ada meeting kenapa pulang sih, Lex? Kan tiga hari rencananya."


"Meeting gak jadi di Bali, Mam. Tapi pindah ke Jakarta dan itu belum tahu kapan karena Ibu yang punya perusahaan itu anfal. Jadi di gotong kemari." jawab Alex membuat Guen The Laode terkejut dengan celotehan anaknya.


"Apanya yang di gotong?''


"Ck! Orang sakitnya lah, Pap."


"Iya, tapi kok di gotong?" Guen si bule Spanyol, masih saja bingung dengan bahasa yang digunakan istri dan anaknya.


"Astag! Di terbangkan ke Jakarta Mr. Guen The Laode. Gotong is dibawa. Bahasa asalnya anakmu kan? Masa gak tau sih, ampun deh."


Good! Pembicaraan pun mulai beberapa candaan terlebih dahulu.