I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 72



"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" Guen bertanya, saat dokter lelaki itu baru saja keluar dari ruangan tempat Alex di rawat.


"Sudah sadar dan mari ikut saya ke dalam saja, Pak. Anak bapak langsung menyebutkan nama Rose saat sadar tadi, jadi saya bingung mau menjawab apa," kekeh sang dokter dan mereka berdua masuk ke dalam.


"Pap, Rose...."


Benar saja, Alex kembali bertanya keberadaan Rose saat tuan Guen tiba disebelah kanan brankar besi yang memuat tubuh kesakitannya.


"Mama sudah menjemputnya di Solo, Lex. Kamu tenang aja. Jangan banyak bertanya dan berpikir yang tidak tidak dan dengarkan penjelasan papa ini, Oke?" sahut tuan Guen menampilkan mimik wajah seriusnya.


Alex yang masih ingin bertanya pun bungkam seketika. Kemudian dengan persetujuan dokter, maka tuan Guen pun menceritakan secara detail tentang keberadaan Rose. Ia juga menjelaskan keinginannya dan berharap sang putra berkenan membantunya memberi efek jera pada ibunya.


Namun, ada hal yang benar benar Alex tidak bisa sembunyikan, ketika di ujung cerita Tuan Guen bahwa tujuan Nyonya Milea ke Solo karena ibunya itu menginginkan bayi dalam kandungan Rose.


"Papa bohong kan?!'' pekiknya berusaha untuk bangun tetapi punggungnya terasa sakit dan ia berteriak.


"Anda belum bisa bergerak sesuka hati, Pak Alex. Tolong mengertilah dengan kondisi punggung belakang anda, karena ini salah anda sendiri yang mengemudi tidak menggunakan sabuk pengaman dan berkendara di atas kecepatan rata rata. Anda paham?'' tegas sang dokter.


"Maaf, Dok. Tapi saya benar benar terkejut tadi."


"Loh, kamu kan yang bikang Rose hamil? Kok malah jadi kaget kayak lihat setan gini? Memangnya ada yang aneh, Lex?" bingung tuan Guen, dan Alex pun akhirnya bercerita jujur tentang kebohongannya itu.


Di ujung cerita, pria dua puluh lima tahun itu bahkan meminta sang ayah untuk diyakinkan sekali lagi dan tuan Guen pun menarik keras batang hidung Alex.


"Auw!''


"Ini tidak mimpi, Lex. Kamu sudah berhasil menghamili kekasihmu, jadi sekarang selamat berjuang untuk segera sembuh. Papa akan buatkan pesat besar untuk pernikahan kalian!'' semangat Tuan Guen yang langsung diberi dua titik air mata oleh Alexander The Laode.


"Makasih, Pap. Alex janji bakalan dengerin nasehat papa nanti."


"Benar ya? Papa pegang kata katamu dak dokter ini yang jadi saksi kalo kamu coba membangkang lagi," kekeh tuan Guen dan dokter beda itu pun terkekeh.


*********


"Kita harus segera keluar dari rumah sakit ini, karena saya ingin kembali ke Jakarta. Kamu makan dan minum obatnya dong, Rose. Dari tadi kamu muntah terus, tapi gak mau makan! Kamu ini mau ketemu Alex gak sih?'' akhirnya kekesalan Nyonya Milea tak bisa ia bendung.


"Sa....saya.... Saya minta maaf, Bu." lirih Rose dengan tangan bergetar mengambil gelas yang disodorkan Nyonya Milea.


"Kamu sebenarnya mau makan apa? Ini di rumah sakit dan emang makannya pasti bubur kayak gini." suara Nyonya Milea kembali lembut. "Masalahnya saya ini gak tau jalanan kota Solo secara detail. Saya memang orang Surabaya dan lahir di sana, tapi saya besarnya di Jakarta. Kalo saya tinggal untuk beli makanan yang mau kamu makan terus kamu kabur, bagaimana? Saya juga kan yabg repot! Alex bisa ikut kabur lagi dari rumah gara gara kamu dan cucu saya kamu bawa lari juga. Jadi kamu makan aja dulu ini, nanti kalo dokternya datang lain, saya bayar aja dia biar bisa kasih kamu keluar dari sini. Mau kan?'' ujar Nyonya Milea mengambil gelas berisi air putih, lalu menyodorkan satu sendok bubur sayuran itu ke hadapan Rose.


"Huek huek huek!''


"Haduh..... Ampun, Gusti! Apa ini toh?! Kan sudah di bilang jangan muntah! Kamu kok masih ngeyel aja sih, Rose! Kena tangan saya nih! Bikin eneg aja kamu itu, huh!" gerutu Nyonya Milea berlari ke kamar mandi.


"Maaf, Bu....." Rose hanya bisa bermonolog sendiri, di tengah tangan yang menyeka mulutnya menggunakan beberapa lembar tissue.


"Udah, kamu disini aja dulu. Saya ketemu Dokter yang periksa kamu subuh tadi deh, Masa dari subuh gak ada lagi jadwal pemeriksaan gitu! Rumah sakit macam ini?! Pindah ke kamar VVIP juga pada penuh semua. Terpaksa kita di kelas dua ini. Untung belum ada pasien yang tidur di ranjang sebelah! Parah bangat!" lalu Nyonya Milea pun keluar dari ruangan tersebut.


Tujuannya adalah mencari dokter untuk meminta ijin agar bisa segera pulang, dan usaha wanita paruh baya itu ternyata berhasil setelah empat puluh menit berbasa basi di ruangan dokter.


"Apa kubilang! Mana ada orang hidup di dunia ini gak mau duit. Dasar Dokter matre!" kekehnya membuka pintu kelas dua, tempat Rose di rawat.


Namun, matanya hampir terpelocok keluar, ketika objek yang dia usahakan sudah tak ada lagi di tempat tidur.


"Loh, Rose?! Astaga! Di mana anak itu!" histerisnya, berlari ke kamar mandi, ''Loh, gak ada juga! Haduh..... Mati aku! Kemana lagi anak ini sih! Rose...." teriak Nyonya Milea hingga membuat beberapa perawat yabg bersiap memeriksa kamar tersebut pun berlarian menghampiri.


"Ada apa, Bu? Katanya mau pulang sekarang. Kok malah teriak teriak?" sinis perawat bertubuh gempal.


"Calon mantu saya, Sus! Calon mantu saya ini loh! Apa suster ngeliat dia lari kemana tadi?" tanya Nyonya Milea dengan tubuhnya yang benar benar lemas seperti tak bertulang.


"Loh! Tadi kan sama ibu di dalam sini! Kok bisa hilang? Kalo gitu cepat hubungi Pak Satpam depan aja, Neng! Jangan jangan kabur beneran lagi!" pekik si perawat gempal, menyuruh perawat muda yang dayang bersamanya.


Alhasil perawat muda itu pun berlari keluar, dengan tujuan pos satpam di depan rumah sakit tersebut.


Sementara itu, Nyonya Milea dan beberapa petugas medis sudah berpencar mencari Rose ke seluruh penjuru rumah sakit, hingga setengah jam pun berlalu tanpa ada hasil apa apa.


Akan tetapi, saat Nyonya Milea melintas di depan kantin rumah sakit, kedua bola matanya sekali lagi harus dibuat terbelalak, karena ia melihat Rose sedang sibuk menghabiskan mie instan dalam kemasan cup, entah untuk yang ke berapa kalinya.


"Kamu ini saya cari dari tadi malah ada disini! Makan pop mie lagi segini banyaknya! Sudah berapa ini yang kamu habiskan, heh? Dapat duit darimana buat bayarnya, kalo saya gak kesini?!" kesal Nyonya Milea mendaratkan bokongnya di kursi panjang yang Rose duduki.


"Baru makan delapan aja kok, Bu. Biasa ibu hamil maunya yang aneh aneh, Bu. Tadi juga sudah bilang kok, nanti saya disuruh ikut sama mbak cantik ke kamar rawat inap buat minta uang makannya," sahut si ibu kantin penjual kie instan dalam kemasan cup.


"Ya sudah! Kalo gitu kamu habisin yang di tanganmu itu sekarang! Ngidam kok makan pop mie. Mana ada gizinya! Aneh aneh aja. Jadi berapa ini semuanya, Mbak?" kesal Nyonya Milea bangkit berdiri dan menghampiri meja si penjual.


Rose sebenarnya merasa bersalah, tetapi ia terus saja melahap mie instan tersebut tanpa peduli dengan kekesalan Nyonya Milea dan setelah selesai, ia diseret paksa oleh calon mertuanya itu ke kamar rawat inap untuk bersiap siap kembali ke Jakarta.